![]() |
| Relawan harus berjalan membelah aliran sungai demi mengantarkan hak gizi anak-anak tepat waktu, Rabu (8/4/2026). Foto: BGN |
Gayo Lues – Bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Kabupaten Gayo Lues tidak menyurutkan semangat warga Dusun Benteng, Desa Pertik, Kecamatan Pining, dalam memastikan pemenuhan gizi anak-anak tetap berjalan.
Di tengah akses yang terputus akibat rusaknya infrastruktur, warga setempat bergotong royong mendistribusikan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan cara menyeberangi arus sungai yang deras.
Dusun Benteng dikenal sebagai wilayah pegunungan terpencil dengan akses terbatas. Kondisi ini semakin diperparah setelah bencana yang merusak lahan pertanian warga serta memutus jembatan kecil yang menjadi satu-satunya jalur penghubung utama masyarakat.
Meski demikian, aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di dusun tersebut tetap berjalan. Di tengah keterbatasan fasilitas dan peralatan, para kader relawan bersama ibu-ibu setempat terus memasak makanan bergizi setiap hari.
Makanan yang telah disiapkan kemudian dikemas dalam wadah ompreng dan diperuntukkan bagi anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita sebagai penerima manfaat program MBG.
Gunakan Tandu Bambu
Tantangan terbesar justru terjadi saat proses distribusi. Lokasi penerima manfaat berada di seberang sungai, sementara jembatan penghubung telah hancur diterjang banjir.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, para relawan berinisiatif membuat tandu sederhana dari bambu. Ratusan ompreng berisi makanan diikat kuat di atas tandu, lalu dipikul secara bergotong royong.
Dengan penuh kehati-hatian, mereka harus berjalan membelah aliran sungai demi memastikan makanan bergizi dapat sampai tepat waktu kepada para penerima manfaat, Rabu (8/4/2026).
Berkat upaya kolektif tersebut, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di wilayah terisolasi itu tetap menerima bantuan makanan bergizi secara rutin.
Kisah dari Dusun Benteng ini menjadi potret nyata kegigihan masyarakat dalam menghadapi keterbatasan.
Kondisi geografis yang sulit serta dampak bencana tidak menghalangi keberlanjutan program pemenuhan gizi.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian penting dalam mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045, dengan memastikan tidak ada anak bangsa yang tertinggal dalam pemenuhan gizinya.[]
