![]() |
| Tim Riset OMI dari MTsN 1, MAN 1, dan MAN 2 Kota Banda Aceh |
Banda Aceh – Tiga madrasah di Kota Banda Aceh berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan menempatkan tim riset mereka dalam 30 besar Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Riset 2026.
Ketiga madrasah tersebut yakni MTsN 1 Model Banda Aceh, MAN 1 Banda Aceh, dan MAN 2 Banda Aceh. Prestasi itu mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Banda Aceh, Dr H Salman, S.Pd., M.Ag.
Salman menyampaikan selamat kepada para siswa, guru pembimbing dan seluruh keluarga besar madrasah atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan itu menunjukkan bahwa madrasah di Banda Aceh memiliki potensi besar dalam bidang riset dan inovasi.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur dan bangga. Tiga madrasah di Kota Banda Aceh berhasil masuk Top 30 OMI Riset tingkat nasional. Ini merupakan bukti bahwa madrasah kita memiliki potensi besar dalam bidang riset, inovasi, dan pengembangan gagasan yang relevan dengan kebutuhan zaman,” ujar Salman, Kamis (10/9/2026).
MTsN 1 Model Banda Aceh berhasil masuk Top 30 melalui penelitian berjudul “INONG TANGGUH: Pembelajaran Mendalam Berbasis Kearifan Lokal Aceh untuk Pemberdayaan Remaja Perempuan melalui Kesiapsiagaan Bencana.”
Tim yang terdiri atas Muhammad Daiyan Jalal Ifansyah, Moehammad Zidan Ar-Rayyan dan Muhammad Yusuf Alfarabi itu berlaga pada bidang Sustainable Development Goals (SDGs) jenjang MTs. Penelitian tersebut dibimbing Nurmahni Harahap, M.Pd. dan Halimatus Sakdiah Hasibuan, S.Pt.
Sementara itu, MAN 1 Banda Aceh menembus Top 30 melalui penelitian “Mind-Visualizer Berbasis p5.js: Aplikasi Terapi Geometri Audio-Visual Interaktif untuk Mereduksi Tingkat Kecemasan Akademik Remaja.”
Penelitian pada bidang SDGs jenjang Madrasah Aliyah tersebut dikerjakan Jihan Adila dan Wawa Annaisa Ridda dengan bimbingan Siti Qobatiah, S.Si.
Adapun MAN 2 Banda Aceh tampil melalui penelitian “Evolusi Qanun: Dari Multaqa Al Azhar, Meukuta Alam, Hingga Qanun Aceh Modern.”
Penelitian yang dikerjakan Afzalikha Kayla Qanitah dan Zahratul Mahfuzah itu berada pada bidang Ekoteologi (Integrasi Keislaman dan Keilmuan) jenjang Madrasah Aliyah.
Salman menilai keberhasilan tiga madrasah tersebut tidak hanya mencerminkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga menunjukkan kemampuan mereka mengidentifikasi persoalan nyata dan mengembangkannya menjadi karya ilmiah yang kritis serta inovatif.
“Yang membanggakan adalah tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari kesiapsiagaan bencana berbasis kearifan lokal Aceh, pemanfaatan teknologi untuk mendukung kesehatan psikologis remaja, hingga kajian sejarah dan perkembangan qanun Aceh,” katanya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para guru pembimbing dan pihak madrasah yang terus memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi serta membangun budaya riset.
“Selamat kepada seluruh tim. Semoga capaian Top 30 ini menjadi motivasi untuk terus berkarya dan memberikan hasil terbaik pada tahapan selanjutnya. Mudah-mudahan prestasi ini juga menginspirasi madrasah lainnya di Kota Banda Aceh untuk semakin aktif membangun budaya riset dan inovasi,” ujar Salman.
Masuknya tiga madrasah Banda Aceh dalam Top 30 OMI Riset 2026 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi di lingkungan madrasah, sekaligus mendorong lahirnya generasi yang kritis, kreatif dan peka terhadap berbagai persoalan masyarakat.[]
