PWRI Aceh Utara Soroti Kebijakan Pembagian Sapi Meugang PT PGE yang Dinilai Tak Menyentuh Warga Ring I

Editor: Syarkawi author photo

 


ACEH UTARA — Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Aceh Utara menyoroti kebijakan pembagian 10 ekor sapi untuk kebutuhan daging Meugang yang dilakukan oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE). 

Kebijakan tersebut dinilai tidak menyentuh masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah operasional perusahaan atau yang dikenal sebagai wilayah ring I.

Pembina Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Aceh Utara, Mahmudin yang akrab disapa Din Pang, menyampaikan keberatannya atas kebijakan tersebut. 

Menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya masyarakat kurang mampu yang berdomisili di desa-desa sekitar wilayah operasional PGE—meliputi Kecamatan Syamtalira Aron, Nibong, Tanah Luas, dan Matangkuli—menjadi penerima bantuan daging Meugang.

“Tahun ini justru masyarakat ring I tidak menerima pembagian, padahal merekalah yang paling dekat dengan aktivitas perusahaan,” ujar Din Pang.

Ia menegaskan, kebijakan tersebut seharusnya ditinjau ulang oleh manajemen PGE, mengingat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat ring I saat ini sedang sulit. Selain terdampak banjir, sebagian besar warga juga mengalami kerusakan lahan perkebunan dan pertanian yang berujung pada gagal panen.

“Dalam kondisi seperti sekarang, perusahaan seharusnya lebih peduli. Bahkan menurut saya, bukan hanya ring I, masyarakat ring II pun selayaknya ikut mendapat perhatian,” tegasnya.

Din Pang juga membandingkan dengan praktik perusahaan lain di daerah berbeda, di mana desa-desa di sekitar wilayah operasional dijadikan sebagai desa binaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“Di daerah lain, desa sekitar perusahaan dibina secara berkelanjutan. Di sini justru tidak terlihat. Ini cukup janggal,” ungkapnya.

Ia berharap manajemen PGE dapat mengevaluasi kebijakan tersebut dan memaksimalkan pemanfaatan dana CSR agar benar-benar dirasakan oleh masyarakat sekitar wilayah operasional perusahaan, khususnya pada momentum Meugang yang memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi bagi masyarakat Aceh.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini