Banda Aceh – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, menutup Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit di Hotel Mekkah dan Amel, Banda Aceh, Sabtu (12/9/2026).
Pelatihan tersebut merupakan kerja sama Distanbun Aceh dengan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Best Planter Indonesia (BPI).
Azanuddin mengatakan, pelatihan menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pekebun sawit.
Peningkatan kompetensi tersebut diharapkan berdampak pada peningkatan produksi, produktivitas, serta pendapatan pekebun.
“Peningkatan SDM pekebun sangat penting. Selain kebutuhan bibit, pupuk, air dan sarana prasarana, kemampuan teknis dalam mengelola kebun juga menentukan peningkatan produksi dan pendapatan,” ujar Azanuddin.
Ia menyebutkan, kegiatan tersebut sejalan dengan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, khususnya dalam mewujudkan kemandirian ekonomi Aceh berbasis sektor unggulan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas unggulan daerah dan nasional. Karena itu, peningkatan kapasitas pekebun perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk dalam pengelolaan tanaman pangan seperti padi dan jagung.
Pelatihan yang dilaksanakan BPI di bawah koordinasi Direktur Operasional Friandito itu digelar dalam dua gelombang.
Gelombang I berlangsung pada 31 Agustus hingga 5 September 2026 dan diikuti 192 peserta dari Kabupaten Aceh Timur. Materi teori dilaksanakan di Hotel Mekkah dan Amel, sedangkan praktik lapangan digelar di Koperasi Berkat Bunga Damai, Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara.
Koperasi tersebut merupakan salah satu koperasi yang telah memperoleh sertifikat RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), yakni sertifikasi internasional yang berkaitan dengan praktik kelapa sawit berkelanjutan.
Sementara Gelombang II berlangsung pada 7–12 September 2026 dengan jumlah peserta 181 orang, juga berasal dari Aceh Timur. Kegiatan field trip dilaksanakan di PT ASN Bate Puteh, Aceh Barat.
Azanuddin menjelaskan, jumlah pekebun sawit yang mendapat pelatihan dari Distanbun Aceh terus meningkat setiap tahun.
Pada 2024, sebanyak 236 pekebun mengikuti pelatihan, terdiri atas 111 orang dari Aceh Barat dan 125 orang dari Nagan Raya.
Jumlah tersebut meningkat menjadi 669 orang pada 2025, dengan rincian 424 orang dari Aceh Tamiang dan 245 orang dari Aceh Timur.
Sedangkan pada 2026, jumlah peserta meningkat menjadi 1.643 orang, terdiri atas 94 orang dari Subulussalam, 365 orang dari Aceh Singkil, 421 orang dari Aceh Tamiang dan 703 orang dari Aceh Timur.
“Dengan demikian, total pekebun yang telah mendapatkan pelatihan selama 2024 hingga 2026 mencapai 2.548 orang,” kata Azanuddin.
Ia menjelaskan, pelatihan budidaya kelapa sawit dari sektor hulu hingga hilir difasilitasi secara teknis oleh Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, sedangkan pendanaannya berasal dari BPDP.
Dinas perkebunan kabupaten berperan melakukan pendataan dan verifikasi calon peserta. Sementara Distanbun Aceh bertugas melakukan verifikasi sekaligus mengompilasi usulan dari kabupaten/kota.
Azanuddin mengimbau kabupaten/kota sentra sawit di Aceh agar memanfaatkan peluang tersebut dengan mengusulkan sebanyak mungkin pekebun yang memenuhi kriteria untuk mengikuti pelatihan yang didanai BPDP.
“Ini kesempatan emas bagi kita. Selain peremajaan sawit rakyat serta dukungan sarana dan prasarana, pemerintah juga membantu meningkatkan SDM pekebun,” ujarnya.
Menurut Azanuddin, seluruh pelaksana pelatihan berasal dari lembaga pelatihan berstandar nasional yang ditunjuk BPDP. Pemerintah Aceh dalam program tersebut berperan sebagai penerima manfaat sesuai mekanisme yang ditetapkan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan.
Ia juga meminta para pekebun yang telah mengikuti pelatihan pada 2024, 2025 dan 2026 untuk menerapkan ilmu serta wawasan yang diperoleh dari para narasumber dan instruktur.
Dinas perkebunan kabupaten, lanjutnya, diharapkan turut mengawal penerapan hasil pelatihan secara berkala.
“Kita berharap pola budidaya dan pemanfaatan berbagai sumber daya yang ada di kebun dapat dilakukan secara optimal,” katanya.
Azanuddin menambahkan, Distanbun Aceh melalui Bidang PPSDMP juga akan melakukan evaluasi terhadap peserta pelatihan untuk mengetahui perkembangan serta dampak program tersebut.
Dorong Pekebun Manfaatkan Limbah Sawit
Sebelum menutup kegiatan, Azanuddin juga menjadi narasumber dengan tema “Pemanfaatan Limbah Batang Sawit sebagai Alternatif Ekonomi Baru”.
Ia menjelaskan, batang sawit yang telah ditebang tidak harus menjadi limbah, tetapi dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan nilai ekonomi.
Salah satunya dengan memanfaatkan nira dari batang sawit untuk diolah menjadi gula sawit. Menurutnya, potensi pendapatan dari pemanfaatan tersebut dapat mencapai sekitar Rp60 juta hingga Rp200 juta per hektare dalam periode dua bulan, tergantung skala dan pengelolaannya.
“Satu batang sawit bisa mengeluarkan nira sekitar 5–15 liter per hari selama dua bulan. Kalau kita ambil contoh lima liter per hari, dalam dua bulan bisa menghasilkan sekitar 300 liter nira,” jelasnya.
Ia juga mendorong pekebun memanfaatkan bagian lain dari tanaman sawit. Pelepah dapat diolah menjadi lidi sawit, sementara daun dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak setelah melalui pengolahan sederhana.
Untuk menekan biaya produksi, pekebun juga didorong membuat pupuk organik dari sumber daya yang tersedia di sekitar kebun.
“Jangan semua harus kita beli di pasar. Saya yakin para pekebun mampu membuatnya sendiri,” kata Azanuddin.
Ia juga mengajak keluarga pekebun memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menanam kebutuhan pangan rumah tangga, seperti bayam, sawi, ubi kayu, kacang panjang, cabai dan berbagai jenis sayuran lainnya.
Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga setiap bulan. Dana yang berhasil dihemat dapat dialihkan untuk pendidikan anak, ditabung, maupun memenuhi kebutuhan kesehatan.
“Tidak ada yang tidak bisa kalau kita mau bergerak. Tidak ada seribu langkah tanpa satu langkah dan tidak ada satu miliar tanpa satu rupiah,” ujar Azanuddin.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kabid PPSDMP Distanbun Aceh Mukhlis, SP, MA, Kabid Produksi Perkebunan Fakhrurrazi, SP, M.Sc, serta sejumlah staf terkait.[]
