HENNI MAHERA SIREGAR, S.Pd., M.Pd., Kepala SMAN 2 Idi
Oleh : HENNI MAHERA SIREGAR, S.Pd., M.Pd., Kepala SMA Negeri 2 Idi Kabupaten Aceh Timur
Meuligoeaceh.com - PENDIDIKAN merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Permendikbudristek Nomor 25 Tahun 2024, menyatakan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Tujuan utama pendidikan adalah membentuk karakter, memperluas pengetahuan, dan mengembangkan keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
Guru memiliki peran yang sangat penting terutama sebagai pendidik, bertanggung jawab untuk membentuk karakter dan moral siswa, menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan empati, yang akan membekali siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan utama dalam mencapai tujuan pendidikan adalah perbedaan latar belakang siswa, setiap anak datang dari lingkungan keluarga, budaya, dan sosial ekonomi yang berbeda. Banyak siswa menghadapi masalah emosional atau sosial yang mempengaruhi cara mereka belajar dan berinteraksi di kelas.
Selain itu, kemajuan teknologi juga menghadirkan tantangan baru, teknologi dapat memperkaya pengalaman belajar, namun di sisi lain, penggunaan gadget yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan menurunkan minat siswa terhadap pembelajaran konvensional.
Dalam proses pendidikan, ada dua hal yang tak bisa dipisahkan ; mendidik diri sendiri dan mendidik anak. Kedua aspek ini saling berkaitan karena cara kita mendidik diri sendiri akan sangat mempengaruhi bagaimana kita mendidik anak.
Sebelum kita berbicara tentang mendidik anak, penting untuk memahami konsep mendidik diri sendiri. Guru juga harus terus belajar untuk membekali diri dalam mendidik buah hatinya. Jangan sampai kesalahan mendidik akan membawa mereka ke arah yang salah.
Pentingnya Mendidik Diri Sendiri
Sebagai manusia kita dianjurkan oleh Allah Yang Maha Kuasa untuk bisa memperbaiki diri kita sendiri baru kemudian kita bisa memperbaiki orang lain. Di sisi lain, ajakan kebaikan dengan tindakan akan lebih mudah diikuti dari sekedar ucapan saja.
Rasulullah SAW sebagai seorang panutan, tidak menyuruh orang lain berbuat baik, sebelum terlebih dahulu melaksanakan kebaikan itu sendiri.
Kita semua adalah pemimpin dan kita akan mempertanggungjawabkan kepemimpinan kita dihadapan Allah, kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri.
Di sekolah, guru memiliki peran penting di dalam pembentukan karakter dan kemampuan siswa, sehingga mendidik diri sendiri menjadi hal yang sangat penting bagi seorang pendidik.
Filosofi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, menekankan pentingnya peran guru sebagai pemimpin yang memberikan teladan, dorongan, dan bimbingan bagi siswa. Konsep "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani" menjadi inti dari filosofi ini.
Artinya di depan, seorang guru harus bisa menjadi teladan; di tengah, ia membangun semangat, dan di belakang, ia memberi dorongan. Filosofi ini menggarisbawahi bahwa sebelum mendidik anak, seorang guru harus terlebih dahulu mendidik dirinya sendiri.
Mendidik diri sendiri berarti guru harus terus belajar dan berkembang, baik secara intelektual maupun moral. Guru yang berpendidikan baik tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki integritas, disiplin, dan sikap yang dapat di contoh oleh siswa.
Guru yang mampu mengendalikan diri dan berperilaku positif akan lebih efektif dalam membimbing dan menginspirasi anak-anak. Saat ini, tantangan mendidik semakin kompleks.
Di antara tantangan tersebut pendidik sangat diharapkan harus terus belajar, agar guru bisa beradaptasi dengan kebutuhan siswa yang semakin beragam dan dengan situasi yang tidak selalu ideal belajar.
Dengan terus belajar, guru dapat menemukan strategi yang lebih efektif dan inovatif untuk mengatasi berbagai tantangan.
Semangat untuk belajar ini tidak hanya meningkatkan profesionalisme guru, tetapi juga menjadi teladan bagi siswa bahwa belajar adalah proses yang tidak pernah berakhir, terlepas dari seberapa sulit situasinya.
Mendidik di Sekolah
Menyesuaikan
Pembelajaran di kelas agar sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing siswa, ini bukanlah tugas yang mudah mudah. Namun dalam kesulitan akan ada kemudahan.
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan," (Al-Insyirah ayat 5-6).
Setiap manusia memiliki potensi, setiap anak adalah individu yang unik dengan potensi tersendiri. Potensi ini tidak selalu terlihat dalam bentuk prestasi akademis, tetapi dapat muncul dalam berbagai bidang seperti seni, olahraga, musik, kemampuan berkomunikasi, hingga keterampilan sosial.
Anak-anak belajar dengan cara yang berbeda, dan mereka memiliki kekuatan serta minat yang tidak selalu sama. Beberapa anak mungkin unggul dalam pelajaran matematika, sementara yang lain mungkin menonjol dalam seni atau olahraga.
Penting bagi pendidik untuk melihat potensi ini dan memberikan kesempatan yang sesuai agar anak dapat mengembangkan kemampuannya secara maksimal.
Penting juga untuk diingat bahwa potensi tidak selalu terlihat sejak awal. Beberapa anak mungkin membutuhkan lebih banyak waktu dan dorongan untuk menemukan minat mereka.
Di sinilah peran penting pendidik dalam menciptakan lingkungan yang mendukung eksplorasi dan kreativitas, di mana anak-anak merasa aman untuk mencoba hal-hal baru tanpa takut gagal.
Menghargai setiap anak sebagai individu yang unik berarti memberikan mereka ruang untuk berkembang sesuai kecepatan mereka sendiri.
Dengan memberikan dukungan yang tepat dan bimbingan yang baik, setiap anak memiliki peluang untuk mengembangkan potensi terbaik mereka dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.
Ki Hajar Dewantara, menekankan pentingnya mendidik dengan hati. Pendidikan bukan hanya soal mentransfer pengetahuan, tetapi tentang membentuk karakter dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan.
Mendidik dengan hati berarti melakukan pendidikan dengan kasih sayang, pengertian, dan ketulusan, sehingga tercipta hubungan yang mendalam antara guru dan murid.
Setiap anak adalah individu yang berharga dan unik. Oleh karena itu, gunakan pendekatan yang berpusat pada anak, mempertimbangkan kebutuhan belajar mereka, potensi, dan latar belakang anak.
Mendidik dengan hati berarti menghargai setiap anak sebagai pribadi yang utuh, bukan sekadar melihat prestasi akademisnya. Pendidik harus mampu menjadi pembimbing yang sabar, mendengarkan tanpa menghakimi, serta memberikan dorongan yang positif.
Pendidikan dengan hati akan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, di mana anak-anak dapat tumbuh secara maksimal tanpa tekanan.
Pendidik tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menyentuh jiwa dan mengembangkan karakter, seperti yang selalu diimpikan oleh Ki Hajar Dewantara.
Prinsip ini membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak, berempati, dan bermoral.
Teruslah mendidik dengan hati, karena setiap kata yang tulus, setiap dukungan yang lembut, dan setiap pengertian yang kamu berikan adalah benih yang tumbuh dalam jiwa anak-anak.
Jadilah cahaya yang membimbing mereka di tengah kegelapan, menjadi contoh kebaikan yang akan mereka ingat selamanya.
Jangan pernah meremehkan kekuatan kasih sayang dalam pendidikan, karena saat kamu mendidik dengan cinta, kamu tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menyentuh hati dan membentuk karakter mereka untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Tetaplah sabar, tetaplah tulus, karena apa yang kamu lakukan hari ini akan membentuk masa depan yang penuh harapan. Semangat mendidik!. (*)