![]() |
| Jamaah haji Kloter BTJ 8 Aceh berfoto bersama saat mengunjungi Kompleks Percetakan Al-Qur'an Raja Fahd di Madinah, Kamis (18/6/2026).Foto: (Khalid Wardana). |
MADINAH – Menjelang kepulangan ke Tanah Air, jamaah haji Kloter BTJ 8 Aceh mendapat kesempatan istimewa mengunjungi Kompleks Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd (Majma’ Malik Fahd Li Thiba’at al-Mushaf asy-Syarif) di Madinah, Kamis (18/6/2026).
Kunjungan tersebut disambut antusias oleh para jamaah. Raut syukur dan kebahagiaan tampak menghiasi wajah para tamu Allah yang berkesempatan melihat secara langsung proses pencetakan kitab suci Al-Qur’an di percetakan terbesar di dunia itu.
Kompleks percetakan yang berjarak sekitar 11 kilometer dari Masjid Nabawi tersebut memiliki luas sekitar 250 ribu meter persegi dan mampu mencetak jutaan mushaf Al-Qur’an setiap tahun untuk didistribusikan ke berbagai negara.
Di bawah koordinasi Ketua Kloter BTJ 8 Aceh, H. Khalid Wardana, para jamaah diajak berkeliling area percetakan.
Mereka melihat berbagai jenis dan ukuran mushaf Al-Qur’an yang dipamerkan di ruang pamer pengunjung, sebelum menyaksikan langsung proses produksi dari lantai dua gedung percetakan.
Dari area tersebut, jamaah dapat melihat ribuan mushaf yang tersusun rapi serta mesin-mesin percetakan berkapasitas besar yang terus beroperasi mencetak Al-Qur’an.
Salah seorang jamaah, Siti Tiara, mengaku sangat terkesan dengan pengalaman tersebut. Menurutnya, melihat langsung proses pencetakan Al-Qur’an menjadi momen yang sangat berharga selama menjalankan ibadah haji.
“Saya sangat tergugah bisa melihat langsung bagaimana Al-Qur’an dicetak. Di sini juga tersedia loket penjualan mushaf dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan di sekitar Masjid Nabawi,” ujarnya.
Setiap pengunjung juga memperoleh satu mushaf Al-Qur’an dan satu Juz Amma secara gratis. Selain itu, banyak jamaah Aceh memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membeli mushaf tambahan sebagai oleh-oleh spiritual maupun untuk diwakafkan kepada masjid dan dayah di kampung halaman.
Jamaah lainnya, Muhammad Waled, menyebut kunjungan itu sebagai pengalaman langka yang belum tentu dapat terulang kembali.
“Ini momen yang sangat berharga karena belum tentu kita bisa kembali ke Kota Nabi untuk melihat langsung percetakan Al-Qur’an dan berbagai lokasi ziarah lainnya,” katanya.
Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd diketahui beroperasi selama 24 jam dengan dukungan lebih dari seribu tenaga kerja dan teknologi percetakan modern.
Setiap tahunnya, percetakan ini mampu memproduksi sekitar 18 juta eksemplar Al-Qur’an yang didistribusikan ke berbagai belahan dunia dalam puluhan bahasa, termasuk versi Braille bagi penyandang tunanetra serta terjemahan bahasa isyarat.
Usai mengunjungi percetakan Al-Qur’an, jamaah BTJ 8 Aceh melanjutkan perjalanan menuju Jabal Magnet, salah satu destinasi yang terkenal dengan fenomena alam unik di kawasan Wadi Al-Baida, sekitar 30 menit dari pusat Kota Madinah.
Lokasi tersebut dikenal luas karena fenomena yang kerap disebut sebagai “jalan magnet”, yakni kondisi di mana kendaraan pada titik tertentu tampak bergerak sendiri meski mesin dimatikan atau posisi transmisi dinetralkan.
Para jamaah pun merasakan langsung pengalaman tersebut saat bus yang mereka tumpangi tetap bergerak pada jalur tertentu tanpa dorongan mesin.
Tenaga PHD Kloter 8, Nazaruddin, Lc., mengatakan bahwa fenomena tersebut dapat menjadi sarana refleksi dan tadabbur alam bagi umat Islam.
“Bagi kita, fenomena alam seperti ini menjadi pengingat akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta merupakan tanda-tanda yang dapat memperkuat keimanan dan rasa syukur kepada-Nya,” ujarnya.
Kunjungan ke Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd dan Jabal Magnet menjadi salah satu pengalaman paling berkesan bagi jamaah BTJ 8 Aceh selama berada di Madinah, sekaligus menambah wawasan dan memperkuat nilai spiritual sebelum kembali ke Indonesia. (*)
