Sumenep — Bagi masyarakat perkotaan, listrik merupakan kebutuhan yang mudah diakses. Namun, bagi warga di pulau-pulau kecil di Kepulauan Madura, listrik hadir melalui proses panjang yang penuh tantangan.
Sistem kelistrikan di wilayah ini tersebar di puluhan pulau dengan kondisi geografis yang kompleks.
Hingga kini, sembilan pulau masih mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), sementara 25 pulau lainnya telah memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Tantangan utama tidak hanya menjaga pembangkit tetap beroperasi, tetapi juga memastikan distribusi energi menjangkau wilayah terluar.
Perjalanan Menuju Pulau Terluar
Salah satu wilayah pelayanan terjauh adalah Pulau Sakala di ujung timur Kepulauan Madura, yang berbatasan dengan Nusa Tenggara Barat.
Untuk mencapainya, perjalanan dimulai dari Sumenep menuju Pulau Kangean selama sekitar lima jam melalui laut, dilanjutkan ke Sapeken selama dua jam, lalu tiga jam menggunakan kapal kecil menuju Sakala.
Total waktu tempuh bisa mencapai lebih dari 10 jam, dengan risiko cuaca buruk yang kerap menghambat perjalanan.
Dalam kondisi tersebut, gangguan listrik menjadi tantangan besar karena petugas tetap harus menyeberangi laut untuk melakukan perbaikan.
Sebagian besar sistem masih bergantung pada PLTD yang membutuhkan pasokan bahan bakar minyak (BBM).
Distribusi logistik menjadi faktor krusial karena keterlambatan pengiriman dapat memicu pemadaman di seluruh pulau.
Di sisi lain, penggunaan PLTS mulai memberi alternatif. Energi surya membantu mengurangi ketergantungan pada BBM sekaligus meningkatkan jam layanan listrik bagi masyarakat.
Namun, pemanfaatan energi terbarukan juga menghadapi kendala, seperti kondisi lingkungan laut yang korosif serta keterbatasan tenaga teknis untuk perawatan.
Dampak dan Tantangan di Lapangan
Pemadaman listrik berdampak langsung terhadap kehidupan warga. Aktivitas ekonomi terhenti, hasil tangkapan nelayan berisiko rusak, hingga layanan kesehatan terganggu.
Dalam sejumlah kasus, tim teknis harus berangkat pada malam hari untuk memperbaiki gangguan. Ketika listrik kembali menyala menjelang subuh, warga menyambut dengan antusias—menunjukkan betapa vitalnya peran listrik.
Petugas kelistrikan di wilayah kepulauan menghadapi tantangan berat, mulai dari kondisi laut, distribusi logistik, hingga keterbatasan fasilitas.
Mereka kerap bertugas berbulan-bulan jauh dari keluarga demi menjaga pasokan listrik tetap stabil.
Upaya elektrifikasi di Kepulauan Madura tidak hanya menghadirkan energi, tetapi juga membuka akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan pertumbuhan ekonomi.
Di tengah berbagai keterbatasan, komitmen untuk menghadirkan listrik hingga ke wilayah terluar terus dijaga.[]
