Petani Maheng Aceh Besar Optimalkan Sawah Tadah Hujan, Dukung Swasembada Pangan

Editor: Syarkawi author photo

 

Hamparan sawah yang mulai panen di Gampong Maheng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (26/3/2026). (MC Aceh Besar)

KOTA JANTHO – Upaya pemerintah dalam mendorong swasembada pangan nasional terus mendapat dukungan dari berbagai kalangan, termasuk para petani di pedesaan.

Di Gampong Maheng, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, petani mulai mengoptimalkan pengelolaan sawah tadah hujan sebagai langkah strategis meningkatkan produksi padi.

Optimalisasi sawah tadah hujan dinilai menjadi solusi efektif dalam menghadapi keterbatasan irigasi teknis, khususnya di wilayah yang bergantung pada curah hujan. 

Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mendorong pemanfaatan seluruh potensi lahan pertanian guna menjaga ketahanan pangan nasional.

Di Kabupaten Aceh Besar, sektor pertanian memegang peranan penting sebagai penopang kebutuhan pangan daerah. Dengan luas lahan sawah mencapai puluhan ribu hektare dan produktivitas rata-rata 5–6 ton per hektare, daerah ini dinilai memiliki kontribusi besar terhadap ketersediaan beras di Aceh.

Salah seorang petani Gampong Maheng, Nasri (37), menyebutkan bahwa tantangan utama yang dihadapi petani adalah ketidakpastian cuaca. 

Dengan luas lahan sekitar 200 hektare yang bergantung pada air hujan dan distribusi air yang belum merata, potensi gagal panen masih cukup tinggi jika pengelolaan tidak dilakukan dengan baik.

“Kami berharap pengelolaan air bisa lebih maksimal. Sawah tadah hujan ini sangat potensial untuk meningkatkan produksi padi. Di sini hampir 98 persen masyarakat adalah petani. Namun, jika air tidak dikelola dengan baik, kami sering mengalami gagal panen,” ujar Nasri saat ditemui di area persawahan, Kamis (26/3/2026).

Ia juga menambahkan bahwa semangat gotong royong antarpetani menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan lahan. 

Para petani bekerja sama dalam mengatur jadwal tanam dan distribusi air agar hasil panen lebih optimal.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung swasembada pangan melalui peningkatan luas tambah tanam (LTT) serta optimalisasi lahan pertanian. 

Upaya ini dilakukan melalui sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan petani di lapangan.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan petani melalui penyediaan teknologi, pelatihan, serta akses terhadap sarana produksi pertanian.

Para petani di Maheng pun optimistis bahwa dengan pengelolaan yang tepat, sawah tadah hujan dapat menjadi andalan dalam mendukung ketahanan pangan, baik di tingkat daerah maupun nasional.

“Kalau semua petani serius mengelola lahannya, kami yakin swasembada pangan bisa tercapai. Kami di desa siap mendukung program pemerintah,” tutup Nasri.

Dengan berbagai upaya tersebut, optimalisasi sawah tadah hujan menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim. 

Dukungan petani seperti di Gampong Maheng menjadi bukti bahwa swasembada pangan bukan sekadar program, melainkan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat. (**)

Share:
Komentar

Berita Terkini