Belu – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) secara resmi membuka Festival Fulan Fehan IV yang digelar di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pembukaan festival ditandai dengan pemukulan tihar, alat musik tradisional khas Belu, sebagai simbol dimulainya rangkaian kegiatan budaya tersebut.
Festival yang berlangsung di hamparan Padang Savana Fulan Fehan ini dibuka dengan pertunjukan tarian kolosal bertema "Dance for Friendship", yang menggambarkan persahabatan antara Indonesia dan Timor-Leste.
Penampilan tersebut melibatkan empat suku yang bersatu dalam sebuah harmoni budaya, mencerminkan semangat persatuan dan persahabatan lintas bangsa.
Dalam sambutannya, Mendagri mengungkapkan kekagumannya terhadap keindahan alam Fulan Fehan yang dikelilingi perbukitan dan Gunung Lakaan.
"Di tempat yang tidak dibangun oleh manusia ini, kita menyaksikan hamparan padang savana yang indah, perbukitan, udara yang sejuk, serta panorama alam yang merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa bagi masyarakat Belu, Nusa Tenggara Timur, dan Indonesia," ujarnya.
Mendagri menilai Festival Fulan Fehan bukan sekadar pergelaran seni dan budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat persahabatan, baik antarsuku maupun antarnegara.
Mengutip sebuah ungkapan, ia mengatakan, "One thousand friends are not enough, one enemy is already too many." Menurutnya, filosofi tersebut tercermin dalam kolaborasi empat suku yang tampil bersama sebagai simbol persatuan dan persahabatan.
Kehadiran peserta dan tamu dari Timor-Leste serta Australia semakin memperkuat semangat kerja sama dan hubungan baik antarnegara melalui jalur seni dan budaya.
Festival ini diharapkan menjadi ruang yang mampu mempererat hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangga, khususnya di kawasan perbatasan.
Mendagri berharap Festival Fulan Fehan terus berkembang sebagai agenda budaya unggulan yang tidak hanya menghibur masyarakat, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi para wisatawan serta mendorong promosi pariwisata dan pelestarian budaya lokal di Kabupaten Belu.
Festival Fulan Fehan IV menjadi salah satu wujud komitmen pemerintah dalam mengangkat potensi budaya dan keindahan alam kawasan perbatasan sebagai daya tarik wisata sekaligus memperkuat persahabatan antarbangsa.[]
