![]() |
| Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, bersama rombongan meninjau kawasan industri terpadu Trans Continent milik pengusaha asal Aceh, Ismail Rasyid, di Kabupaten Gorontalo. |
GORONTALO – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, mengunjungi kawasan industri terpadu milik Trans Continent di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Perusahaan yang dimiliki oleh pengusaha asal Aceh, Ismail Rasyid, sukses mengembangkan usaha berbasis pertanian terintegrasi.
Kunjungan tersebut dilakukan di sela agenda Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan Indonesia, sekaligus menjadi kesempatan bagi rombongan Aceh untuk melihat langsung model pengelolaan usaha yang menggabungkan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga perdagangan ekspor dalam satu kawasan.
Rombongan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh serta Dinas Peternakan Aceh disambut langsung oleh CEO Trans Continent, Ismail Rasyid.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, Azanuddin menilai keberhasilan pengusaha asal Aceh itu menjadi bukti bahwa sektor pertanian dapat berkembang pesat jika dikelola secara modern dan terintegrasi.
Menurut Azanuddin, keikutsertaan kontingen Aceh dalam PENAS tahun ini memang mengalami penurunan jumlah peserta.
Dari target sekitar 750 orang yang terdiri dari unsur pemerintah daerah hingga kelompok tani nelayan andalan (KTNA), hanya sekitar 200 peserta yang dapat hadir karena berbagai kendala teknis.
“Faktor biaya, waktu keberangkatan, dan harga tiket menjadi kendala utama sehingga jumlah peserta berkurang dari target,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan semangat peserta Aceh tetap tinggi untuk belajar dan menggali pengalaman dari daerah lain guna memperkuat sektor pertanian di Aceh.
Dalam kesempatan itu, rombongan diajak melihat sejumlah fasilitas Trans Continent, termasuk gudang ekspor berkapasitas besar yang menjadi pusat penyimpanan berbagai komoditas sebelum dikirim ke pasar internasional.
Ismail juga menyampaikan rencana ekspor ke China dalam waktu dekat sebagai bagian dari ekspansi pasar global.
Selain itu, kawasan industri tersebut juga menerapkan konsep pertanian modern di atas lahan sekitar 20 hektare.
Berbagai komoditas seperti kelapa, hortikultura, pakan ternak, perikanan, hingga peternakan sapi dikembangkan secara terintegrasi sesuai kebutuhan pasar.
Rombongan turut melihat langsung area peternakan sapi modern yang tengah dikembangkan dengan kapasitas hingga 500 ekor.
Fasilitas tersebut masih dalam tahap penyelesaian, namun telah menunjukkan konsep pengelolaan yang dinilai potensial.
Azanuddin mengaku terkesan dengan sistem usaha yang diterapkan, karena mampu mengintegrasikan berbagai sektor dalam satu kawasan secara berkelanjutan.
“Kami melihat langsung bagaimana satu kawasan bisa menggabungkan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Ini sangat menarik dan bisa menjadi referensi untuk Aceh,” katanya.
Ia juga mengapresiasi keberadaan tenaga kerja asal Aceh yang turut berkontribusi dalam operasional perusahaan, sehingga menghadirkan nuansa kebersamaan meski berada jauh dari kampung halaman.
“Suasananya seperti di Aceh karena banyak saudara kita yang bekerja di sini. Ini menjadi kebanggaan tersendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Azanuddin mengajak Ismail Rasyid untuk turut berinvestasi dan berbagi pengalaman di Aceh.
Menurutnya, Aceh masih memiliki potensi besar di sektor pertanian dan perkebunan yang perlu dikembangkan untuk membuka lapangan kerja baru.
Menanggapi hal tersebut, Ismail menyatakan kesiapannya untuk terus berkontribusi bagi pembangunan Aceh sesuai kapasitas yang dimiliki. Ia menegaskan bahwa keberhasilan usaha sangat ditentukan oleh dukungan masyarakat dan kepastian regulasi.
“Insya Allah kami akan terus berupaya memberikan kontribusi untuk Aceh. Ini tanah kelahiran kami,” ujarnya.
Kunjungan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus membuka peluang kerja sama pengembangan model pertanian terpadu yang diharapkan dapat diterapkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Aceh.[]
