ACEH UTARA – Anggota DPD RI/MPR RI Dapil Aceh, Tgk. Ahmada MZ, melakukan kunjungan silaturahmi dengan ulama dan masyarakat di Dayah Raudhatul Huda Mu’arif, Gampong Paya Dua, Kecamatan Banda Baro, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (11/4/2026).
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda rutin dalam mempererat hubungan antara wakil rakyat di tingkat pusat dengan masyarakat di daerah, khususnya kalangan dayah yang memiliki peran strategis dalam pembinaan umat.
Kehadiran Tgk. Ahmada yang didampingi sejumlah tokoh setempat disambut hangat oleh pimpinan dayah, para santri, dan masyarakat. Pertemuan berlangsung sederhana namun penuh keakraban, mencerminkan kuatnya nilai kebersamaan dalam tradisi masyarakat Aceh.
Dalam kesempatan itu, Tgk. Ahmada menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi antara pemerintah dan ulama. Menurutnya, ulama memiliki peran sentral dalam menjaga nilai keislaman, moralitas, serta menjadi penyejuk di tengah dinamika sosial masyarakat.
“Dayah bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga benteng akhlak dan pusat pembinaan generasi muda. Karena itu, hubungan antara pemerintah dan dayah harus terus diperkuat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan komitmennya untuk terus memperjuangkan aspirasi masyarakat Aceh, terutama yang berkaitan dengan penguatan pendidikan dayah, peningkatan kesejahteraan tenaga pengajar, serta pembangunan daerah yang berkeadilan.
Pimpinan Dayah Raudhatul Huda Mu’arif menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut dan berharap perhatian dari para wakil rakyat dapat terus berlanjut, khususnya dalam mendukung pengembangan fasilitas pendidikan dan peningkatan kualitas pembelajaran di dayah.
Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang dialog antara masyarakat dan wakil mereka di tingkat nasional. Berbagai aspirasi disampaikan, mulai dari kebutuhan sarana pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, hingga penguatan nilai keagamaan di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan kenang-kenangan atas kunjungan tersebut.
Momentum ini diharapkan dapat semakin mempererat hubungan antara ulama, masyarakat, dan pemerintah, serta menjadi langkah nyata dalam membangun Aceh yang lebih maju dengan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman. (**)
