![]() |
| Pelajar di Kecamatan Sawang, Aceh Utara, menyeberangi sungai menggunakan rakit darurat untuk menuju sekolah akibat putusnya jembatan pascabanjir. Sumb: AJNN (11/4/2026). |
Aceh Utara — Akses pendidikan bagi pelajar di Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, terganggu sejak jembatan penghubung antar-gampong putus akibat banjir pada akhir 2025. Hingga kini, siswa terpaksa menyeberangi sungai menggunakan rakit sederhana untuk menuju sekolah.
Kondisi tersebut terjadi di sejumlah gampong, seperti Lhok Cut, Kubu, Blang Cut, dan Gunci. Jalur utama menuju pusat kecamatan tidak lagi dapat dilalui, bahkan sebagian ruas jalan lintas provinsi Aceh Utara–Bireuen rusak dan berubah menjadi aliran air.
Sebagai solusi darurat, warga bersama aparat memanfaatkan rakit dari papan kayu yang dipasang di atas perahu karet bantuan kepolisian. Rakit itu menjadi satu-satunya akses penyeberangan bagi masyarakat.
Setiap hari, pelajar harus menyeberangi Krueng Sawang dengan alat tersebut. Risiko keselamatan meningkat, terutama saat debit air naik dan arus sungai deras.
Zuraini (19), pelajar SMA Negeri 1 Sawang, mengaku khawatir setiap kali menyeberang. “Rakit sering goyang, apalagi saat arus deras. Tapi kami tetap harus sekolah,” ujarnya kepada AJNN, Sabtu, 11 April 2026.
Saat air surut, sebagian pelajar memilih berjalan kaki menyeberangi sungai dengan bantuan pelampung. Mereka saling berpegangan untuk menjaga keseimbangan agar tidak terbawa arus.
Selain risiko keselamatan, pelajar juga harus mengeluarkan biaya sekitar Rp10 ribu per hari untuk ongkos penyeberangan pulang-pergi. Kondisi ini dinilai memberatkan sebagian keluarga.
Kerusakan jalan turut memperparah keadaan. Jalan berlumpur dan licin saat hujan kerap menyebabkan pengendara terjatuh.
Sebelumnya, jembatan darurat jenis Bailey sempat dipasang sebagai pengganti jembatan gantung yang hanyut.
Namun, kerusakan akses jalan membuat fasilitas tersebut belum sepenuhnya mengatasi persoalan.
Warga berharap pemerintah segera membangun jembatan permanen dan memperbaiki jalan agar aktivitas masyarakat, terutama pendidikan, dapat kembali normal.
“Kami berharap ada solusi segera, karena kondisi ini sangat mengganggu,” kata Zuraini.
Situasi ini mencerminkan keterbatasan akses pendidikan di wilayah terpencil, di tengah upaya pelajar mempertahankan semangat belajar meski menghadapi berbagai risiko.[]
