Rumoh Kak Dar Lamlhom, Menjaga Warisan Kue Tradisional Aceh di Tengah Keterbatasan

Editor: Syarkawi author photo

 


Kota Jantho — Di tengah menjamurnya kue modern dan makanan instan, aroma khas dodol dan meuseukat masih terus mengepul dari dapur-dapur rumahan di Gampong Lamlhom, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. 

Dari desa tersebut, para pelaku usaha rumahan tetap berjuang mempertahankan cita rasa kuliner tradisional Aceh yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satunya adalah usaha rumahan milik Yunidar (61), yang dikenal masyarakat dengan nama Star Dodol Rumoh Kak Dar. 

Dari rumah sederhananya, Yunidar rutin memproduksi berbagai kue khas Aceh seperti dodol, meuseukat, wajik, hingga keukarah untuk memenuhi pesanan masyarakat.

Usaha yang telah dijalankannya selama bertahun-tahun itu tetap bertahan meski menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari peralatan produksi hingga kenaikan harga bahan baku.

“Alhamdulillah masih ada yang pesan, apalagi menjelang meugang atau hari raya,” ujar Yunidar saat ditemui di kediamannya, Jumat (8/5/2026).

Menurut Yunidar, dodol menjadi salah satu produk paling diminati. Dalam sekali pesanan, dodol dijual dengan harga Rp320 ribu hingga Rp330 ribu per talam dan biasanya dipesan untuk hajatan keluarga, kenduri, hingga perayaan hari besar keagamaan.

Tak jauh dari rumah Yunidar, Rosni (46) juga menjalankan usaha produksi kue tradisional miliknya sendiri. 

Meski memiliki rumah produksi berbeda, keduanya sama-sama berupaya mempertahankan eksistensi kuliner khas Aceh di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

Rosni mengaku proses produksi kini semakin menantang akibat naiknya harga bahan baku, terutama gula dan tepung ketan yang menjadi komponen utama pembuatan kue tradisional Aceh.

Menurutnya, kualitas dodol juga ikut terpengaruh karena tingginya biaya produksi, terutama untuk penggunaan santan kelapa yang menjadi kunci cita rasa khas dodol Aceh.

“Sampai sekarang kami belum pernah mendapat bantuan usaha. Padahal kami sangat membutuhkan perhatian untuk mengembangkan home industry ini. Alat yang kami gunakan juga masih seadanya,” keluh Rosni.

Ia berharap ada dukungan pemerintah berupa bantuan modal usaha, pelatihan, maupun pendampingan agar usaha rumahan seperti yang mereka jalankan dapat berkembang lebih baik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Selain dodol, Yunidar dan Rosni juga memproduksi meuseukat serta keukarah, dua jenis kue tradisional Aceh yang masih banyak diburu masyarakat, terutama saat momen Lebaran dan kenduri adat.

Bagi mereka, usaha kecil tersebut bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan kuliner Aceh agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Di balik dapur sederhana dan peralatan seadanya, semangat mempertahankan cita rasa tradisional tetap menyala. Usaha mikro seperti Rumoh Kak Dar menjadi bukti bahwa warisan kuliner Aceh masih hidup di tangan masyarakat yang setia menjaga resep dan tradisi turun-temurun.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Diskopukmdag) Aceh Besar, Drs. Sulaimi, M.Si., mengatakan pihaknya terus melakukan pembinaan dan pendampingan terhadap pelaku usaha home industry di Gampong Lamlhom sebagai upaya memperkuat kapasitas usaha masyarakat.

Menurutnya, pembinaan tersebut tidak hanya menyasar peningkatan kualitas produk, tetapi juga penguatan kemampuan manajemen usaha, termasuk pengelolaan keuangan bagi pelaku UMKM.

“Selama ini kami telah melakukan berbagai bentuk pembinaan dan pendampingan kepada pelaku home industry di Lamlhom, termasuk pelatihan manajemen keuangan yang dilaksanakan bekerja sama dengan PT SBA Lhoknga,” ujar Sulaimi.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pelaku usaha yang tetap konsisten mempertahankan produksi kue tradisional Aceh di tengah berbagai tantangan usaha saat ini.

Menurutnya, keberadaan usaha rumahan tersebut tidak hanya menjaga warisan kuliner daerah, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat di Aceh Besar.

“Kami sangat mengapresiasi para pelaku usaha yang terus menjaga tradisi dan cita rasa kue khas Aceh. Ini bukan hanya soal usaha ekonomi, tetapi juga bagian dari menjaga identitas budaya daerah yang memiliki nilai historis dan ekonomi bagi masyarakat Aceh Besar,” pungkasnya.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini