JAKARTA — Polri terus memberikan pendampingan psikologis kepada masyarakat terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak hari kedua pascagempa hingga Kamis (20/8/2026), tim psikologi Polri telah memberikan layanan trauma healing kepada 2.322 warga di 14 pos pengungsian.
Terbaru, Kamis (20/8/2026), Pamendal Satgas SAR Korbrimob Polri Kombes Pol. Hasripuddin, S.I.K., bersama personel Satgas SAR melaksanakan trauma healing bagi anak-anak di Posko Pengungsian Barang Kolong, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak berinteraksi melalui berbagai aktivitas dalam suasana nyaman dan menyenangkan. Pendekatan tersebut dilakukan untuk membantu mengurangi rasa takut dan kecemasan yang dialami anak-anak setelah menghadapi bencana gempa.
Kegiatan trauma healing merupakan bagian dari operasi kemanusiaan Polri yang sejak hari kedua pascagempa telah mengerahkan tim psikologi untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat terdampak, terutama anak-anak dan kelompok rentan.
Libatkan 27 Personel Psikologi
Hingga Rabu (19/8/2026), Tim Trauma Healing Psikologi Polri telah menjangkau 2.322 masyarakat di 14 pos pengungsian di wilayah hukum Polda NTT.
Sebanyak 27 personel diterjunkan, terdiri atas 12 personel Psikologi SSDM Polri, lima personel Psikologi Polda Jawa Timur, empat personel Psikologi Polda Bali, dan enam personel Psikologi Polda NTB.
Pengerahan tim dilakukan melalui Biro Psikologi SSDM Polri di bawah kendali operasi Kapolda NTT. Dalam pelaksanaannya, tim psikologi berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Dinas Sosial di sejumlah wilayah, untuk menentukan lokasi prioritas serta kebutuhan pendampingan.
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, S.I.K., M.I.Kom., mengatakan trauma healing menjadi bagian penting dalam operasi kemanusiaan karena dampak bencana tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga secara psikologis.
“Sejak hari kedua setelah gempa, Polri sudah menerbangkan tim psikologi untuk hadir di tengah masyarakat. Kita tidak hanya datang membawa bantuan dan melakukan SAR, tetapi juga membantu memulihkan rasa aman dan kondisi psikologis saudara-saudara kita yang terdampak,” ujar Trunoyudo.
Menurutnya, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian khusus dalam pelayanan psikologis.
“Anak-anak mungkin belum bisa menjelaskan rasa takutnya dengan kata-kata. Karena itu, trauma healing dilakukan dengan pendekatan yang sederhana dan menyenangkan, bermain bersama, berinteraksi, mendengarkan, dan membuat mereka kembali merasa aman,” katanya.
Pelayanan Disesuaikan dengan Kebutuhan
Pelayanan trauma healing dilakukan dengan menyesuaikan kondisi masyarakat di setiap lokasi. Tim psikologi bersama Polda NTT dan pemangku kepentingan terkait melakukan pendataan secara berkala untuk menentukan lokasi pelayanan berikutnya.
Di Kabupaten Sikka, kegiatan trauma healing juga dilaksanakan bersama Dinas Sosial. Sementara itu, kebutuhan pendampingan psikologis di kabupaten lainnya terus dipetakan.
“Data ini terus kami perbarui. Kondisi di setiap kabupaten berbeda, sehingga tim bersama Polda dan stakeholder melakukan pendataan agar personel trauma healing ditempatkan di titik yang memang membutuhkan,” ujar Trunoyudo.
Pemulihan Tidak Hanya Kebutuhan Fisik
Di Kabupaten Manggarai, pendampingan psikologis berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di pengungsian.
Sebelum memberikan trauma healing, personel Satgas SAR Korbrimob turut memberikan pelayanan sarapan pagi kepada masyarakat di Posko Pengungsian Barang Kolong. Kehadiran personel di lokasi menjadi bagian dari upaya memberikan rasa aman sekaligus membantu memenuhi kebutuhan warga selama berada di pengungsian.
Trunoyudo menegaskan, pemulihan masyarakat membutuhkan proses dan tidak berhenti setelah tahap pencarian maupun evakuasi selesai.
“Operasi kemanusiaan tidak selesai ketika korban sudah dievakuasi. Pemulihan juga membutuhkan waktu. Karena itu, Polri akan terus mendampingi masyarakat, termasuk melalui trauma healing, sampai kondisi mereka berangsur pulih dan kembali merasa aman,” tegasnya.
Polri akan terus memperbarui data serta memperluas layanan trauma healing sesuai kebutuhan di lapangan, dengan perhatian khusus kepada anak-anak, lansia, keluarga korban, dan kelompok rentan lainnya.
Sejak hari kedua pascagempa hingga Kamis ini, Polri terus hadir di tengah masyarakat Flores. Tidak hanya melalui pencarian dan evakuasi, tetapi juga dengan mendampingi, mendengarkan, serta membantu masyarakat memulihkan kondisi psikologis dan bangkit dari dampak bencana.[]
