Aceh Selatan – Di balik berkembangnya usaha kecil berbasis potensi lokal, terdapat sosok perempuan tangguh yang mampu mengolah tradisi menjadi kekuatan ekonomi.
Salah satunya adalah Sinar Hayani, warga Tapaktuan, yang sukses mengembangkan usaha olahan sereh wangi di tengah perannya sebagai istri prajurit TNI AD.
Sinar Hayani merupakan istri dari Sertu Sutrisno Wijoyo, yang kini bertugas sebagai Babinsa di Koramil 01 Tapaktuan, Kodim 0107/Aceh Selatan. Sejak menikah pada 30 Maret 2007, ia menjalani kehidupan sebagai anggota Persit Kartika Chandra Kirana dengan penuh dedikasi, mendampingi tugas suami sekaligus mengelola kehidupan keluarga.
Menjadi anggota Persit, menurut Sinar, bukanlah hal mudah. Selain kebanggaan, ada pula tantangan seperti harus siap ditinggal tugas, membatasi aktivitas pribadi, serta menjalani peran ganda dalam keluarga. Namun, kondisi tersebut justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang mandiri dan kreatif.
“Lingkungan Persit memberikan banyak dukungan. Dari situlah saya terdorong untuk tetap berkarya dan berkontribusi,” ujarnya.
Semangat itu kemudian diwujudkan melalui usaha “Padusi Tapa”, sebuah UMKM berbasis olahan sereh wangi yang ia kembangkan dari keterampilan turun-temurun keluarga.
Sejak 2020, ia mulai memproduksi minyak sereh wangi dengan metode tradisional, yakni merebus 7 hingga 8 kilogram bahan baku selama kurang lebih 12 jam untuk menghasilkan minyak berkualitas.
Seiring waktu, inovasi terus dilakukan. Kini, Padusi Tapa menghadirkan beragam produk turunan seperti minyak sereh wangi, lilin aromaterapi, sabun aromaterapi, pembersih lantai berbahan sereh, sabun cuci piring, hingga roll-on sereh.
Produk-produk tersebut dikenal memiliki aroma segar dan manfaat alami, seperti membantu mengusir nyamuk serta aman digunakan sehari-hari.
Usaha yang berlokasi di Tapaktuan ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga melibatkan masyarakat sekitar dalam proses produksi. Dalam tiga bulan terakhir, penjualan mencapai sekitar 120 produk dengan omzet berkisar Rp4–5 juta.
Padusi Tapa juga telah mengantongi izin P-IRT sejak 2023 dan saat ini sedang dalam proses pengurusan izin BPOM. Pemasaran produk masih difokuskan di wilayah Tapaktuan melalui jaringan Persit, mitra Kodim, instansi pemerintah, perbankan, serta media sosial.
Nama “Padusi Tapa” sendiri memiliki makna filosofis. Dalam bahasa Aceh, “Padusi” berarti perempuan. Nama ini terinspirasi dari legenda Tuan Tapa yang melambangkan kekuatan, keberanian, dan peran perempuan dalam kehidupan.
Bagi Sinar Hayani, usaha ini menjadi simbol kemandirian perempuan, khususnya para istri prajurit, agar tetap produktif tanpa meninggalkan peran utama dalam keluarga.
Ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan, termasuk event Persit Bisa, sebagai bentuk kontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.
Sinar berharap usahanya dapat berkembang lebih luas dan membawa nama Aceh Selatan dikenal melalui produk olahan sereh wangi.
“Kami ingin produk lokal bisa bersaing dan dikenal lebih luas. Ini juga menjadi bentuk kontribusi kecil untuk daerah,” katanya.
Kisah Sinar Hayani menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang.
Dengan inovasi dan semangat, tradisi dapat diolah menjadi peluang ekonomi yang memberi manfaat, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat sekitar.[]
