Azanuddin Kurnia Raih Penghargaan Hari Damai Aceh, Dinilai Berkontribusi dalam Pemulihan Pertanian

Editor: Syarkawi author photo

 


BANDA ACEH – Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP., MP., menerima penghargaan dalam rangkaian peringatan Hari Damai Aceh ke-21 yang berlangsung di Gedung Balai Meuseuraya Aceh (BMA), Sabtu (15/8/2026).

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Gubernur Aceh melalui Kepala Badan Reintegrasi Aceh (BRA), Jamaluddin, SH., M.Kn. Peringatan Hari Damai Aceh tahun ini mengusung tema “Dignity, Justice, and Hope”.

Azanuddin menjadi salah satu dari puluhan tokoh yang menerima penghargaan atas kontribusi dalam menjaga perdamaian serta mendukung berbagai proses pembangunan dan pemulihan Aceh.

Perdamaian dinilai menjadi modal penting bagi Aceh untuk melanjutkan cita-cita para pendahulu sekaligus membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi saat ini dan mendatang.

Dinilai Berkontribusi Pulihkan Sektor Pertanian

Azanuddin dinilai turut memberikan kontribusi dalam upaya pemulihan sektor pertanian Aceh, khususnya setelah bencana hidrometeorologi yang berdampak terhadap sejumlah wilayah.

Sebelumnya, Pemerintah Aceh melalui Juru Bicara Gubernur Aceh, Dr. Nurlis Efendy, menyampaikan sekitar 57.485 hektare lahan sawah terdampak bencana hidrometeorologi.

Dari luasan tersebut, sekitar 27.437 hektare mengalami kerusakan ringan, 13.651 hektare rusak sedang, 16.276 hektare rusak berat, dan sekitar 120 hektare sawah dinyatakan hilang.

Untuk lahan yang mengalami kerusakan ringan dan sedang, upaya optimasi dan rehabilitasi telah dan sedang dilakukan pada sekitar 40.852 hektare.

Program tersebut dilaksanakan Kementerian Pertanian bersama Distanbun Aceh dan dinas terkait di kabupaten/kota yang terdampak bencana.

Sementara untuk sawah yang mengalami kerusakan berat, Azanuddin mengusulkan sejumlah strategi pemulihan.

Pertama, material lumpur yang terdapat di lahan sawah dapat dimanfaatkan sebagai bahan galian C untuk berbagai kebutuhan proyek pemerintah maupun kegiatan lainnya, dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Kedua, lahan sementara dapat ditanami komoditas yang sesuai dengan kondisi tanah, seperti bawang merah, cabai merah, jagung, ubi kayu, sayuran, serta komoditas lain yang diminati petani.

Ketiga, material hasil bencana dapat dikembangkan sebagai bahan baku pembuatan bata ringan maupun bata merah.

Konsep tersebut telah dikaji melalui kolaborasi Forum Zakat, BRIN, USK, dan Nurul Hayat. Distanbun Aceh juga terus berkoordinasi dengan tim peneliti untuk mengembangkan konsep pemanfaatan material tersebut.

Keempat, dilakukan rehabilitasi terhadap lahan sawah yang mengalami kerusakan berat agar dapat dikembalikan ke kondisi produktif seperti sebelum bencana.

Strategi pemulihan tersebut sebelumnya dipaparkan Azanuddin dalam Rapat Koordinasi Pembahasan Sawah Terdampak Rusak Berat yang dilaksanakan Satgas PRR secara daring melalui Zoom.

Pemulihan Lahan Perkebunan

Tidak hanya sektor persawahan, Kementerian Pertanian juga mengalokasikan program pemulihan untuk sekitar 40.418 hektare areal perkebunan yang terdampak bencana.

Areal tersebut terdiri atas sekitar 30.039 hektare tanaman kopi, 9.034 hektare kakao, 830 hektare kelapa, dan 495 hektare karet.

Selain program pemulihan lahan, pemerintah juga memberikan bantuan berupa benih padi dan jagung serta ribuan alat dan mesin pertanian (alsintan).

“Semua berada pada Satker Pusat dan pada balai di bawah Kementan,” ujar Azanuddin.

Penghargaan untuk Semua Pihak

Atas penghargaan yang diterimanya, Azanuddin menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Aceh dan seluruh pihak yang selama ini mendukung pelaksanaan tugasnya.

“Kami tidak menyangka mendapatkannya. Terima kasih juga kepada Pak Wagub, Sekda, BRA, rekan-rekan Distanbun Aceh dan seluruh rekan-rekan di Kementan, termasuk Pak Mentan dan para Dirjen terkait, rekan-rekan dinas kabupaten/kota, terutama para petani dan pekebun,” kata Azanuddin, Seperti di kutip PORTALNUSA.com.

Menurutnya, penghargaan tersebut bukan semata-mata untuk dirinya, tetapi merupakan bentuk apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan dan pemulihan sektor pertanian serta perkebunan Aceh.

“Penghargaan ini adalah untuk kita semua, sebagai penyemangat untuk terus berbuat lebih baik, terutama dalam proses pemulihan Aceh pascabencana pada sektor pertanian dan perkebunan,” ujarnya.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini