BANDA ACEH – Kepemimpinan Kapolda Aceh, Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, dinilai membawa perubahan signifikan dalam hubungan antara Polri dan masyarakat di Aceh.
Berbagai kalangan menilai pendekatan humanis yang diterapkannya berhasil menciptakan suasana yang lebih terbuka, ramah, dan inklusif di lingkungan kepolisian.
Perwira tinggi lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1991 itu dikenal mengedepankan pola kepemimpinan yang mengutamakan pelayanan, kedekatan sosial, serta kearifan lokal dalam menjalankan tugas sebagai Kapolda Aceh.
Sebagai putra daerah, Irjen Pol. Marzuki dinilai memiliki pemahaman yang kuat terhadap karakteristik sosial dan budaya masyarakat Aceh.
Pemahaman tersebut menjadi modal penting dalam merumuskan berbagai kebijakan keamanan dan pelayanan publik yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.
Di bawah kepemimpinannya, citra kantor polisi yang selama ini kerap dianggap sebagai tempat yang formal dan berjarak perlahan berubah menjadi ruang pelayanan yang lebih terbuka bagi masyarakat.
Masyarakat kini semakin mudah mengakses layanan kepolisian, menyampaikan aspirasi, maupun mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi.
Transformasi tersebut juga terlihat dari semakin kuatnya kemitraan antara Polri dan masyarakat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Hubungan yang terbangun tidak lagi sebatas hubungan formal antara aparat dan warga, tetapi berkembang menjadi kolaborasi yang saling mendukung dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif.
Selain memperkuat pelayanan publik, Kapolda Aceh juga mendorong jajarannya untuk aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Personel kepolisian didorong hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pendekatan tersebut semakin mempererat hubungan emosional antara Polri dan masyarakat, khususnya di Aceh yang memiliki nilai religius dan budaya yang kuat.
Dalam menjaga stabilitas keamanan daerah, Irjen Pol. Marzuki juga menempatkan tokoh agama, ulama, tokoh adat, dan unsur masyarakat sebagai mitra strategis.
Pendekatan kultural tersebut dinilai efektif dalam membangun komunikasi yang sejuk sekaligus meredam potensi konflik sejak dini.
Di bidang lingkungan hidup, Kapolda Aceh turut menggagas program Green Policing atau Kepolisian Hijau.
Program ini menitikberatkan pada upaya perlindungan lingkungan melalui penanganan berbagai persoalan kehutanan, termasuk pencegahan pembalakan liar dan kerusakan kawasan hutan.
Pelaksanaan program tersebut dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak dengan pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media massa dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Tak hanya itu, Polda Aceh di bawah kepemimpinannya juga aktif mendukung program prioritas nasional di sektor ketahanan pangan.
Melalui sinergi dengan pemerintah daerah, instansi terkait, dan kelompok tani, jajaran kepolisian dilibatkan dalam berbagai kegiatan pendampingan guna meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan mendukung ketersediaan pangan masyarakat.
Berbagai langkah tersebut menunjukkan komitmen Kapolda Aceh dalam menghadirkan kepolisian yang tidak hanya berperan sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai mitra masyarakat dalam pembangunan daerah.
Melalui pendekatan yang humanis, kolaboratif, dan berorientasi pelayanan, Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah dinilai berhasil memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian sekaligus menghadirkan Polri yang semakin dekat dengan masyarakat Aceh.[]
