Kampung Iklim: Solusi Nyata Hadapi Perubahan Iklim di Aceh

Editor: Syarkawi author photo

 Muhammad Aldi, Siswa SMA Negeri 1 Bireuen. Juara I (Satu) Lomba Opini Siswa SMA/SMK Se-Aceh kerjasama Dinas Pendidikan Aceh dan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA).

Oleh : Muhammad Aldi

Meuligoeaceh.com - Perubahan iklim adalah salah satu tantangan yang sedang dihadapi oleh seluruh penjuru dunia saat ini, termasuk Indonesia. Salah satu provinsi yang terkenal akan tari samannya ini juga tidak luput dari dampak perubahan iklim tersebut. Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki keanekaragaman ekosistem, seperti hutan, laut, dan sebagainya. Namun, dengan adanya perubahan iklim yang ekstrem, potensi permasalahan seperti, kenaikan suhu yang tinggi, kekeringan, gagal panen, bencana alam, hingga kurangnya kesuburan tanah kerap terjadi. Untuk menjawab tantangan ini pemerintah menghadirkan Program Kampung Iklim (ProKlim), yaitu program yang mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan yang bisa mengurangi dampak perubahan iklim dan gas rumah kaca. Kegiatan yang dilakukan adalah hal-hal sederhana yang berdampak besar seperti menerapkan 3M (Menguras, Menimbun, Menutup) untuk memberantas nyamuk penyebar penyakit, melaksanakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk memaksimalkan pengolahan sampah, membuat daerah resapan air untuk mencegah banjir, sanitasi air bersih, hingga memanfaatkan lahan pekarangan. Oleh asisten perekonomian dan pembangunan sekda Aceh Zulkifli, di provinsi Aceh sendiri memiliki 350 kampung iklim. Salah satunya gampong Cot Jrat, kecamatan Kota Juang yang ada di Bireuen.

Kampung iklim ini sangat penting untuk mencegah perubahan iklim dan dampak gas rumah kaca dengan mendorong masyarakat untuk melakukan aksi melindungi lingkungan. Maka dari itu, pemerintah berinovasi mengembangkan Refused Derived Fuel, yaitu teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bakar yang menghasilkan energi ramah lingkungan. Cara kerjanya melibatkan beberapa tahap yaitu, pengumpulan dan pemilahan sampah meliputi sampah anorganik seperti plastik dan styrofoam, penghancuran dan pencacahan, pengeringan untuk meningkatkan efisiensi pembakaran, pembentukan menjadi pelet, dan pembakaran. Dengan adanya teknologi tersebut, sampah yang sulit terurai bukan lagi menjadi masalah, emisi gas rumah kaca bisa terkendali, dan sampah di desa tersebut berkurang. Untuk melakukan hal tersebut, masyarakat bergotong royong membersihkan desa sehingga sampah yang dihasilkan bisa dipilah antara sampah organik dan anorganik. Sampah organik akan diolah menjadi kompos, biogas, eco enzyme, hingga pakan ternak. Sedangkan sampah anorganik bisa diolah menjadi eco brick, menjadikannya pelet untuk bahan bakar yang menghasilkan energi ramah lingkungan, hingga paving block.

Dengan adanya Program Kampung Iklim ini, membuat masyarakat dan kaum pemuda termotivasi untuk melindungi lingkungan. Di setiap desa yang ditetapkan sebagai kampung iklim ini memiliki TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di setiap titiknya. Proses pengelolaan pada TPS 3R dimulai dengan memilah sampah yang dilakukan langsung oleh warga, sampah yang telah diolah dapat digunakan untuk keperluan pertanian, produk bernilai ekonomi, hingga bahan baku industri. Tujuan dari adanya fasilitas ini adalah untuk mengolah sampah yang telah dipungut, mendaur ulangnya, memanfaatkan kembali, hingga mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan. Ekonomi masyarakat juga terbantu berkat adanya bank sampah, terutama ibu rumah tangga dan para pemulung, dimana sampah yang dikumpulkan bisa diubah menjadi uang.

Program ini secara efektif menangani masalah banjir, longsor, dan kekeringan dengan langkah pencegahan yang inovatif. Pemerintah telah membangun infrastruktur penting seperti jaringan irigasi untuk mengatur aliran air yang berfungsi sebagai drainase, sumur resapan untuk menyerap kelebihan air hujan, serta lubang biopori yang diletakkan di beberapa titik. Di beberapa desa, dibangun juga rumah hijau yang difokuskan untuk pembibitan tanaman. Kegiatan penanaman pohon juga dilakukan dengan tujuan untuk memperbanyak daerah resapan karbon dioksida alami, memperkuat struktur tanah, dan mengurangi resiko longsor. Di sepanjang garis pantai, batu-batu besar telah ditempatkan secara strategis sebagai penahan alami untuk mencegah banjir rob yang terjadi akibat kenaikan permukaan laut oleh perubahan iklim.

Selain itu, dengan adanya Program Kampung Iklim ini pastinya sangat memberi edukasi, motivasi dan kesadaran kepada masyarakat akan perubahan iklim yang terjadi. Mereka sadar dan melakukan hal baik dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu seperti perilaku hidup bersih dan sehat. Perwujudan dari perilaku ini yaitu tidak membuang sampah sembarangan, melakukan 3M (Menguras, Menimbun, Menutup) untuk mencegah adanya penyakit demam berdarah dan malaria yang disebabkan oleh nyamuk, hingga tidak buang air besar di sembarang tempat.

Tidak semua kampung di Indonesia merupakan kampung iklim, jadi merawat lingkungan itu tidak harus dimulai dari yang besar melainkan yang sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mendaur ulang sampah, menggunakan lebih sedikit sampah sekali pakai dan mengurangi pemakaian transportasi pribadi yang bisa meningkatkan gas rumah kaca. kita juga harus berkompetitif dalam merawat lingkungan, tidak boros dalam menggunakan energi, serta mengefisiensi pemakaian energi dimanapun kita berada.

Meski Program Kampung Iklim ini hampir sepenuhnya berhasil, tetap ada tantangan yang harus dihadapi seperti, kejenuhan masyarakat untuk melakukan adaptasi dan mitigasi karena hasilnya tidak bisa dirasakan secara langsung, hingga kurangnya pemahaman mereka tentang ProKlim padahal mereka sudah melaksanakan kegiatan yang relevan. Karena itulah peran pemuda sangat penting disini, syukurnya pemerintah telah memberdayakan kaum pemuda untuk mengedukasi masyarakat seperti adanya berbagai duta untuk bersosialisasi kepada masyarakat. Selain itu pemuda juga memiliki kreativitas untuk mengembangkan teknologi dan meneliti sesuatu yang bisa bermanfaat bagi lingkungan.

Dibalik itu, seiring berkembangnya waktu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membuka peluang baru untuk program-program lingkungan lain seperti Program Kampung Iklim ini. Aplikasi-aplikasi berbasis teknologi juga bisa digunakan untuk memantau kualitas lingkungan, mengelola sampah, dan melibatkan masyarakat dalam kegiatan lingkungan. Selain itu, teknologi juga digunakan untuk menemukan solusi-solusi inovatif dalam mengatasi masalah lingkungan seperti, teknologi energi terbarukan dan sistem pertanian yang berkelanjutan. Salah satu contoh teknologi karya anak bangsa yang sudah ada dan bermanfaat adalah kompor hidrogen ramah lingkungan, lemari es tanpa listrik, penyegar udara dari kotoran sapi, hingga lampu seumur hidup. Dengan terus berupaya meningkatkan kualitas lingkungan, meningkatkan kualitas masyarakat, mengembangkan inovasi teknologi, dan memperkuat kerjasama antar berbagai pihak, kita dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi yang mendatang.

Pendidikan lingkungan juga sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang dalam mengatasi perubahan iklim, banyak universitas telah menyediakan jurusan tentang pendidikan ilmu lingkungan. Pendidikan lingkungan tidak hanya memberikan pengetahuan tentang isu lingkungan, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Masyarakat juga perlu diberi akses yang lebih mudah terhadap informasi dan edukasi tentang lingkungan di sosial media.

Banyak sekolah telah terinspirasi dengan adanya Program Kampung Iklim ini. Sebagian sekolah telah memunculkan green society untuk mengelola sampah yang ada di lingkungan sekolah. Salah satunya adalah SMA Negeri 1 Bireuen, mereka mempunyai organisasi yang bergerak dibidang peduli lingkungan yaitu Green Pin Society. Dalam organisasi ini, mereka banyak melakukan kegiatan seperti, sosialisasi pendidikan lingkungan kepada siswa, membuat lomba kelas terbersih, penanaman pohon di area sekolah, hingga membersihkan sekolah setiap minggu. Masyarakat di kalangan pemuda juga berinisiatif mendirikan komunitas yang bergerak dibidang peduli lingkungan seperti Komunitas Bireuenkut. Bireunkut ini adalah komunitas yang dibangun oleh pemuda-pemudi Bireuen untuk membantu masyarakat sekitar menangani pencemaran lingkungan akibat sampah, mereka telah melakukan berbagai aksi pembersihan dalam beberapa bulan terakhir di beberapa titik yaitu, pantai Krueng Juli Timu, irigasi gampong Geudong-Geudong, irigasi perbatasan gampong Meunasah Capa dan Meunasah Dayah, pantai Ujong Blang Bireuen, dan sebagainya.

Program Kampung Iklim telah membuktikan bahwa upaya masyarakat dalam mengatasi perubahan iklim dapat memberi dampak yang signifikan. Melalui berbagai inisiatif seperti, pengelolaan sampah, pemanfaatan teknologi unyuk melestarikan lingkungan, sarana mencegah banjir dan longsor, hingga penanaman pohon. Program ini tidak hanya berhasil mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Namun tantangan seperti keterbatasannya sumber daya alam maupun manusia, dan pengaruh globalisasi harus bersama-sama diatasi. Teknologi dan pendidikan lingkungan juga sangat krusial dalam mencapai keberlanjutan lingkungan. Hal-hal yang akan merusak lingkungan juga semestinya harus kita hindari seperti deforestasi dan menggunakan transportasi pribadi berlebihan. Semua kerusakan itu akan menyumbang emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim berskala besar.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini