ZAKAT DAN INFAK SOLUSI PEREKONOMIAN MASYARAKAT DI MASA PANDEMI

Editor: Serikat Aceh. author photo
ZAKAT DAN INFAK SOLUSI PEREKONOMIAN MASYARAKAT DI MASA PANDEMI

Gayo lues-meuligoeaceh.com
 AlMisry Al Isaqi,S.Pd.I,M.IKOM
(Komisioner Baitul Mal Kab.Gayo Lues)
Sampai saat ini Daerah Kab/kota Provensi Aceh masih dalam bencana yang bernama Covid 19. 
Dampaknya luar biasa yang telah mampu menggeser peradaban dunia,meruntuhkan sendi-sendi 
kemanusiaan, merubah arah politik sosial ekonomi dan budaya.Kehidupan menjadi tidak wajar dan 
tidak normal.


Sejak virus corona mencuat di Aceh pada awal Maret 2019 dan diberlakukannya pembatasan sosial 
berskala besar (PSBB) maupun skala kecil, masyarakat mulai merasakan dampaknya, tersendatnya 
roda perekonomian nasional dan lokal. Masyarakat menjerit,wiraswasta tidak bisa bekerja secara 
maksimal. 


Daya beli masyarakat menurun. Harga hasil panen petani-pun rendah. 
Untuk membantu percepatan perekonomian lokal, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan yaitu 
menggerakan program zakat infak dan sedekah (ZIS) di seluruh Kabupaten/kota se Prov.Aceh
secara maksimal. Pertama, zakat. Zakat terbagi dua, zakat mal (harta) dan zakat nasf (diri sendiri). 


Keduanya mempunyai aturan dan ukuran masing-masing. Untuk zakat mal tergantung jenis harta 
yang dimiliki, harus mencapai satu nisab dan haul (satu tahun hijriyah) termasuk di dalamnya zakat 
profesi seperti gaji dan honorarium. Sedangkan zakat nafs adalah zakat fitrah, zakat sejenis makanan 
pokok untuk masing-masing individu yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan sebelum tanggal 1 Syawal. 

Zakat ini wajib dikeluarkan dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya 
(mustahik) sesuai ketentuan yang ditetapkan syara’ (hukum Islam).
Kedua, infak adalah pemberian atau sumbangan terhadap seseorang yang membutuhkan. Infak ini 
untuk siapa saja tidak harus golongan mustahik penerima zakat, bisa juga untuk anak yatim, janda 
dan manula. Pada hari biasa saja mereka mengalami kesulitan beban hidup, apalagi saat pandemi 
ini. Rasulullah bersabda yang artinya “aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukanya) 
di surga seperti kedua jari ini” sambil beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya, serta 
agak merenggangkan keduanya. Saat ini pemerintah pusat sudah melakukan upaya-upaya jitu untuk 
membantu masyarakat melalui program bantuan sosial (BANSOS) dalam bentuk program keluarga 
harapan (PKH), kartu sembako, program kartu prakerja, bantuan langsung tunai (BLT), bantuan 
sembako, penggratisan biaya listrik 450 VA, diskon 50 % bagi pengguna listrik 900 VA bersubsidi. 


Program ini diharapkan berdaya guna dan tepat sasaran dalam meringankan beban hidup 
masyarakat dalam menghadapi masa pandemi.
Kesadaran berinfak dan bersedekah untuk saat ini harus lebih ditingkatkan untuk saling membantu 
antar sesama. Allah SWT menganjurkan agar bersedekah kapan saja disaat lapang maupun sempit 
(QS. 3: 134). Artinya bersedekah tidak harus menunggu harta berlimpah, pas-pasan pun dianjurkan bersedekah tentu semampunya. Baginda Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Sedekah itu menolak bencana dan memanjangkan umur”.

Jika diterapkan pada masa pandemi ini sangat urgen, 
dimana masyarakat membutuhkan aliran dana untuk sekedar mempertahankan hidup. Bagi 
masyarakat terdampak yang belum mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah karena terkendala 
syarat dan kriteria, maka diharapkan masing-masing pribadi yang mampu secara finansial untuk berbagi kepada tetangga atau famili. 


Diutamakan bersedekah kepada sanak saudara atau famili 
terlebih dahulu, setelah itu orang lain. Rasulullah bersabda yang artinya “bersedekah kepada orang 
miskin dianggap satu sedekah dan kepada famili dianggap dua sedekah”. Bersedekah atau berbagi akan menjadikan manusia bahagia. Hati ini akan merasa bahagia ketika ia mampu membahagiakan 
hati manusia lainnya.

Program Baitul Mal dalam pengelolaan harta Agama,zakat, infaq dan sedekah dari sisi kemanusiaan 
setidaknya mempunyai tiga makna. Pertama, memanusiakan manusia. Ia mampu menjadi hamba 
Allah SWT yang menjalankan kewajibannya sebagai manusia, baik dihadapan manusia itu sendiri apalagi dihadapan Allah SWT. Manusia diciptakan sebagai khalifah untuk mengatur sistem dan ritme di muka agar tercipta keseimbangan. Karena Allah SWT menciptakan makhluq hidup selalu berpasangan (QS. 78: 8), ada yang namanya laki perempuan, baik buruk, hitam putih, atas bawah, 
senang sedih, si kaya dan si miskin. Ketika manusia mampu menghamba kepada Allah SWT dengan harta dan jiwanya, sesungguhnya itu bagian bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan kepadanya. Barangsiapa pandai bersyukur atas nikmatNya, maka Allah SWT akan selalu 
menambah kenikmatan itu. Pada kenyataanya, banyak manusia belum lulus ketika diuji harta benda berlebih, ia lebih suka menghambur-hamburkannya untuk sekedar memuaskan hawa nafsu daripada berbagi pada sesama untuk kebaikan.


Makna kedua, menumbuhkan rasa cinta antar sesama. Memupuk rasa cinta dan saling mengasihi. 
Jika rasa cinta dan kasih sayang tumbuh, maka rasa permusuhan akan hilang. Sifat mulia ini muncul 
melalui kesadaran yang awalnya setengah dipaksakan, lama-lama akan terlatih juga. Terlatih setiap 
melihat saudaranya membutuhkan bantuan, dalam kondisi dan situasi apapun ia akan berempati 
untuk membantunya. Baginda Rasulullah SAW bersabda yang artinya “saling bersedekahlah, maka engkau akan saling mencintai”.


Makna ketiga, menghilangkan sifat kikir dan bakhil. Ternyata tidak gampang menghilangkan sifat 
ini. Perasaan cinta berlebihan terhadap harta akan menyebabkan rasa enggan untuk 
mengeluarkannya. Manusia tidak boleh berlebihan dalam memaknai dan mencintai sesuatu (harta 
benda, anak, jabatan) harus biasa-biasa saja.

 Karena sesuatu itu pasti akan sirna. Sifat kikir jika 
dipelihara akan menyebabkan sifat serakah (tamak) serba kekurangan. Rizqi berlebih atau kaya 
secara kasatmata tetapi masih saja bermental miskin, apa saja diambil untuk memenuhi kebutuhan 
hawa nafsunya. Sebaliknya, miskin secara materi akan tetapi bermental kaya, malu jika berebut 
urusan duniawi apalagi harus meminta-minta. 

Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda yang 
artinya “ada tiga perkara yang akan membinasakan manusia; sifat kikir yang dituruti, hawa nafsu 
yang diikuti dan bangga terhadap diri sendiri”. Dalam hadits lain juga disebutkan “lindungilah diri 
kalian dari api neraka walaupun dengan menyedekahkan separuh butir kurma. 

Jika kalian tidak 
menemukannya, maka dengan mengucapkan perkataan yang baik”. Al-Qur’an juga menganjurkan 
untuk menjauhi sifat kikir agar kita termasuk orang-orang yang beruntung (QS. 59: 9).
Islam hadir dengan konsep zakat, infak dan sedekah menjadi alternatif solusi dalam menghadapi 
masa sulit disebabkan pandemi covid-19. 

Harapannya program ini berjalan maksimal di seluruh 
wilayah Aceh guna meringankan beban saudara kita. Di samping berusaha dan bertawakkal orang 
yang beriman dianjurkan untuk selalu berdoa “doa adalah senjata orang beriman” (HR. Imam 
Bukhari dan Muslim). Covid 19 ini adalah bagian dari ujian Allah SWT untuk umat manusia di 
muka bumi agar kita selalu ingat pada sang Pencipta. Khalifah Ali bin Abi Tholib r.a. berpesan “ 
Jika ada musibah menimpa orang yang durhaka, itu merupakan adab (pendidikan/peringatan). 

Jika menimpa pada orang yang taat itu adalah ujian. Jika menimpa pada Nabi dan Rasul itu adalah 
peningkatan derajat dan menambah kedekatannya kepada Allah SWT. Jika menimpa pada wali, itu 
adalah penghormatan”. 
Wallahul muwafiq ila aqwamith Thariq.(TONI)
Share:
Komentar

Berita Terkini