![]() |
| Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S Deyang. Foto: Dok. BGN |
MAKASSAR — Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang, menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai ruang pembelajaran nyata bagi perguruan tinggi.
“MBG adalah laboratorium bagi kampus. Semua fakultas bisa terlibat dan mengambil peran sesuai bidangnya,” ujar Nanik saat mengunjungi Universitas Hasanuddin, Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, program MBG lahir dari kepedulian terhadap masih banyaknya masyarakat yang belum mendapatkan akses pangan yang layak.
“Masih banyak saudara kita yang belum bisa makan dengan baik. Ini menjadi semangat utama program MBG,” katanya.
Menurut Nanik, BGN membuka ruang kolaborasi luas bagi perguruan tinggi untuk memberikan masukan guna meningkatkan efektivitas pelaksanaan program.
Salah satu bentuk keterlibatan yang diharapkan adalah partisipasi mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), khususnya dari bidang kesehatan.
Ia berharap Universitas Hasanuddin dapat menjadi pelopor bagi kampus lain dalam mengoptimalkan peran MBG.
“Kami berharap Unhas memimpin dan mendorong kampus-kampus lain agar program ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Nanik juga mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui program tanggung jawab sosial (CSR), untuk mendukung pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Ia turut mengapresiasi kesiapan fasilitas dan sumber daya Universitas Hasanuddin, termasuk laboratorium yang dinilai mampu mendukung proses investigasi jika terjadi kejadian luar biasa dalam pelaksanaan program.
“Kami berharap laboratorium Unhas dapat membantu pengecekan jika terjadi kasus terkait keamanan pangan,” katanya.
Dalam paparannya, Nanik juga menyoroti dampak ekonomi dari program MBG yang mulai mendorong pertumbuhan industri pendukung, seperti peralatan rumah tangga dan rantai pasok pangan.
“Perputaran uang di masyarakat meningkat, ini menjadi efek ekonomi yang sangat penting,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan, seperti keterbatasan pasokan buah serta dominasi industri besar dalam penyediaan ayam. Karena itu, ia mendorong penguatan sektor peternakan dan pengembangan bahan baku lokal.
“Kami berharap Unhas dapat menjadi pusat pengembangan bahan baku untuk mendukung program MBG,” ucapnya.
Nanik juga menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam mendukung keberlanjutan program tersebut.
“Kebutuhan SDM sangat besar, mulai dari tenaga pengawas gizi, akuntan, hingga ahli sanitasi lingkungan,” pungkasnya.[]
