Atasi Kekeringan, Kodim 0101/KBA dan DPRK Aceh Besar Siapkan Pompanisasi untuk 60 Hektare Sawah

Editor: Syarkawi author photo

 


ACEH BESAR – Kodim 0101/Kota Banda Aceh bersama DPRK Aceh Besar menyiapkan langkah untuk mengatasi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian melalui rencana pembangunan jaringan pompanisasi dan pipanisasi.

Sistem tersebut dirancang untuk mengalirkan air dari sumber mata air Pucok Krueng, Kecamatan Lhoknga, menuju lahan persawahan warga.

Upaya tersebut diawali dengan peninjauan sumber mata air di kawasan Pucok Krueng oleh Pgs. Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) Kodim 0101/Kota Banda Aceh Mayor Inf Sumastono bersama Ketua DPRK Aceh Besar Abdul Muchti, A.Md., Kamis (20/8/2026).

Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung potensi sumber air sekaligus kondisi geografis dan medan yang akan dilalui jaringan pipa sebelum rencana pompanisasi dan pipanisasi direalisasikan.

Dari hasil pemantauan, sumber mata air Pucok Krueng dinilai memiliki debit yang cukup untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian. Namun, posisi lahan persawahan yang berada lebih tinggi dibandingkan sumber air menjadi salah satu kendala yang perlu diatasi.

Karena itu, sistem pompanisasi diperlukan untuk mendorong air dari sumber menuju jaringan pipa, selanjutnya dialirkan ke area persawahan secara lebih efektif.

Mayor Inf Sumastono mengatakan, peninjauan tersebut merupakan langkah awal untuk memastikan potensi sumber air Pucok Krueng dapat dimanfaatkan dalam membantu petani menghadapi kondisi kekeringan.

“Dari hasil peninjauan, sumber air di Pucok Krueng cukup untuk dimanfaatkan mengairi lahan persawahan. Namun karena posisi sawah lebih tinggi dari sumber air, tentunya diperlukan pompanisasi dan pipanisasi agar air dapat dialirkan secara optimal,” ujar Sumastono.

Ia menjelaskan, rencana tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi sekitar 60 hektare lahan persawahan, masing-masing 25 hektare di Sawah Blang Raba dan 35 hektare di Sawah Musang.

“Luas lahan yang direncanakan mendapatkan aliran air sekitar 60 hektare. Ini merupakan potensi yang sangat baik untuk membantu masyarakat petani, terutama dalam menghadapi kekeringan,” jelasnya.

Selain perbedaan ketinggian, jarak antara sumber mata air dan lahan persawahan juga menjadi bagian penting dalam perencanaan. Jarak menuju Sawah Blang Raba diperkirakan sekitar satu kilometer, sedangkan menuju Sawah Musang sekitar 1,5 kilometer.

“Yang paling penting adalah bagaimana sistem ini nantinya dapat dibangun secara efektif dan mampu mengalirkan air secara berkelanjutan ke lahan persawahan. Kita berharap rencana ini dapat direalisasikan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan para petani,” tambahnya.

Rencana pompanisasi dan pipanisasi tersebut diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian masyarakat di wilayah Lhoknga, terutama selama musim kering.

Pemanfaatan sumber mata air Pucok Krueng secara optimal juga diharapkan dapat menjaga produktivitas lahan pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat.

Kodim 0101/Kota Banda Aceh bersama pemerintah daerah dan pihak terkait akan terus mendorong pemanfaatan sumber daya air yang tersedia melalui langkah yang terukur dan sesuai kebutuhan di lapangan.

Dengan adanya jaringan pengairan tersebut nantinya, lahan pertanian yang terdampak kekeringan diharapkan tetap mendapatkan pasokan air sehingga aktivitas pertanian masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini