BANDA ACEH – Langkah strategis Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), yang menyurati Presiden RI Prabowo Subianto untuk meminta agar cadangan minyak dan gas bumi (migas) Blok Andaman diprioritaskan bagi pengembangan industri hilirisasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe, mendapat dukungan dan apresiasi dari berbagai kalangan.
Salah satu dukungan tersebut datang dari Sekretariat Bersama (SEKBER) Aceh Relawan Mualem–Dek Fadh.
Organisasi ini menilai kebijakan tersebut sebagai langkah visioner yang dapat mempercepat kebangkitan ekonomi Aceh melalui peningkatan investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Sekretaris Jenderal SEKBER Aceh Relawan Mualem–Dek Fadh, Irwan Syahputra atau yang akrab disapa Syech Wan, menyebut langkah Gubernur Aceh yang langsung berkomunikasi dengan Presiden menunjukkan keseriusan Pemerintah Aceh dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat serta masa depan perekonomian daerah.
“SEKBER Aceh mengapresiasi dan mendukung penuh langkah Bapak Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf yang telah menyurati Presiden Prabowo Subianto agar potensi migas Blok Andaman tidak hanya dimanfaatkan sebagai pasokan energi, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan industri hilirisasi di KEK Arun. Ini merupakan langkah besar untuk masa depan Aceh,” ujar Syech Wan.
Menurutnya, pengolahan migas di dalam daerah akan memberikan nilai tambah ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya disalurkan sebagai sumber energi.
Hilirisasi tersebut berpotensi melahirkan berbagai industri turunan, mulai dari produksi metanol dan hidrogen hingga pengembangan kilang pengolahan kondensat yang menghasilkan produk energi dan petrokimia bernilai tinggi.
Langkah Gubernur Aceh itu juga dinilai sejalan dengan Program Strategis Nasional (PSN) yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, di mana pengembangan KEK Arun Lhokseumawe menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah pusat.
Dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, bersama para pakar dan guru besar Universitas Syiah Kuala (USK), terungkap bahwa potensi migas Blok Andaman sangat besar untuk mendukung pembangunan industri hilirisasi di Aceh.
Selain gas bumi yang dapat diolah menjadi metanol dan hidrogen, Lapangan South Andaman juga diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari.
Produksi tersebut berpotensi menjadi bahan baku nafta, kerosin, hingga gasoline yang dapat menunjang pembangunan industri pengolahan migas dan kilang baru di Aceh.
Syech Wan menilai momentum tersebut sangat penting, terutama di tengah upaya pemulihan ekonomi Aceh pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah dalam beberapa waktu terakhir.
“Pasca bencana yang berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah, Aceh membutuhkan terobosan besar untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Hilirisasi migas Blok Andaman di KEK Arun dapat menjadi solusi nyata karena berpotensi menciptakan ribuan lapangan kerja, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
SEKBER Aceh juga mendukung rencana Pemerintah Aceh untuk mengundang manajemen Mubadala Energy dan SKK Migas ke Banda Aceh guna memaparkan secara terbuka rencana pengembangan Blok Andaman, termasuk dokumen Plan of Development (PoD) yang hingga kini belum diterima secara resmi oleh Pemerintah Aceh maupun Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).
“Transparansi sangat penting agar masyarakat Aceh mengetahui arah pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki daerah ini. Kami berharap seluruh potensi migas Blok Andaman benar-benar dapat memberikan manfaat maksimal bagi rakyat Aceh,” tambahnya.
SEKBER Aceh optimistis langkah yang ditempuh Gubernur Aceh tersebut akan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Aceh sebagai pusat industri energi dan petrokimia baru di kawasan barat Indonesia.
Selain itu, kebijakan tersebut diyakini mampu mempercepat kebangkitan ekonomi daerah sejalan dengan visi pembangunan nasional yang diusung Presiden Prabowo Subianto.
“Ini bukan hanya tentang migas, tetapi tentang masa depan Aceh. Jika hilirisasi berjalan di KEK Arun, manfaat ekonominya akan dirasakan langsung oleh masyarakat melalui terbukanya lapangan kerja, meningkatnya investasi, serta tumbuhnya industri-industri baru yang mampu menggerakkan ekonomi Aceh secara berkelanjutan,” pungkas Syech Wan.[]
