SOLO — Pertemuan antara T. Rival Amiruddin dan Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah, memunculkan sinyal kuat terkait langkah konsolidasi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Aceh.
Kunjungan T. Rival ke Solo dinilai bukan sekadar agenda silaturahmi, melainkan bagian dari strategi memperkuat posisi dalam dinamika politik nasional, khususnya dalam upaya membangun struktur dan pengaruh PSI di daerah.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, yang kini menjadi pembina PSI, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan dan pembangunan bangsa.
“Ke depan, kita membutuhkan kader-kader muda yang tidak hanya memiliki semangat, tetapi juga integritas dan kapasitas untuk melanjutkan estafet kepemimpinan. Partai seperti PSI harus mampu menjadi ruang lahirnya pemimpin-pemimpin baru, termasuk di Aceh,” ujar Jokowi.
Ia juga berharap kepemimpinan PSI di Aceh mampu menghadirkan energi baru, merangkul generasi muda, serta bekerja nyata untuk masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, T. Rival Amiruddin menegaskan bahwa langkah yang ia tempuh bukan semata-mata kepentingan politik praktis.
“Kami memohon doa dan dukungan. Ini bukan sekadar langkah politik, tetapi upaya menghadirkan kekuatan baru yang berpijak pada masyarakat,” ujar T. Rival, Jumat (1/5/2026).
Berbeda dengan pola umum politisi yang mencari kendaraan politik, T. Rival disebut-sebut justru mendapat dorongan untuk bergabung dengan PSI. Sejumlah posisi strategis di partai tersebut juga dikabarkan tengah dipersiapkan.
Langkah T. Rival dalam membangun PSI di Aceh dipandang tidak sekadar ekspansi organisasi, tetapi juga upaya membuka konfigurasi politik baru yang bertumpu pada kekuatan masyarakat, bukan semata struktur elite.
Sejumlah pengamat menilai T. Rival memiliki modal penting, seperti legitimasi sosial lintas kelompok, minim beban konflik politik masa lalu, pendekatan pragmatis dari dunia usaha, serta kemampuan menjembatani nilai religius dan kebangsaan.
Dari Solo, arah gerakan tersebut mulai terlihat. T. Rival tidak hanya ingin menjadi bagian dari sistem politik yang ada, tetapi juga berupaya membangun basis kekuatan baru.
Jika konsolidasi ini terus berlanjut, langkah tersebut dinilai berpotensi mengantarkan T. Rival memainkan peran lebih besar di tingkat nasional. (*)
