Banda Aceh — Tiga sekolah di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh resmi ditetapkan sebagai Sekolah Model Pembelajaran Mendalam (PM) serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PAUD Dikdasmen).
Ketiga sekolah tersebut adalah TKIT Syeikh Abdurrauf, SD Negeri 67 Percontohan Banda Aceh, dan SMPIT Nurul Ishlah. Penetapan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mendorong penerapan inovasi pembelajaran berbasis teknologi di Kota Banda Aceh.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Sulaiman Bakri, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa salah satu sekolah yang terpilih adalah TKIT Syeikh Abdurrauf yang dipimpin oleh Kepala Sekolah Dina Fajriana. Sekolah tersebut ditunjuk sebagai sekolah model untuk penerapan pembelajaran mendalam serta pengenalan koding dan kecerdasan artifisial pada jenjang pendidikan anak usia dini.
Menurutnya, pada jenjang taman kanak-kanak, TKIT Syeikh Abdurrauf menjadi satu-satunya sekolah di Provinsi Aceh yang terpilih sebagai sekolah model oleh Kemendikdasmen.
“Penunjukan ini merupakan hasil seleksi yang dilakukan secara ketat oleh Kemendikdasmen dengan mempertimbangkan berbagai indikator, seperti rapor pendidikan sekolah, nilai akreditasi, serta tingkat ketuntasan literasi,” ujar Sulaiman Bakri.
Ia menjelaskan bahwa penetapan sekolah model dilakukan melalui proses seleksi dengan sejumlah kriteria kesiapan yang harus dipenuhi oleh sekolah. Di antaranya memiliki akreditasi minimal B, rapor pendidikan dengan indikator prioritas minimal berada pada kategori kuning atau sedang, komitmen kuat dari kepala sekolah, dukungan dari dinas pendidikan setempat, serta pengalaman mengikuti pelatihan terkait pembelajaran mendalam dan koding serta kecerdasan artifisial.
Selain TKIT Syeikh Abdurrauf, dua sekolah lain yang juga ditunjuk sebagai sekolah model di Banda Aceh adalah SD Negeri 67 Percontohan Banda Aceh dan SMPIT Nurul Ishlah. Ketiga sekolah ini diharapkan dapat menjadi contoh penerapan pembelajaran inovatif bagi sekolah-sekolah lain di Kota Banda Aceh.
Sulaiman Bakri menegaskan bahwa penetapan sekolah model ini merupakan bagian dari upaya transformasi ekosistem pendidikan agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, khususnya di era digital dan revolusi industri berbasis teknologi.
Melalui penerapan Pembelajaran Mendalam (PM) serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), para siswa diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, serta memiliki kemampuan memecahkan masalah yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Program ini diharapkan mampu menyiapkan generasi masa depan yang adaptif, inovatif, dan kompeten dalam menghadapi tantangan global,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sekolah model tersebut juga akan berfungsi sebagai laboratorium inovasi pembelajaran. Berbagai metode, pendekatan, serta strategi pembelajaran yang diterapkan di sekolah model nantinya dapat dipelajari dan direplikasi oleh sekolah-sekolah lain di Banda Aceh.
Dengan demikian, dampak positif dari program ini diharapkan tidak hanya dirasakan oleh tiga sekolah tersebut, tetapi juga dapat menyebar ke seluruh satuan pendidikan di Kota Banda Aceh.
Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga berkomitmen untuk terus memberikan dukungan kepada sekolah-sekolah model tersebut, baik melalui pembinaan, peningkatan kapasitas guru, maupun penyediaan fasilitas pendukung pembelajaran berbasis teknologi.
“Ke depan, kami berharap semakin banyak sekolah di Banda Aceh yang mampu mengadopsi pendekatan pembelajaran mendalam serta memanfaatkan teknologi seperti koding dan kecerdasan artifisial dalam proses belajar mengajar,” tutup Sulaiman Bakri.[]
