Oleh: Drs. Isa Alima (Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik Aceh )
Meuligoeaceh.com - Di tengah dinamika pemilihan Rektor Universitas Syiah Kuala (USK), penting bagi semua pihak untuk menjaga kejernihan nalar sekaligus meluruskan niat.
Proses ini merupakan bagian dari tradisi akademik yang luhur—sebuah mekanisme yang sepatutnya berlangsung tenang, bermartabat, dan bebas dari kegaduhan yang tak perlu.
Universitas Syiah Kuala bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah rumah besar ilmu pengetahuan, kampus tertua dan paling dihormati di Aceh, yang sejak lama menjadi magnet bagi para pencari ilmu dari berbagai penjuru Nusantara hingga Semenanjung Malaysia.
Reputasi besar itu tumbuh dari sejarah panjang, kepercayaan publik, serta dedikasi para pendidik yang mengabdi dengan ketulusan.
Karena itu, kompetisi menuju kursi rektor seyogianya dimaknai sebagai ajang adu gagasan, integritas, dan visi untuk masa depan pendidikan Aceh.
Bukan sebaliknya—menjadi arena saling mencurigai, apalagi membangun opini yang berpotensi meretakkan kebersamaan sivitas akademika.
Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah, negeri yang menjunjung nilai kesejukan, keteguhan akhlak, dan penghormatan terhadap adab. Nilai-nilai ini selayaknya tercermin pula dalam ruang-ruang akademik.
Narasi yang dibangun hendaknya menyejukkan, selaras dengan semangat syariat Islam yang menempatkan persaudaraan dan kebijaksanaan sebagai fondasi utama.
Lebih dari itu, nama Syiah Kuala yang melekat pada universitas ini bukanlah sekadar simbol. Ia adalah nama seorang ulama besar, cahaya ilmu yang harum di seantero Nusantara.
Menjaga marwah Universitas Syiah Kuala berarti pula menjaga kehormatan nama ulama tersebut, tidak mengaburkannya dengan hiruk pikuk yang menjauhkan kita dari tujuan mulia pendidikan.
Perlu disadari, para calon rektor yang hadir hari ini adalah putra-putra terbaik Aceh. Mereka datang dengan niat yang sama: mengabdi, membangun, dan memajukan dunia pendidikan.
Perbedaan visi adalah keniscayaan dalam demokrasi akademik, tetapi perpecahan bukanlah pilihan yang bijak.
Sudah saatnya proses ini dikembalikan ke jalurnya yang hakiki—mengalir jernih, dewasa, dan beradab.
Mari kita rawat kebesaran nama Universitas Syiah Kuala, kita jaga warisan intelektual Aceh, dan kita bangun ruang dialog dengan kata-kata yang meneduhkan serta sikap yang penuh kebijaksanaan.
Karena ilmu pengetahuan tumbuh subur dalam ketenangan, dan kebesaran hanya lahir dari kedewasaan.[]
