Milad Samudera Pasai ke-800 Ditutup, Ayahwa Ajak Masyarakat Jaga Warisan Indatu

Editor: Syarkawi author photo

 


ACEH UTARA – Rangkaian peringatan Milad Samudera Pasai ke-800 resmi berakhir setelah berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. 

Penutupan kegiatan dipimpin Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah atau Dek Fad di Lapangan Landing, depan Kantor Bupati Aceh Utara, Lhoksukon, Minggu malam (13/9/2026).

Peringatan yang digelar sejak 6 September 2026 tersebut diisi berbagai kegiatan yang mengangkat sejarah, seni, budaya, serta tradisi masyarakat Aceh Utara.

Dalam kesempatan itu, Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil atau Ayahwa menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan peringatan Milad Samudera Pasai ke-800.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada panitia, pemerintah daerah, masyarakat, komunitas, pelaku seni dan budaya, serta seluruh warga yang ikut meramaikan rangkaian kegiatan hingga malam penutupan.

Berbicara dalam bahasa Aceh, Ayahwa menegaskan bahwa Samudera Pasai tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga merupakan warisan yang memiliki hubungan erat dengan identitas masyarakat Aceh Utara.

Ia mengajak masyarakat menjadikan momentum 800 tahun Samudera Pasai sebagai pengingat untuk menjaga tanah, adat, budaya, serta nilai-nilai yang diwariskan para indatu.

“Samudera pase koen teumpat yang Baroe, teumpat geutanyoe yang keubah manyet indatu, ma deungoen ku, yang brie keu geutanyoe ie deungoen bu, teumpat geutanyoe udep mulia, dan teumpat geutanyoe mate mulia, yang ta teurimoeng dari indatu nyan wajeb tapulang keu Aneuk cucoe, meunyoe han euk leubeh lom, ham jeut kureung nibak yang kana,” kata Ayahwa.

Menurutnya, warisan sejarah tidak boleh berhenti pada satu generasi. Apa yang telah diterima dari leluhur harus dirawat dan diteruskan kepada anak cucu agar nilai-nilai Samudera Pasai tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga bumoe Samudera Pase sebagai ruang kehidupan masyarakat sekaligus simbol sejarah yang memiliki arti penting bagi Aceh Utara.

Ayahwa juga berharap semangat gotong royong yang terlihat selama pelaksanaan Milad Samudera Pasai ke-800 dapat terus dipertahankan setelah seluruh rangkaian kegiatan berakhir.

“Teurimoeng geunaseh keu masyarakat, keu mandum pihak, yang ka grak sama sama semoga Allah SWT, beu geuridza, beu geu ikhtiyeu geutanyoe, beu geujaga bumoe Samudera Pase, neubri keberkahan keu mandum rakyat, beserta beu geu bimbingan langkah geutanyoe menuju Aceh Utara bangkit, Aceh Utara yang leubeh maju, bermartabat, seujahtra dan ade, ta jaga adat tapeukoeng syariat,” ujarnya.

Ia mengatakan, peringatan sejarah harus memberikan dampak lebih jauh, bukan sekadar menjadi kegiatan seremonial.

Sejarah Samudera Pasai diharapkan mampu memperkuat rasa kebersamaan sekaligus membangun kesadaran generasi muda terhadap akar sejarah daerah.

Semangat tersebut, lanjutnya, harus diiringi dengan upaya mempertahankan adat dan memperkuat pelaksanaan syariat dalam kehidupan masyarakat.

Menutup sambutannya, Ayahwa mengajak masyarakat bersama-sama melanjutkan pembangunan Aceh Utara dengan semangat kebangkitan daerah.

“Aceh Utara bangkit, bangkit, bangkit,” serunya.

Ajakan tersebut disambut antusias masyarakat yang memadati Lapangan Landing. Ayahwa kemudian menutup sambutannya dengan pantun Aceh.

“Bungoeng jumpa keumang meutabu, bungoeng meulu bungoeng meu banja, Aceh Utara bangkit wajeb ta tuju, barat ngoen timu beu sapu haba.”

Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan selama tujuh hari tujuh malam, Milad Samudera Pasai ke-800 tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan sejarah kerajaan Islam tersebut, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat kecintaan terhadap seni, budaya, adat, dan identitas masyarakat Aceh Utara.

Peringatan tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk menjaga warisan sejarah sekaligus mendorong semangat kebersamaan dalam mewujudkan Aceh Utara yang lebih maju dan bermartabat.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini