Debat Gubernur Aceh Ricuh, Ketua DPA Laskar Panglima Nanggroe Sebut Bustami Pengecut

Editor: Syarkawi author photo


Banda Aceh – Debat ketiga pasangan calon gubernur Aceh berakhir ricuh hanya beberapa menit setelah dimulai. Ketua DPA Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf, dengan tegas menyebut Bustami Hamzah, calon gubernur nomor urut 1, sebagai pengecut yang tak mampu bermain fair di ajang demokrasi.

Kericuhan terjadi saat pasangan calon nomor urut 2, Muzakir Manaf alias Mualem dan Fadhlullah Dekfad, selesai memaparkan visi-misi mereka di bawah tema debat kali ini. Ketika giliran pasangan Bustami-Fadhil Rahmi, suasana memanas. Para pendukung Mualem tiba-tiba berteriak dan menyerbu panggung, menuding adanya kecurangan dari pihak lawan.

"Kecurangan seperti ini adalah pengkhianatan terhadap rakyat Aceh. Jika dia (Bustami) sudah curang di panggung debat, bagaimana nanti saat dia memimpin?" ujar Sulaiman Manaf dalam pernyataan kerasnya di hadapan awak media usai kericuhan.


Protes dan Tuduhan 'Curang'

Situasi mulai tak terkendali ketika beberapa pendukung Mualem meneriakkan kata-kata “Ombus Curang, Bustami Curang”. Tuduhan tersebut muncul karena sebuah benda mencurigakan yang tampak disematkan di kerah baju Bustami. Tak lama, seorang pendukung Mualem berlari ke arah meja komisioner KIP Aceh, yang disusul sejumlah orang naik ke atas panggung.

Para pendukung dari kedua kubu dengan cepat mengamankan pasangan calon masing-masing. Moderator terpaksa menghentikan jalannya debat, sementara situasi semakin tak terkendali.

Ketua KIP Aceh, Agusni AH, akhirnya memutuskan untuk menghentikan debat yang digelar pada Rabu (20/11/2024) pukul 21.45 WIB. “Setelah berkoordinasi dengan semua pihak, kami memutuskan debat tidak dilanjutkan karena situasi sudah tidak kondusif dan waktu telah melebihi batas,” ujar Agusni dari atas panggung.

Dalam pernyataan yang sama, Agusni membenarkan adanya indikasi pelanggaran yang dilakukan oleh paslon nomor urut 1. “Kami menerima laporan terkait dugaan alat komunikasi yang tidak sesuai aturan di kerah baju paslon nomor urut 1. Ini akan menjadi bahan evaluasi kami,” katanya, tanpa merinci lebih jauh soal investigasi yang akan dilakukan.


Sulaiman Manaf: "Ini Bukan Aksi Jantan"

Di sisi lain, Ketua DPA Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf, tidak menahan diri dalam mengkritik Bustami. Menurutnya, tindakan semacam ini mencoreng marwah politik Aceh.

“Ini bukan aksi jantan, ini tindakan pengecut. Rakyat Aceh butuh pemimpin yang berani dan jujur, bukan yang bermain curang di depan mata publik,” tegasnya.

Sulaiman juga meminta KIP Aceh untuk bertindak tegas atas kejadian tersebut. “Jika kecurangan ini dibiarkan, maka demokrasi di Aceh akan menjadi bahan tertawaan. Kita tidak ingin Aceh kembali ke masa kelam,” tambahnya.


Adu Strategi atau Adu Ricuh?

Debat yang seharusnya menjadi ajang adu gagasan kini berubah menjadi panggung kontroversi. Publik pun menyoroti lemahnya pengawasan KIP Aceh dalam mengantisipasi insiden semacam ini.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Bustami-Fadhil terkait tuduhan tersebut. Namun, pengamat politik Aceh menyebut bahwa insiden ini menunjukkan bagaimana ketegangan politik di Aceh tidak hanya berlangsung di balik layar, tetapi juga di hadapan publik.

Apakah kericuhan ini akan memengaruhi elektabilitas kedua pasangan calon? Atau justru menguatkan loyalitas pendukung masing-masing? Satu hal yang pasti, Aceh sedang menyaksikan salah satu babak paling panas dalam sejarah politiknya.[***]

Share:
Komentar

Berita Terkini