Dari Rumah Sederhana, Anak Buruh di Banda Aceh Raih Beasiswa KIP Kuliah USK

Editor: Syarkawi author photo


Banda Aceh — Sabtu pagi yang hangat di Gampong Jeulingke, Banda Aceh, menjadi momen penuh haru dan kebanggaan bagi keluarga Azhari Ismail dan Mutia Fitri. 

Rumah sederhana mereka dikunjungi Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Marwan, IPU, bersama rombongan dari Komisi X DPR RI, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), serta jajaran sivitas akademika USK.

Kunjungan ini merupakan bentuk silaturahmi sekaligus apresiasi terhadap para penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Salah satu penerima adalah Pocut Asyva Azhari (18), yang diterima di Fakultas Kedokteran Hewan USK melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun ini.

“Kami datang bukan hanya untuk menyerahkan beasiswa, tetapi juga untuk membawa pesan bahwa keterbatasan bukanlah akhir. Pocut membuktikan bahwa dengan semangat dan ketekunan, impian bisa diraih,” ujar Rektor USK, Prof. Marwan kepada awak media, Sabtu (26 Juli 2025).

Anak Buruh Harian Lepas, Kini Jadi Calon Dokter Hewan

Pocut merupakan anak dari pasangan Azhari Ismail dan Mutia Fitri. Sang ayah bekerja sebagai buruh harian lepas (mocok-mocok) tanpa penghasilan tetap, sementara sang ibu menjalani pekerjaan serabutan untuk membantu perekonomian keluarga.

“Kadang ada kerja, kadang tidak. Tapi kami selalu berusaha agar anak-anak tetap bisa sekolah. Karena itu saya sekolahkan mereka di SMK Farmasi Cut Meutia Banda Aceh,” tutur Mutia Fitri.

“Alhamdulillah, sekarang Pocut bisa kuliah di USK. Itu sudah di luar bayangan kami,” tambah Azhari dengan mata berkaca-kaca.

Beasiswa KIP Kuliah Ringankan Beban Keluarga

Pocut menyampaikan rasa syukurnya atas beasiswa yang diterima. Menurutnya, program KIP Kuliah sangat membantu, tidak hanya dalam hal pembiayaan pendidikan, tetapi juga tunjangan biaya hidup.

“Beasiswa ini bukan cuma membuat saya bisa kuliah, tapi juga sangat meringankan beban orang tua saya,” ujar Pocut.

Negara Hadir untuk Semua Kalangan

Perwakilan Ditjen Dikti dan Komisi X DPR RI yang turut hadir menegaskan bahwa KIP Kuliah merupakan bukti nyata kehadiran negara untuk menjamin akses pendidikan tinggi yang merata dan inklusif.

“Kami ingin memastikan anak-anak dari semua latar belakang punya kesempatan yang sama untuk kuliah. Proses seleksi dilakukan ketat, dari capaian akademik hingga verifikasi kondisi ekonomi melalui survei lapangan,” jelas salah satu perwakilan Kementerian.

Universitas Syiah Kuala sendiri merupakan salah satu kampus dengan jumlah penerima KIP Kuliah terbanyak di Aceh. 

Program ini menanggung biaya kuliah secara penuh dan memberikan tunjangan biaya hidup bulanan antara Rp800 ribu hingga Rp1,4 juta, tergantung wilayah domisili mahasiswa.

Mimpi Besar dari Rumah Kecil

Pocut punya cita-cita besar. Ia ingin menjadi dokter hewan dan kembali mengabdi kepada masyarakat, khususnya di bidang kesehatan hewan dan peternakan.

“Saya ingin membantu para peternak dan warga desa menjaga kesehatan hewan mereka. Semoga ilmu yang saya pelajari bisa bermanfaat,” ujarnya dengan semangat.

Rektor USK menutup kunjungan dengan pesan inspiratif:

“Semoga kisah Pocut menjadi penyemangat bagi anak-anak muda lainnya. Jangan takut bermimpi besar. Negara dan universitas akan selalu hadir membuka jalan,” pungkas Prof. Marwan.

Kisah Pocut Asyva Azhari membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari tempat yang paling sederhana. Kehadiran KIP Kuliah bukan sekadar beasiswa, tetapi wujud nyata keberpihakan negara untuk masa depan yang lebih adil, merata, dan penuh harapan.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini