Bogor – Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an (PPTQ) Baiturrahman Vilanpuri, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, saat Muhammad Habiburrahman bin Dedy Tabrani atau akrab disapa Habibi berhasil menyelesaikan Tasmi' Al-Qur'an 30 Juz Bil Ghaib.
Tasmi' merupakan ujian hafalan Al-Qur'an dengan memperdengarkan hafalan 30 juz tanpa melihat mushaf di hadapan para musyrif, asatiz, dan penyimak sebagai bukti kemantapan hafalan.
Prosesi tasmi' berlangsung selama dua hari, 27–28 Juni 2026, di Masjid Baiturrahman, Vila Nusa Indah 2 Blok U, Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
Pada hari pertama, Sabtu (27/6), Habibi menyetorkan hafalan lima juz mulai pukul 20.30 WIB hingga selesai. Keesokan harinya, Minggu (28/6) dini hari, ia melanjutkan lima juz berikutnya sejak pukul 03.00 WIB.
Puncak tasmi' berlangsung mulai pukul 05.30 WIB hingga sekitar pukul 15.00 WIB dengan memperdengarkan 20 juz terakhir secara berkesinambungan.
Selama prosesi, Habibi membacakan seluruh hafalan Al-Qur'an tanpa melihat mushaf. Ia didampingi kedua orang tuanya, kakak, adik, serta neneknya yang datang dari Aceh untuk memberikan dukungan secara langsung.
Keberhasilan tersebut merupakan buah dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan. Pada 2 Juli 2019, saat masih duduk di bangku kelas V sekolah dasar, Habibi bersama kakaknya berangkat ke Balik Pulau, Penang, Malaysia, untuk menempuh pendidikan tahfiz.
Keputusan kedua orang tuanya saat itu tidak mudah. Sang ibu, Marlisa Dedy Tabrani, mengaku keluarganya sempat menerima cibiran dan tudingan karena mengirim anak belajar jauh ke luar negeri.
Namun, mereka tetap teguh dengan keyakinan bahwa setiap pengorbanan di jalan Al-Qur'an akan membuahkan hasil yang baik.
Selama berada di Malaysia, keluarga hanya dapat memantau perkembangan Habibi melalui foto-foto yang dikirim para ustaz.
Momen pertemuan pertama setelah sekian lama berpisah menjadi pengalaman yang sangat mengharukan. Saat sang ibu kembali ke Indonesia usai menjenguknya, Habibi kecil menangis selama beberapa hari karena harus kembali berpisah.
Pada akhir 2019, Habibi sempat pulang ke Indonesia untuk libur sekolah. Namun, pandemi COVID-19 yang melanda dunia membuatnya tidak dapat kembali ke Malaysia akibat kebijakan pembatasan perjalanan.
Setelah sekitar delapan bulan tertunda, Habibi bersama kakaknya melanjutkan pendidikan di sejumlah pesantren di Aceh.
Habibi kemudian menempuh pendidikan di sebuah pesantren di Blang Bintang, sementara kakaknya melanjutkan pendidikan di kawasan Lhoknga, Aceh Besar.
Sekitar setahun kemudian, keduanya kembali melanjutkan pendidikan di pesantren kawasan Cibubur, Jawa Barat.
Di pesantren tersebut, Habibi kembali fokus memperkuat hafalan Al-Qur'an. Meski sempat ingin berhenti saat duduk di kelas IX SMP, ia akhirnya kembali mengikuti program Syahadah Al-Qur'an di Bogor.
Melalui proses murojaah dan pembinaan intensif, ia berhasil memantapkan hafalannya hingga dinyatakan siap mengikuti Tasmi' 30 Juz Bil Ghaib.
Kini Habibi tercatat sebagai siswa kelas XI atau setara kelas II SMA. Meski sempat mengalami kendala administrasi penyetaraan pendidikan akibat perpindahan dari Malaysia ke Indonesia, semangatnya untuk menjaga Al-Qur'an tidak pernah surut.
Bagi sang ibu, keberhasilan putranya bukan sekadar prestasi akademik, melainkan buah dari perjuangan, doa, serta pengorbanan keluarga selama bertahun-tahun.
"Apakah saya tidak boleh bangga memiliki anak penghafal Al-Qur'an? Hari ini saya merayakan kemenangan saya. Saya ingin merayakannya sebagaimana orang lain merayakan keberhasilan besar dalam hidupnya," ujar Marlisa Dedy Tabrani dengan mata berkaca-kaca.
Ia bersama suaminya, Dedy Tabrani, berharap keberhasilan tersebut menjadi awal perjalanan Habibi untuk terus menjaga dan mengamalkan Al-Qur'an sepanjang hayat.
"Kami tidak menuntut Habibi menjadi orang terkenal atau memiliki jabatan tinggi. Harapan kami hanya satu, semoga ia menjadi anak yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat, serta menjadi bekal kebaikan di dunia maupun akhirat," tuturnya.
Kedua orang tuanya juga berpesan agar Habibi senantiasa istiqamah menjaga hafalan, terus memperbaiki akhlak, mengamalkan ilmu yang dimiliki, serta tetap rendah hati.
Menurut mereka, kemuliaan seorang hafiz bukan hanya diukur dari banyaknya hafalan, tetapi juga dari akhlak dan pengamalan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
Di lingkungan pesantren, Habibi dikenal sebagai pribadi yang sederhana, berakhlak baik, dan gemar membantu. Ia bahkan sering membantu di dapur serta memasak bersama para santri lainnya, mengikuti kegemaran sang ayah.
Delapan tahun masa mudanya dihabiskan jauh dari keluarga demi menuntut ilmu dan menjaga Kalamullah.
Perjuangan panjang tersebut akhirnya berbuah manis dengan keberhasilannya menyelesaikan Tasmi' 30 Juz Bil Ghaib di PPTQ Baiturrahman Vilanpuri.
Kisah Muhammad Habiburrahman bin Dedy Tabrani menjadi inspirasi bahwa doa, kesabaran, dan pengorbanan orang tua dalam mendidik anak di jalan Al-Qur'an tidak pernah sia-sia.
Semoga keberhasilannya menjadi motivasi bagi generasi muda untuk semakin mencintai, menghafal, serta mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.[]
