![]() |
| Garda Revolusi Iran memperlihatkan tiga rudal meluncur di udara dari lokasi yang dirahasiakan pada 9 Juli 2008. Foto: AFP / Sepah News |
TEHERAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk sebagai respons atas serangan udara Washington ke wilayah Iran.
Dalam pernyataannya pada Sabtu (27/6/2026), IRGC menyebut serangan tersebut merupakan balasan langsung atas operasi militer Amerika Serikat yang sebelumnya menghantam sejumlah fasilitas strategis di Iran.
"Jika agresi tersebut terulang, tanggapan kami akan lebih luas daripada ini," tegas IRGC, seperti dikutip AFP.
Eskalasi terbaru terjadi setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) pada Jumat (26/6/2026) melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Washington mengklaim operasi itu dilakukan sebagai respons atas dugaan serangan terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Dalam keterangannya, CENTCOM menyebut pesawat tempur Amerika menyerang lokasi penyimpanan rudal, gudang drone, serta fasilitas radar di kawasan pesisir Iran.
"Sebuah pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, serta fasilitas radar di pesisir pantai," demikian pernyataan CENTCOM yang dikutip Anadolu.
Seorang pejabat senior Amerika Serikat juga menyatakan bahwa enam pesawat tempur AS menyerang empat sasaran di sepanjang pesisir Iran, termasuk wilayah yang berbatasan dengan Selat Hormuz dan Pulau Qeshm.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan operasi militer tersebut dipicu oleh dugaan serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Menurutnya, Iran meluncurkan sedikitnya empat drone tempur ke arah kapal sipil.
Trump mengklaim pasukan Amerika berhasil mencegat tiga drone, sementara satu drone lainnya menghantam sebuah kapal kargo hingga menyebabkan kerusakan.
Melalui akun media sosial Truth Social, Trump menyebut tindakan Iran sebagai "pelanggaran bodoh" terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah dicapai.
Pernyataan senada disampaikan Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance. Ia menegaskan bahwa setiap aksi kekerasan dari Iran akan mendapat respons yang setimpal.
"Iran telah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Kami telah menghormatinya. Jika mereka memiliki perbedaan pendapat mengenai penerapan nota kesepahaman (MoU), mereka dapat menghubungi kami melalui telepon," tulis Vance melalui media sosial.
Sementara itu, pada Kamis (25/6/2026), Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal kargo terkena proyektil tak dikenal saat berlayar di lepas pantai Oman.
Insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun mengakibatkan kerusakan pada bagian anjungan kapal.
Peristiwa tersebut semakin meningkatkan ketegangan di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Saling serang antara Iran dan Amerika Serikat kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat internasional terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah serta dampaknya terhadap stabilitas keamanan dan perdagangan energi global.[]
