Banda Aceh - Dalam rangka menyambut peringatan 18 tahun bencana gempa dan tsunami, Aceh Bergerak menggelar doa bersama serta pemutaran film karya sineas, Sabtu, 24 Desember 2022 di Taman Seni dan Budaya Aceh.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh melalu Kepala Bidang Pengembangan Usaha Pariwisata dan Kelembagaan (PUPK), Ismail mengatakan film adalah bagian kebangkitan ekonomi. Selain sebagai identitas bangsa, film juga menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja yang sangat luas.

Menurutnya, dengan mengusung tema “Pusat kota kreatif pasca tsunami Aceh” perfilman skala lokal ini, kemungkinan akan melibatkan sekitar 30 kru film.

“Kalau film nasional (layar lebar) bisa menyerap tenaga kerja mencapai 100-200 orang. Bayangkan jika perfilman kita di Aceh ke arah sana? Dengan kreatifvitas yang saya lihat saat ini, kita yakin sineas-sineas Aceh saat ini tengah menuju ke arah sana,” jelas Ismail.

Disbudpar Aceh juga turut berpartisipasi menyumbangkan 5 karya film, diantaranya berjudul Animasi Iskandar Muda, Hikayat Waroeng Kopi, Kitab Kuning, Yasmin, dan Seudati Inong, yang semuanya diproduksi oleh para sineas yang hadir di acara tersebut.

Disbudpar Aceh hanya memberikan kesempatan kepada sejumlah rumah produksi untuk menuangkan ide kreativitasnya melalui film yang berkaitan dengan promosi wisata dan kebudayaan, serta sejarah.

Sebagai salah satu subsektor unggulan, dunia perfilman akan terus mendapatkan dukungan dari pemerintah. Disbudpar Aceh terus berupaya memberi dukungan penuh untuk kemajuan dunia perfilman Aceh, dengan memberikan kebijakan yang tepat sasaran dan tepat manfaat agar industri perfilman kita maju.

Oleh karena itu, menurut Ismail, ekosistem perfilman di Aceh akan berpotensi membuka jalur distribusi karya para sineas Aceh ke kancah nasional maupun internasional. Hal itu dilihat dari munculnya sejumlah karya sineas Aceh yang mendapat apresiasi dan penghargaan dari sejumlah pihak.

“Disbudpar selalu bersama sineas Aceh, memberi dukungan penuh demi kemajuan dunia perfilman Aceh. Film karya sineas Aceh sangat komersial, hanya saja bagaimana menerobos pintu industri itu,” pintanya.[*]