![]() |
| Petugas mengevakuasi warga terdampak banjir di Jakarta setelah hujan deras mengguyur sejumlah wilayah, menyebabkan ribuan jiwa terdampak dan ratusan rumah terendam air. |
JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan serangkaian bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia hingga Rabu (6/5/2026) pagi.
Bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan tanah longsor, masih menjadi ancaman utama dengan dampak signifikan bagi masyarakat.
Berdasarkan laporan Direktorat Koordinasi dan Pengendalian Operasi (Koordalops), curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir memicu bencana di sejumlah daerah, terutama di wilayah perkotaan dan kawasan rawan longsor.
Di DKI Jakarta, banjir meluas setelah hujan berintensitas tinggi sejak Senin (4/5) malam. Sedikitnya 28 kelurahan di 12 kecamatan yang tersebar di Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur terdampak.
Data BPBD mencatat sebanyak 1.582 kepala keluarga atau 4.755 jiwa terdampak, dengan lebih dari 1.500 unit rumah terendam.
Petugas BPBD bersama instansi terkait melakukan penanganan cepat, mulai dari kaji cepat hingga koordinasi lintas sektor.
Hingga Selasa (5/5), genangan di sebagian besar wilayah dilaporkan mulai berangsur surut, meski kewaspadaan tetap ditingkatkan.
Banjir juga terjadi di Kota Tangerang, tepatnya di Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh. Sebanyak 60 kepala keluarga terdampak, dan sebagian warga sempat mengungsi ke lokasi aman seperti rumah pemotongan hewan dan rumah ibadah.
Kondisi berangsur membaik pada sore hari, dan warga telah kembali ke rumah masing-masing.
Sementara itu, di Kabupaten Bandung, banjir merendam permukiman di Desa Cilampeni, Kecamatan Katapang.
Sebanyak 63 kepala keluarga terdampak, dengan puluhan rumah serta fasilitas ibadah ikut terendam. Penanganan dilakukan secara terpadu oleh BPBD dan pemerintah daerah, dan kondisi kini dilaporkan berangsur pulih.
Selain banjir, bencana tanah longsor juga terjadi di sejumlah wilayah di Jawa Barat. Di Kota Bogor, longsor menyebabkan 17 kepala keluarga atau 54 jiwa terdampak, dengan kerusakan pada rumah warga dan fasilitas umum, baik kategori sedang maupun berat.
Peristiwa tragis juga terjadi di Kabupaten Bogor, di mana seorang warga meninggal dunia setelah tertimbun longsor saat beraktivitas di area tebing. Korban ditemukan tim SAR beberapa jam setelah kejadian dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Kejadian serupa terjadi di Kabupaten Cianjur. Longsor yang dipicu hujan deras dan angin kencang menyebabkan tembok penahan tanah roboh dan menimpa seorang pekerja yang tengah memperbaiki gorong-gorong. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia sehari setelah kejadian.
Memasuki masa peralihan musim, peningkatan curah hujan menjadi faktor utama meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.
Kondisi tanah yang jenuh air, terutama di kawasan lereng dan perbukitan, serta sistem drainase yang kurang optimal turut memperbesar potensi banjir dan longsor.
BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana.
Pemantauan informasi cuaca melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta kanal resmi BNPB dinilai penting untuk mengantisipasi risiko.
Selain itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan saluran air dan segera melakukan evakuasi mandiri jika muncul tanda-tanda bahaya, seperti retakan tanah, suara gemuruh, atau kenaikan debit air secara cepat.
Di sisi lain, pemerintah daerah diminta memperkuat sistem peringatan dini, memastikan kesiapan jalur evakuasi, serta menyediakan logistik darurat bagi warga terdampak.
Edukasi dan sosialisasi mitigasi bencana juga menjadi kunci dalam mengurangi risiko di masa mendatang.
Dengan intensitas bencana yang masih tinggi, kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat menjadi faktor krusial dalam menghadapi ancaman hidrometeorologi yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.[]
