Aceh Tenggara — Pembangunan jembatan gantung perintis yang menghubungkan Desa Kumbang Jaya, Kecamatan Badar, dengan Desa Gulo, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara, terus menunjukkan progres. Hingga Rabu, 29 April 2026, pengerjaan telah mencapai 16,23 persen.
Proyek ini menjadi bagian dari upaya peningkatan infrastruktur pedesaan guna memperkuat konektivitas antarwilayah serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Di lapangan, pekerjaan difokuskan pada pembangunan pondasi tiang dan struktur awal jembatan di seberang aliran sungai.
Tahapan yang tengah dikerjakan meliputi pemasangan batu sungai pada lantai dasar pilon, pengecoran pondasi, serta penyiapan struktur penyangga utama.
Secara teknis, jembatan gantung ini memiliki panjang 220 meter, lebar 1,2 meter, dan tinggi sekitar 6 meter dari permukaan air. Jembatan tersebut melintasi sungai selebar 180 meter dengan kedalaman normal sekitar 1 meter.
Saat banjir, ketinggian air dapat mencapai 2,5 meter, sementara bantalan tepi mencapai 7 meter. Jembatan dirancang dengan kapasitas beban hingga 1 ton.
Pembangunan melibatkan 21 personel TNI AD, terdiri dari 20 personel Kodim 0108/Aceh Tenggara dan satu teknisi dari Zidam. Selain itu, 15 warga setempat turut berpartisipasi melalui gotong royong.
Sinergi antara TNI dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam kelancaran pembangunan. Hingga saat ini, situasi di lokasi terpantau aman dan didukung kondisi cuaca yang relatif cerah.
Ke depan, pengerjaan akan difokuskan pada pembesian pondasi tiang pylon, pemasangan bandul di tepi seberang, serta penyelesaian lantai kerja. Distribusi material juga terus dilakukan untuk menjaga kelancaran proses pembangunan.
Jembatan ini nantinya akan mempermudah akses bagi 635 jiwa atau 115 kepala keluarga di Desa Kumbang Jaya dan 725 jiwa atau 167 kepala keluarga di Desa Gulo, termasuk wilayah sekitarnya.
Salah seorang warga Desa Kumbang Jaya, Ismail (52), menyambut baik pembangunan tersebut. Ia mengatakan selama ini warga harus menempuh jalur memutar yang cukup jauh dan berisiko, terutama saat musim hujan.
“Kami sangat terbantu. Selama ini kalau ke Desa Gulo harus memutar jauh dan kadang berbahaya. Semoga jembatan ini segera selesai agar aktivitas lebih mudah dan ekonomi masyarakat meningkat,” ujarnya.[]
