Banda Aceh – Delapan dekade sudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Namun, kemerdekaan sejati bukan sekadar angka usia, melainkan perjalanan panjang yang terus menuntut perjuangan, dari politik hingga pangan, dari budaya hingga ekonomi.
Dalam momentum peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Patriot Bela Nusantara (PBN) hadir menyuarakan semangat kemandirian, khususnya di bidang ketahanan pangan, penguatan ekonomi nasional, dan peningkatan wibawa Indonesia di kancah internasional.
Ketua DPD PBN Aceh, Drs. M. Isa Alima, menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus terwujud dalam kedaulatan atas kebutuhan dasar rakyat.
“Kita tak bisa selamanya merdeka secara simbolik tetapi rapuh dalam kebutuhan dasar. Kemerdekaan yang sejati adalah ketika bangsa ini mampu memberi makan rakyatnya sendiri dengan hasil bumi sendiri,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Senin (12/8/2025).
Swasembada Pangan, Harga Diri Bangsa
Isa Alima menekankan bahwa swasembada pangan adalah pilar utama kemandirian. Indonesia yang memiliki tanah subur, laut kaya, dan petani ulet seharusnya mampu berdiri di ladangnya sendiri tanpa ketergantungan pada impor dan rantai pasok asing.
“Negara besar tak bisa terus berharap pada kebaikan negara lain. Kita harus menanam di tanah sendiri, memetik hasil untuk generasi sendiri. Itulah kemerdekaan sejati,” tegasnya.
PBN mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan tahun ke-80 kemerdekaan sebagai titik kebangkitan pangan nasional, meliputi pengelolaan beras, jagung, hasil laut, peternakan, hortikultura, hingga produk lokal lainnya dengan dukungan teknologi dan tata kelola modern.
Ketahanan Nasional Menuju Indonesia Emas
Ketahanan pangan, menurut Isa, adalah fondasi dari ketahanan nasional. Bangsa yang lapar mudah dipecah, sementara bangsa yang bergantung sulit bersuara.
“Kemandirian pangan adalah pertahanan tanpa senjata. Ia lebih kuat dari pasukan, karena menumbuhkan ketenangan, kesejahteraan, dan harga diri bangsa,” ungkapnya.
Menuju Indonesia Emas 2045, PBN mendorong terciptanya sistem yang adil, di mana hasil bumi tidak dikuasai segelintir pihak, dan petani menjadi pahlawan yang dihormati, bukan korban sistem yang memiskinkan.
Indonesia Berwibawa di Mata Dunia
PBN juga mengapresiasi kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai tegas, konsisten, dan berpihak pada kekuatan nasional.
“Indonesia bukan lagi negara berkembang yang ragu, tapi negara besar yang berdaulat, berwibawa, dan disegani. Untuk menjadi pemimpin regional dan global, kita harus kuat di dalam negeri: pangan, energi, dan ekonomi,” ujar Isa.
17 Agustus, Api Tekad Bangsa
PBN mengingatkan bahwa 17 Agustus bukan sekadar libur nasional atau seremoni pengibaran bendera, tetapi momentum renungan dan tekad bersama.
Bahwa kemerdekaan yang diraih dengan darah harus dilanjutkan dengan kebijakan berpihak pada rakyat.
“80 tahun merdeka bukan akhir perjuangan. Ia adalah gerbang megah menuju Indonesia Emas,” tutup Isa.[]
