Kak Na Puji Buah Naga Sabang: Meucrop Barang

Editor: Syarkawi author photo

 


SABANG – Sensasi manis dan segarnya buah naga kembali mencuri perhatian. Hal itu dirasakan langsung Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir, saat memanen dan menikmati buah naga di salah satu kebun milik warga di Gampong Ie Meulee, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang, Minggu (10/5/2026).

Usai mencicipi buah naga yang baru dipanen bersama Ketua TP PKK Kota Sabang, Nuri Zulkifli, Marlina yang akrab disapa Kak Na spontan melontarkan pujian.

“Buah naga Sabang, meucrop barang,” ujarnya.

Dalam bahasa Aceh, meucrop merupakan ungkapan populer untuk menggambarkan sesuatu yang sangat nikmat atau lezat, serupa dengan istilah “maknyus” yang pernah dipopulerkan almarhum Bondan Winarno.

Pada kesempatan tersebut, Kak Na juga mengapresiasi kreativitas pemilik kebun, Hendri (60), bersama istrinya Lisa Umami (50), yang berhasil memanfaatkan lahan di sekitar rumah menjadi kebun buah naga bernilai ekonomi.

“Luar biasa Pak Hendri. Kreativitas dan keuletannya bersama sang istri berhasil mengubah lahan tidur di sisi rumah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi. Ini tentu bagus dan harus dicontoh,” ujar istri Gubernur Aceh itu.

Ia mengajak masyarakat Sabang maupun masyarakat Aceh secara umum untuk memanfaatkan lahan kosong dengan menanam tanaman produktif yang memiliki nilai ekonomi.

“Masyarakat lain harus meniru. Tidak harus buah naga, bisa juga menanam buah-buahan lain yang sesuai dengan kondisi tanah di Sabang dan memiliki potensi ekonomi tinggi,” katanya.

Kak Na juga mengajak wisatawan yang berkunjung ke Sabang untuk datang langsung ke kebun buah naga milik Hendri.

“Untuk masyarakat Sabang dan wisatawan yang datang ke Sabang, mari berkunjung ke kebun buah naga Pak Hendri. Datang, panen, dan nikmati langsung di kebunnya. Buah naganya nikmat dan murah, hanya Rp25 ribu per kilogram. Kalau beli di toko tentu lebih mahal,” ujarnya.

Sementara itu, Hendri mengatakan produksi buah naga dari kebunnya yang seluas lebih dari 5.000 meter persegi saat ini masih belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar lokal di Sabang.

“Produksi kami belum bisa dikirim ke luar daerah karena untuk memenuhi kebutuhan Sabang saja masih belum cukup. Sekali panen hanya sekitar 200 sampai 300 kilogram,” ungkap ayah lima anak tersebut.

Menurut Hendri, rendahnya produksi dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya keterbatasan pupuk dan lampu penerangan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

“Kami masih kekurangan pupuk. Selain itu, setiap pohon buah naga membutuhkan lampu untuk rekayasa cahaya, karena buah naga memerlukan paparan cahaya sekitar 14 jam per hari, sementara di daerah kita hanya sekitar 12 jam,” jelasnya.

Ia menambahkan, tambahan cahaya dari lampu diperlukan untuk membantu proses fotosintesis agar produksi buah naga meningkat.

Saat ini, Hendri dan istrinya telah menanam sekitar 700 batang buah naga. Sebanyak 300 batang sudah berproduksi, sementara 400 batang lainnya mulai berbunga.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini