![]() |
| Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Aceh, Mustafa Kamal. Foto: Dok. BGN |
Banda Aceh - Implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Aceh menunjukkan perkembangan signifikan meski belum genap satu tahun berjalan.
Program strategis nasional ini tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Aceh, Mustafa Kamal, mengatakan pelaksanaan MBG terus diperkuat melalui peningkatan koordinasi, kapasitas dapur, serta kolaborasi lintas sektor.
“Dalam enam bulan terakhir, fokus kami adalah membangun sistem yang kuat, mulai dari koordinasi berjenjang hingga peningkatan kualitas layanan dapur SPPG. Hasilnya mulai terlihat, baik dari sisi layanan gizi maupun dampak ekonomi,” ujarnya, Ahad (19/4/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah dapur SPPG di Aceh kini telah memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah, mulai dari penataan ruang produksi, alur distribusi makanan, hingga pengelolaan limbah yang sesuai prosedur operasional.
Bahkan, beberapa dapur dinilai layak menjadi percontohan nasional karena mampu menghadirkan layanan yang bersih, tertib, dan profesional, meski masih terdapat beberapa unit yang perlu pembenahan.
Dorong Ekonomi Lokal dan UMKM
Selain berdampak pada sektor kesehatan, program MBG juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. SPPG di berbagai wilayah melibatkan pelaku UMKM, BUMDes/BUMG, koperasi, serta kelompok tani sebagai pemasok bahan baku.
Kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar dan berkelanjutan—seperti sayuran, buah, telur, hingga daging—menciptakan pasar yang stabil bagi produk lokal serta mendorong peningkatan produksi masyarakat.
“Program ini bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga membuka peluang ekonomi. Produk masyarakat terserap, usaha kecil bergerak, dan roda ekonomi gampong ikut berputar,” kata Mustafa.
Pemerintah juga terus memperkuat sistem pengawasan agar program berjalan tepat sasaran. Evaluasi rutin dilakukan, termasuk pengendalian harga bahan baku dan penyesuaian wilayah operasional dapur sesuai kondisi geografis.
“Koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah daerah dan instansi terkait, menjadi kunci dalam menjaga kualitas layanan serta keberlanjutan program,” tegasnya.
Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Secara keseluruhan, program MBG di Aceh telah menjangkau berbagai kelompok masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lanjut usia.
Dengan menu yang semakin variatif dan memenuhi standar gizi, program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Mustafa menambahkan, keberhasilan implementasi MBG di Aceh menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dalam menghadirkan program yang tepat sasaran dan berdampak luas.
“Ke depan, pemerintah berkomitmen memperkuat kapasitas SPPG, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memastikan seluruh dapur beroperasi sesuai standar,” ujarnya.
Dengan capaian yang terus menunjukkan tren positif, program MBG di Aceh diharapkan menjadi fondasi dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi hingga tingkat gampong.[]
