![]() |
| Ilustrasi perbankan. Foto: Google |
JAKARTA – Kinerja industri perbankan nasional menghadapi tantangan baru di tengah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75 persen.
Alih-alih meningkat, imbal hasil (yield) kredit sejumlah bank besar justru mengalami penurunan, sehingga menambah tekanan terhadap profitabilitas perbankan.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2026, tren penurunan yield kredit terjadi pada hampir seluruh bank besar.
PT Bank Mandiri Tbk mencatat yield kredit turun menjadi 7,11 persen dari 7,64 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga mengalami penurunan dari 12,9 persen menjadi 12,2 persen.
Seperti dilansir dari Kontan.co.id Kondisi serupa terjadi di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI). Yield kredit BNI turun menjadi 6,9 persen dari sebelumnya 7,4 persen.
Penurunan paling signifikan terjadi pada segmen kredit menengah yang merosot dari 8,2 persen menjadi 7,2 persen. Sementara itu, yield kredit dalam rupiah maupun valuta asing juga sama-sama mengalami penurunan.
Di kelompok bank swasta, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan pergerakan yield kredit ke depan akan sangat dipengaruhi kondisi pasar, permintaan kredit, likuiditas, BI Rate, serta perkembangan suku bunga surat utang negara. Meski demikian, BCA menilai yield kreditnya masih berada pada level yang relatif stabil.
Sementara itu, PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat yield kredit turun dari 8,35 persen menjadi 7,65 persen.
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menjelaskan bahwa penurunan tersebut dipicu perubahan komposisi penyaluran kredit yang kini lebih banyak mengalir ke segmen korporasi dibandingkan ritel dan UMKM yang selama ini memberikan margin lebih tinggi.
Menurut Lani, lemahnya daya beli masyarakat menyebabkan permintaan kredit ritel belum pulih. Akibatnya, pertumbuhan kredit lebih banyak ditopang oleh sektor korporasi yang secara alami memiliki tingkat imbal hasil lebih rendah.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai penurunan yield kredit tidak hanya dipengaruhi kebijakan suku bunga Bank Indonesia, tetapi juga lemahnya permintaan pembiayaan dari dunia usaha. Banyak pelaku bisnis masih menunda ekspansi sambil menunggu kepastian kondisi ekonomi.
Ia menambahkan, kelompok bank milik negara (Himbara) menghadapi tekanan lebih besar karena turut menyalurkan berbagai program kredit bersubsidi pemerintah yang memiliki tingkat bunga lebih rendah dibandingkan kredit komersial.
Menurut Yusuf, kenaikan BI Rate menjadi 5,75 persen belum tentu langsung meningkatkan margin keuntungan bank.
Sebab, bunga simpanan umumnya naik lebih cepat dibandingkan bunga kredit sehingga biaya dana (cost of fund) ikut meningkat.
Dengan kondisi tersebut, industri perbankan diperkirakan masih akan menghadapi tekanan terhadap profitabilitas dalam beberapa waktu ke depan.
Meskipun kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan yield kredit, lemahnya permintaan pembiayaan dan meningkatnya biaya dana diperkirakan masih akan membatasi pertumbuhan laba perbankan.[]
