Banda Aceh Dalam Transportasi dan Komunikasi Kolonial

Editor: Syarkawi author photo


Aceh - Sesuai dengan kedudukannya sebagai pusat pemerintah, kota Banda Aceh telah dibangun dengan berbagai sarana transportasi modern untuk memperlancar pengangkutan barang dan orang. Pengadaan sarana ini telah menimbulkan perubahan besar pada kehidupan kota Banda Aceh. pembangunan berbagai sarana transportasi tersebut disertai dengan pengaruhnya bagi pengembangan kota Banda Aceh.

1. Kereta Api dan Jaringan Jalan Raya

Sarana transportasi yang sangat menonjol sejak awal pendudukan Belanda adalah kereta api. Pembangunan tahap pertama dimulai dari Ulee Lheue ke Kutaraja sepanjang 5 km. Alat transportasi ini secara rutin mulai digunakan sejak tanggal 12 November 1876. Pembukaan jalur tersebut memiliki alasan yang kuat dari sudut politik, yaitu untuk mempermudah pendaratan personil dan perlengkapan militer ke pusat kota, yang kemudian diangkut ke berbagai daerah. Dengan pembangunan sarana tersebut Krueng Aceh yang pada masa kerajaan berfungsi sebagai jalan utama memasuki pusat kota, telah mulai ditinggalkan pada masa ini.

Pembangunan ke daerah-daerah lain dilanjutkan sejak tahun 1885, yaitu dengan dibukanya jalur Banda Aceh Lambaro sejauh 7 km. Dalam wilayah kota dibangun jalur lingkar untuk membantu melancarkan pengawasan terhadap pos-pos yang ada dalam Lini Konsentrasi yang mulai diterapkan tahun 1886. Jalur Ulee Lheue-Banda Aceh-Lambarô diperluas pada tahun 1897. Setahun kemudian diperpanjang lagi sampai ke Seulimeum dan Padang Tiji (wilayah Kabupaten Pidie sekarang). Pembangunan ke jalur ini mengalami banyak hambatan karena lokasinya di daerah pegunungan, sehingga membutuhkan tenaga dan biaya yang cukup besar. Dari tahun 1898 sampai tahuh 1902 dilanjutkan sampai ke Langsa (ibukota Kabupaten Aceh Timur sekarang) melalui Sigli, Lhôk Seumawe dan Idi. Sampai pada tahun 1910 diperpanjang sampai ke Kuala Simpang dan dua tahun kemudian sudah sampai ke Pangkalan Susu. Barulah pada tahun 1919 mencapai Besitang dan bertemu dengan jalur kereta api Deli (Sumatera Utara sekarang). Dengan demikian jalur kereta api Aceh telah memanjang dari Ulèe Lheue sampai Pangkalan susu sejauh 495 km. Ditambah lagi dengan cabang-cabang dari Langsa ke Kuala Langsa 9 km dan dari Beureunuen ke Lam Meulo 5 km. J. Kreemer membagi pembangunan jalur kereta api dari Ulee Lheue sampai perbatasan Aceh dalam empat tahap.

Perpanjangan secara bertahap erat kaitannya dengan pergolakan politik di Aceh. Serangan Teuku Umar Johan Pahlawan misalnya, memaksakan pemerintah untuk membuka jalur Lambaro-Glé Kameng sepanjang 7 km dan Gle Kameng-Seulimuem. Demikian pula penaklukan ke daerah Pidie dan daerah-daerah lainnya sangat dibutuh adanya sambungan jalur kereta api. Hal ini bukan berarti tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh. Menempuh jalur pantai memungkinkan, namun banyak mengalami hambatan, karena di daerah pantai banyak rawa-rawa, sementara sungai yang menjadi jalan alami ke daerah yang berpenduduk padat biasanya dangkal. Sebaliknya dengan jalur kereta api mampu bergerak di sepanjang pantai dan kemudian memasuki daerah pedalaman.

R. Boersma memberikan gambaran tentang kereta api di Aceh. Kereta biasanya terdiri atas sebuah lokomatif kecil dengan gerbong kayu bakar, sebuah gerbong bagasi, sebuah kereta klas 1 dan 2, beberapa gerbong klas 3 dan sejumlah besar kereta barang. Semua ini tidak memberikan kesan kereta lokal atau trem, namun kereta besar yang diperkecil. Gerbong klas 1 dan 2 dalam jalur panjang dibuka seperti kereta di Jawa. Dalam klas 1 dengan bangku duduk yang mudah digeser. Kecepatan rata-ratanya sekitar 25 sampai 30 km perjam, sehingga jika menempuh suatu perjalanan panjang sangat terasa menjemukan. Berangkat dari Kutaraja biasanya pagi hari dan makan siang di Samalanga, sore hari tiba di Lhôk Seumawe. Pada pagi hari berikutnya kembali berangkat dari Langsa (apabila kereta tidak terlambat). Menjelang pukul setengah empat tiba di Besitang. Orang yang pindah ke kereta cepat Spoor Deli menjelang pukul 6 orang tiba di Medan. Setiap hari hanya ada sebuah kereta yang berangkat.

Tarif angkutan penumpang untuk klas 1 seharga 6 sen per kilometer, dan 3,5 sen bagi kelas 2. Tarif klas 3 sebanyak 1,8 sen bagi orang Eropa dan Timur Asing dan 1 sen bagi pribumi. Dalam bidang usaha kereta api ini orang Aceh di samping bekerja sebagai buruh, ada juga yang menjadi mandor pada saat pembuatan rel, sementara yang menjadi masinis adalah orang Jawa.

Sarana perhubungan lain yang turut mendorong perkembangan kota Banda Aceh adalah jaringan jalan. Pembangunan jalan raya dan jalan kereta api telah memperlancar pengangkutan orang dan barang antara pelabuhan dengan kota yang sekaligus mengakibatkan peran sungai sebagai jalur pemasok barang dan orang menjadi berkurang.

Dari peta-peta yang dibuat oleh Belanda, dapat diketahui bahwa dari tahun 1874 sampai 1895 jalan-jalan tersebut telah memenuhi sebahagian kota Banda Aceh. Kebanyakan jalan telah diperkeras dengan batu-batu kerikil,

Jaringan jalan ke luar kota mendapat perhatian yang cukup besar dari pemerintah Belanda. Pembuatan jalan dimaksudkan sebagai usaha untuk membebaskan daerah-daerah yang terisolasi.

Karena dengan adanya jalan-jalan itu memungkinkan penduduk melakukan kontak yang terus menerus dengan dunia luar, sehingga mentalitas mereka di daerah-daerah yang telah terbuka itu akan mengalami perubahan dan dengan demikian akan membuat keadaan politik menjadi lebih baik. Sampai tahun 1906 pembangunan jalan dan jembatan permanen baik dari besi maupun dari kayu dengan penopang batu masih diteruskan. Jalan raya dari Lhôknga sepanjang pantai barat ke selatan ampai Seudu kini hanya baru bisa dilewati pedati. Jalan penghubung antara Seulimeum dan Lam Teuba juga sedang dibangun.

Sarana jalan sangat efektif bagi gerakan militer Belanda, di samping untuk untuk mengawasi pemerintahan di tingkat bawah yang hanya dapat dilakukan jika tersedia jalur yang memadai. Jalan darat yang menghubungkan kota pantai di sekitar Banda Aceh mungkin sekali sudah ada pada masa kesultanan, meskipun masih berupa tanah-tanah yang dikeraskan ataupun berupa jalan alam yang terbentuk karena biasa dilalui orang.

Salah satu dampak dari sarana perhubungan adalah munculnya berbagai jenis kendaraan modern. Mobil-mobil angkutan penumpang dan barang seperti bis dan truk mulai bermunculan di pusat kota. Di samping itu, sepeda buatan Jepang juga mulai membanjiri Aceh. Mulanya hanya dimiliki oleh kalangan tertentu, namun lama kelamaan dapat menjangkau warga pedesaan.

Sarana transportasi yang masuk pada masa Belanda menjadi saingan dan bahkan menggantikan peran kendaraan tradisional yang sejak lama menjadi sarana paling umum untuk mengangkut produk pertanian. Sampai pada masa Pemerintahan Belanda kendaraan tradisional seperti pedati masih berkembang di Aceh. Pengangkutan barang dengan gerobak yang ditarik oleh sapi di Afdeeling Aceh Besar tercatat 771 buah sampai tahun 1921. Pedati ini dibuat oleh para tukang kayu Cina dengan harga jual f.75-80 dengan kapasitas berkisar 300 sampai 450 kg. Masing-masing pedati ditarik oleh seekor sapi atau dua. Sampai tahun 1922 terdapat 3.375 kereta yang tercatat, yakni 941 di Aceh Besar, 1.135 di pantai utara, 982 di pantai timur, 284 di pantai barat dan 33 di tanah Alas.

Transportasi udara mulai dibuka di Aceh pada tahun 1928. Perusahaan Sabang telah membangun sebuah lapangan udara untuk pendaratan pesawat terbang. Di Onderafdeeling Idi, pada tahun 1934 Perusahaan Bataaf bekerjasama dengan penguasa pribumi daerah Peudawa membuka lapangan terbang untuk kepentingan pemetaan udara lahan minyak bumi di Peureulak. Hal ini merangsang pembukaan hubungan Sabang-Medan. Di dekat Bireuen dibuka sebuah lapangan udara melalui kerja wajib penduduk Peusangan. Lapangan udara untuk kota Banda Aceh dibuka di Lhôknga, 14 km dari pusat kota.

Tidak dapat disangkal bahwa sarana transportasi, terutama kereta api dan jalan raya, banyak membantu pencapaian tujuan kolonialisasi Belanda, namun tidak dapat diabaikan juga bahwa kemajuan daerah Aceh banyak didorong oleh kemajuan transportasi ini. Sering kali orang melupakan bahwa di mana-mana dalam sebuah negara kolonial sebagian aktivitas perang dapat beralih menjadi karya perdamaian. Di tempat-tempat yang berpenduduk relatif padat yang dilalui oleh jalur kereta api telah tumbuh pemukiman penduduk yang kemudian melahirkan pusat-pusat perekonomian. Demikian juga pembangunan bivak-bivak militer telah memberi alasan bagi perdagangan dan lalu lintas. Kebanyakan dari seluruh jalur kereta api dan telepon beralih dari sarana militer menuju faktor-faktor perkembangan ekonomi.

Pembukaan kereta api Ulèe Lheue-Kutaraja banyak dimanfaatkan untuk perdagangan. Dengan pembukaan sambungan Sigli-Meureudu para pedagang dapat mengekspor barang dagangan melalui pelabuhan Sigli, sementara di pedalaman para ulèebalang membangun toko atau keude (warung) baru di jalur trem atau memindahkan yang lama ke sana. barang swasta seperti lada, pinang, kopra, dan lain sebagainya dapat diangkut ke pelabuhan dengan kereta api yang selanjutnya dikapalkan menuju Penang atau negara lain.

Tempat-tempat pelabuhan utama adalah di Banda Aceh, Sigli, dan Lhôk Seumawe.

Pada tahun 1914 kereta api telah mengangkut hampir tiga juta orang di Aceh, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan jumlah penumpang di Sumatera Timur. Sampai tahun 1920 telah mencapai 4.093.889 orang. Pembangunan jalan raya telah menyebabkan munculnya berbagai sarana angkutan barang dan orang. Sampai tahun 1930-an di Aceh terdapat 1.500 kendaraan yang terdiri atas 756 kendaraan pribadi, 427 bus dan 258 truk.

Jaringan telepon diperkenalkan di Aceh pada penghujung abad ke-19, hanya saja terbatas pada kantor-kantor dan Ambtenaar Belanda. Pada tahun 1884 jaringan telepon digunakan untuk memperlancar komunikasi pada sistem pertahanan lini konsentrasi. Sarana ini dipergunakan untuk menyampaikan laporan ke pusat kota. Tahun 1899 dipasang jaringan dari Seulimeum ke Padang Tiji, kemudian ke Samalanga pada tahun 1902, selanjutnya ke Idi dan Bayeuen. Total Panjang kabel telepon sudah mencapai 800 km, meningkat dari 525 km tahun 1901.243 Sampai tahun 1903 daerah-daerah yang telahterjangkau jaringan telepon adalah Banda Aceh, Sigli, Samalanga, Lhôk Seumawe, Idi, dan Langsa. Total panjangnya mencapai 1.060 km, dibandingkan 800 km tahun 1902.244 Tahun 1906 sudah menjangkau daerah di pantai Barat, Calang, Meulaboh dan Tapak Tuan. Sampai tahun 1922 sudah tersambung sejauh 1.600 km.

Kemajuan transportasi yang dibangun Belanda telah menimbulkan perubahan besar pada struktur kota Banda Aceh. Pembangunan jalur kereta api dan jalan raya misalnya, telah mengubah orientasi pengembangan kota dari yang terkonsentrasi di pesisir dan pinggiran sungai pada masa kerajaan mengarah ke daratan pada masa kolonial. Pertokoan, porkantoran dan perumahan banyak muncul di daratan mengikuti sarana perhubungan tersebut.

Di lain pihak, kota Banda Aceh telah mengalami transformasi. Wilayah pemukiman penduduk pada masa kerajaan, seperti Kampung Merduati, Kampung Keudah, Kampung Kampung Jawa, lebih-lebih lagi Peunayông telah menjadi daerah perkotaan yang dipenuhi oleh berbagai infrastruktur kota bahkan sebahagiannya telah menjadi wilayah komersial.

Jaringan jalur kereta api peninggalan Belanda sampai sekarang masih dijumpai di daerah Aceh, namun kondisinya tidak utuh lagi, relnya sendiri banyak yang sudah hilang. Sebahagian besar lahan lintasannya, terutama di daerah perkotaan, telah dibongkar oleh pihak-pihak tertentu untuk kemudian dibangun pertokoan, sementara jalur yang melintas di daerah pedesaan telah dimanfaatkan oleh penduduk untuk mendirikan berbagai jenis bangunan. Pengrusakan dan pemanfaatan secara liar terjadi setelah Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1970-an menghentikan pengoperasian kereta api. Baru sekarang pemerintah membangun kembali transportasi ini, namun proses pembangunannya memakan waktu dan biaya yang cukup besar.

2. Pelayaran

Selama periode kolonial Belanda, kota Banda Aceh ditandai dengan munculnya prasarana pelayaran modern yang tidak berkembang pada masa-masa sebelumnya. Lokasi bandar yang sebelumnya terletak di Kuala Aceh telah dipindahkan ke Ulee Lheue, Pantè Cermin, (muara lain dari Krueng Aceh). Pemerintah Belanda menganggap lokasi ini sangat stretegis bagi kepentingan militer dan ekonomi.

Pembangunan pelabuhan Ulèe Lheue mulai dilaksanakan pada tahun 1874 dengan menggunakan bahan-bahan dari besi baja, selesai pada tahun 1875.248 Pelabuhan ini berfungsi selain sebagai tempat pembongkaran alat-alat militer, yang kemudian diangkut ke pusat kota, juga sebagai pelabuhan dagang dan pelabuhan penumpang antarpulau.

Areal untuk bersandar kapal luas, kapal-kapal dalam jumlah yang banyak dapat berlabuh dan bersandar secara rapi. Setiap bulan tidak kurang dari 15 kapal Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) melakukan bongkar muat barang dan penumpang di Ulee Lheue dalam perahu milik pengusaha Cina atau Perusahaan Transportasi Aceh yang merupakan bagian dari Perusahaan Sabang.

Dampak pembukaan Ulee Lheue sebagai pelabuhan dagang baru telah menyebabkan munculnya pemukiman penduduk, pertokoan, gudang, dan perumahan di daerah sekitarnya, baik milik pemerintah maupun swasta. Seorang pelawat yang menamakan dirinya dengan Melantjong menceritakan kondisi di sekitar Ulee Lheue. Lima puluh meter dari dermaga (mengikuti jalan kereta api) ditemukan rumah-rumah para pengawas yang terletak di sebelah kanan, beberapa gedung pemerintah atau tempat penimbunan barang, rumah controleur, dan tangsi-tangsi militer. Di sebelah kiri yang pertama sekali terlihat adalah rumah kepala pelabuhan yang terletak di pinggir jalan. Di depannya terdapat beberapa toko. Salah satunya adalah toko besar milik Van der Zijl Bersaudara, cabang Kutaraja. Setelah melewati pasar, terlihat sejumlah barak militer, sementara sebelah kanannya terdapat rumah perwira. Setelah itu nampak gudang besar milik Firma De Lange & Co, berupa tempat penimbunan barang yang kemudian dipasok ke ibukota. Selain itu, terdapat rumah orang Cina dan kampung pribumi, rumah para kepala polisi, rumah letnan Cina dan rumah para pedagang kaya Cina dan pribumi.

Toko-toko Cina sangat menarik, bentuk bangunannya didirikan berhimpitan. Di dalamnya dijual kain yang dibordir dengan benang emas, mentega dan keju Belanda. Terdapat pula sebuah karya kerajinan kulit Jepang yang indah. Berbagai barang produksi Inggris dan Jerman juga diperjualbelikan di sini.

Pada masa Kolonial Belanda telah dibuka suatu pelabuhan baru yang sebelumnya tidak begitu dikenal dalam jaringan perdagangan Kerajaan Aceh, yaitu pelabuhan Sabang. Berpuluh-puluh tahun lamanya pelabuhan Sabang memainkan peranan penting dalam perdagangan, bukan hanya pada masa kolonial, tetapi juga pasca kemerdekaan. Pelabuhan Sabang memiliki konstribusi paling signifikan dalam memajukan daerah Aceh, namun pada tahun 1980-an ditutup oleh pemerintah, sehingga kegiatan perdagangan dengan dunia luar terputus.

Pada awalnya Sabang difungsikan sebagai gudang batu bara dan tempat penampungan orang-orang sakit atau terluka. Kemudian mulai menarik perhatian pihak swasta Firma Batavia de Lange & Co untuk mengelola daerah ini menjadi sebuah pelabuhan modern. Dengan bantuan dana dari Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM), firma ini mulai membangun sebuah pangkalan batubara. Kemudian dilanjutkan dengan pembangunan dermaga, gudang, perumahan dan sebagainya. Sampai tahun 1896 pelabuhan itu masih digunakan untuk memasok batubara bagi kapal-kapal pemerintah dan kerajaan serta beberapa kapal swasta. Pada tanggal 4 April 1896 statusnya berubah menjadi pelabuhan bebas. Berbagai sarana modern dibangun, mulai dari tempat perbaikan kapal, pabrik es, rumah sakit, hotel bagi para penumpang yang menunggu pulang atau perginya kapal KPM, sampai tangki-tangki besar untuk menyediakan bahan bakar. Sejumlah kapal bunker milik PT Pelabuhan Laut dan pangkalan batubara Sabang yang mengelola

Firma De Lange & Co memberikan kesempatan bagi kapal besar untuk menyinggahi Sabang dalam perjalanannya dari Eropa ke Hindia.

Tabel di atas memperlihatkan bahwa selama 3 tahun jumlah kapal yang mendatangi Sabang sebanyak 708 buah yang berasal dari berbagai negara Eropa dan Asia. Jumlah ini tidak termasuk kapal uap milik perusahaan Belanda, yang melayari jalur Jawa-Benggala, juga kapal kapal dari perusahaan Perkapalan Uap Asia lainnya yang secara rutin menyinggahi Sabang. Jumlah kapal yang singgah di Sabang tahun 1936 mencapai 804 buah, sementara tahun 1937 berjumlah 771, sedikit mengalami penurunan.

Pelayaran antarpulau Ulee Lheue-Sabang dikelola oleh perusahaan KPM dan Perusahaan Aceh yang kantor induknya di Sabang. Pelayaran ini dibagi dalam lima jalur dalam rentang waktu minimal satu kali dalam satu minggu. Rute-rute yang dilalui adalah Sabang-Ulee Lheue, Padang, Penang dan Belawan, baik langsung maupun setelah pergantian kapal. Di Ulee Lheue ditempatkan sebuah kapal pemerintah yang bernama Wega yang sebulan sekali mengunjungi pos-pos yang terletak di sepanjang pantai barat. Biasanya para pejabat dan perwira militer yang berpindah tugas memanfaatkan perjalanan kapal ini.

Pengangkutan barang kebutuhan hidup dan korban perang digunakan kapal-kapal milik perusahaan Kapal Uap Hindia Belanda antara Batavia, Padang dan Ulee Lheue yang mulai operasi 1866-1890. Selama tahun 1923 KPM melayari berbagai pelabuhan di tanah air dan sampai luar negeri. Rute-rute yang dilalui adalah :

1. Jalur barat cepat, dari Jawa (Batavia) lewat pantai Sinabang-Ulèe Lheue, Sabang, Sigli, Lhôk Seumawe, Langsa sampai Penang. Lewat jalur ini kembali lagi ke Batavia. Tempat-tempat di sepanjang pantai utara, timur Aceh dan Penang disinggahi di luar kontrak.

2. Jalur lambat barat, dari Surabaya lewat kota-kota pantai Singkil, Pulau Banyak, Sinabang, Tapak Tuan, Meulaboh, Calang, Sabang, Ulee Lheue, Belawan-Deli Penang dan Singapura. Dari si kembali ke Batavia melalui jalur yang sama.

3. Jalur timur dari Jawa (Batavia) lewat Singapura dan Penang melalui Lhôk Seumawe, Sigli, Ulee Lheue, Sabang, Calang, Meulaboh, Tapak Tuan, Sinabang, Kepulauan Banyak, Singkil dan kota-kota lain ke Batavia dan Surabaya.

4. Pelayaran dari Penang ke Belawan, Langsa, Idi, Lhôk Seumawe, Sigli, Ulee Lheue dan Sabang. Kemudian kembali ke Penang.

5. Pelayaran mingguan diluar kontrak dilakukan dari Penang, Belawan, Langsa dan sepanjang jalur yang sama kembali ke Penang. Untuk jalur Jawa-Benggala (perpaduan pelayaran empat mingguan dari perusahaan kapal uap Belanda dan Rotterdam Lloyd dimuat dalam rencana pelayaran. Surabaya dan kota-kota lain di Jawa Timur, Semarang atau kota di Jawa Barat lewat Padang atau Sabang sampai Calcutta dan pada masa normal sampai Rangon, sementara dari kedua pelabuhan tersebut kebanyakan kapal kembali ke Batavia lewat Sabang.

Banda Aceh / Dari Kota Tradisional ke Kota Kolonial/ Berbagai sumber / Ais

Share:
Komentar

Berita Terkini