Banda Aceh — Laju pertumbuhan ekonomi Aceh pada 2025 diperkirakan melambat seiring dampak bencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/kota.
Bencana tersebut merusak lahan pertanian, mengganggu jalur distribusi barang dan jasa, serta merusak berbagai fasilitas publik yang menopang aktivitas ekonomi masyarakat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, menyatakan pertumbuhan ekonomi Aceh pada 2025 diproyeksikan berada pada kisaran 3,50–4,40 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan capaian pertumbuhan ekonomi Aceh pada Triwulan III 2025 yang mencapai 4,46 persen (yoy).
“Capaian tersebut juga masih tertinggal dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen dan kawasan Sumatera yang mencapai 4,90 persen,” kata Agus dalam paparan perkembangan ekonomi Aceh di Tropicollo Caffe, Banda Aceh, Rabu, 21 Januari 2026.
Perlambatan ekonomi terutama dipicu melemahnya kinerja sektor utama. Sektor pertanian dan perdagangan menjadi yang paling terdampak akibat kerusakan lahan serta terhambatnya distribusi.
Dari sisi pengeluaran, tekanan datang dari penurunan konsumsi rumah tangga dan kinerja ekspor.
Dampak bencana juga tercermin pada kerusakan fasilitas publik. Ratusan ribu penduduk dilaporkan terdampak langsung, dengan kerusakan meliputi rumah warga, jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, serta lahan pertanian yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian Aceh.
Berdasarkan pangsa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), sektor pertanian menjadi yang paling rentan dengan kontribusi 32,03 persen, disusul perdagangan 14,97 persen, dan transportasi 7,04 persen.
Dari sisi permintaan, penurunan terbesar terjadi pada konsumsi rumah tangga yang menyumbang 54,15 persen serta ekspor sebesar 36,05 persen.
Meski demikian, Bank Indonesia memproyeksikan perekonomian Aceh mulai pulih pada 2026.
Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 3,60–4,50 persen (yoy), seiring pemulihan pascabencana, perbaikan infrastruktur, dan kembali bergeraknya aktivitas ekonomi masyarakat.
Sementara itu, kinerja ekspor Aceh hingga November 2025 masih menunjukkan tren positif meski berfluktuasi. Ekspor Aceh terutama ditopang oleh komoditas batubara dan kopi, sedangkan impor masih didominasi oleh migas.
Nilai ekspor Aceh pada 2025 tercatat beragam sepanjang triwulan. Pada Triwulan I, ekspor mencapai US$162,10 juta, kemudian meningkat pada Triwulan II menjadi US$152,00 juta, sebelum melonjak pada Triwulan III sebesar US$258,93 juta.
Namun, pada Triwulan IV ekspor menurun menjadi US$205,78 juta. Secara tahunan, pertumbuhan ekspor mengalami kontraksi pada beberapa triwulan meski sempat mencatatkan pertumbuhan positif.
Struktur ekspor Aceh masih didominasi batubara dengan nilai US$393,69 juta atau 66,78 persen dari total ekspor. Komoditas lainnya meliputi kopi dan rempah-rempah sebesar US$71,39 juta (12,11 persen), lemak dan minyak hewan atau nabati US$48,36 juta (8,20 persen), serta komoditas lain sebesar 12,91 persen.
India menjadi tujuan utama ekspor Aceh dengan nilai US$432,26 juta atau 73,32 persen, diikuti Thailand US$39,46 juta (6,69 persen), Amerika Serikat US$27,31 juta (4,63 persen), dan negara lainnya sebesar 15,35 persen.
Di sisi lain, impor Aceh masih didominasi sektor energi. Nilai impor migas mencapai US$456,98 juta atau 87,14 persen dari total impor. Komoditas lainnya meliputi pupuk US$35,93 juta (6,85 persen), bahan kimia anorganik US$23,28 juta (4,44 persen), dan komoditas lain 1,57 persen.
Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$286,44 juta atau 54,62 persen, disusul Uni Emirat Arab US$93,51 juta (17,83 persen), Qatar US$75,61 juta (14,42 persen), dan negara lainnya 13,13 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun kinerja ekspor Aceh relatif terjaga, struktur perdagangan luar negeri masih sangat bergantung pada komoditas primer dan sektor energi.
Diversifikasi ekspor serta penguatan industri hilir menjadi tantangan utama untuk meningkatkan ketahanan ekonomi Aceh ke depan. ***
