Nasywa Difa Batuah, Siswi SMA Negeri 1 Lhokseumawe. Juara III Lomba Opini Siswa SMA/SMK Se-Aceh kerjasama Dinas Pendidikan Aceh dan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA).
Oleh : Nasywa Difa Batuah, Siswi SMA Negeri 1 Lhokseumawe
Meuligoeaceh.com - Generasi Z atau Gen Z adalah generasi yang lahir pada akhir 1990-an hingga awal 2010-an. Generasi Z disebut sebagai generasi digital, mereka telah tumbuh dan berkembang di era di mana teknologi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dengan akses internet dan teknologi yang begitu pesat membuat mereka memiliki banyak aspirasi-aspirasi positif, hal ini mendorong mereka menjadi individu yang lebih sadar akan isu-isu yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Interaksi dengan teknologi ini juga telah membentuk cara mereka berpikir, belajar, dan berkomunikasi. Hal ini membuat mereka memiliki keterampilan sosial yang kuat untuk memecahkan masalah dan mengembangkan kreativitas di dalam lingkungan.
Dilansir dari laman Instragram @wacanaindonesia tentang aksi Wacana Peduli Lingkungan atau disebut dengan WAPALI, kegiatan ini merupakan aksi nyata dari kepedulian pemuda-pemudi di kota Lhokseumawe terhadap lingkungan. Kegiatan WAPALI juga telah mendapat dukungan dari DLHK (Dinas Lingkungan Hidup Kota) kota Lhokseumawe dan sampah yang dihasilkan pada kegiatan tersebut sebanyak 135 kg sampah berjenis plastik. Aksi bersih-bersih Waduk Kota Lhokseumawe digagas oleh Yayasan Forum Pembaca Cendikia, menunjukkan bahwa semangat dan kepedulian lingkungan masih ada di kalangan generasi Z. Melalui aksi bersih-bersih Waduk Kota Lhokseumawe, mereka telah menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Inisiatif yang digagas oleh Yayasan Forum Pembaca Cendikia ini patut mendapatkan apresiasi dan dapat menginspirasi kita semua untuk turut serta dalam menjaga lingkungan.
Namun, disamping itu generasi Z juga menghadapi berbagai tantangan. Tekanan yang datang dari sosial media dan teman seumuran seringkali dapat membuat mereka mengikuti suatu tren yang tidak selalu ramah bagi lingkungan. Generasi di era digital ini tak hanya memberikan potensi positif, namun ada beberapa potensi negatif yang dapat dipicu oleh kebiasaan atau gaya hidup generasi z yang modern. Tak hanya gaya hidup ramah lingkungan, gaya hidup konsumtif juga kerap terjadi di kalangan gen z karena tren yang terus berkembang.
Generasi Z tumbuh di era digital yang serba instan. Mereka terpapar oleh iklan dan tren terbaru setiap kali membuka media sosial. FOMO (Fear of Missing Out) membuat mereka sering merasa harus memiliki barang-barang terbaru untuk diterima di lingkungan sosial. Pengaruh dari influencer dan selebriti seringkali memamerkan gaya hidup mewah, yang tanpa mereka sadari menjadi acuan bagi Generasi Z. Kemudahan akses belanja online dan beragam promo menarik juga semakin mendorong perilaku konsumtif pada generasi Z.
Gaya hidup konsumtif ditandai dengan pembelian barang secara berlebihan, tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu manfaat dari barang yang dibeli dan dampaknya kepada lingkungan. Gaya hidup konsumtif yang semakin marak terjadi membawa dampak serius, terutama bagi lingkungan sekitar. Kebiasaan membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan demi mengejar tren terbaru menghasilkan banyaknya sampah dan limbah karena membuang barang dengan cepat setelah tidak terpakai.
Gaya hidup konsumtif telah menciptakan monster yang mengancam bumi kita. Salah satu dampak paling nyata terjadi dari gaya hidup konsumtif adalah pencemaran lingkungan akibat sampah plastik. Gaya hidup konsumtif telah menciptakan krisis sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan dan berdampak buruk bagi lingkungan. Sampah plastik yang dihasilkan dari kemasan makanan sekali pakai seperti botol minuman, bungkus makanan, hingga kantong belanja sering membanjiri lingkungan kita, yang mana hal ini turut berkontribusi pada tumpukan sampah plastik yang semakin menjulang tinggi. Sampah plastik membutuhkan waktu yang lama untuk terurai dan dapat mencemari lingkungan kita dari segala sisi. Udara sehari-hari yang kita hirup tercemar oleh mikroplastik yang dihasilkan dari pembakaran sampah plastik, air yang setiap hari kita minum terkontaminasi oleh zat-zat kimia berbahaya yang terkandung dalam plastik, dan tanah dari bumi yang kita pijaki ini menjadi tidak subur akibat tumpukan sampah plastik.
Lautan pun tak luput dari ancaman serius dari sampah plastik. Hewan-hewan laut seperti penyu dan ikan seringkali mendapatkan dampaknya dengan terjerat atau memakan sampah plastik. Hal ini yang menyebabkan seringnya terjadi kematian massal pada berbagai spesies laut dan mengganggu keseimbangan ekosistem laut. Selain itu, mikroplastik yang sangat kecil juga dapat masuk ke dalam rantai makanan laut, sehingga berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui makanan laut yang kita konsumsi.
TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang semakin penuh juga menjadi masalah yang serius. Tempat pembuangan akhir sampah yang seharusnya menjadi solusi, kini justru menjadi sumber masalah baru. Pembuangan sampah plastik yang tidak terkendali dapat menyebabkan pencemaran tanah, air dan udara di sekitar TPA, serta menghasilkan gas metana yang merupakan salah satu penyebab pemanasan global. Pembakaran sampah plastik juga menghasilkan gas rumah kaca yang memperburuk kondisi pemanasan global. Limbah industri plastik yang mengandung bahan kimia berbahaya juga akan mencemari tanah dan air, mengancam kesehatan manusia dan ekosistem makhluk hidup.
Untuk mengatasi permasalahan ini, dapat dilakukan beberapa langkah strategis. Pertama, pendidikan lingkungan sejak dini. Hal ini merupakan pondasi yang kuat untuk membudayakan perilaku peduli akan lingkungan. Langkah awal dapat dengan diberikan pemahan mengenai lingkungan dan mencontohkan kebiasaan yang ramah lingkungan. Mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tas belanja sendiri, mendaur ulang sampah, hingga memilih produk yang ramah lingkungan. Alih-alih mengejar barang-barang pengeluaran terbaru, mereka dapat lebih fokus untuk mencari pengalaman baru yang bermanfaat bagi lingkungan dengan cara memperbaiki, dan mendaur ulang bahan-bahan tersebut sehingga memberikan dampak yang lebih positif bagi lingkungan dan kesehatan. Selain itu, dengan kreativitas mereka, dapat meciptakan peluang bisnis yang dapat menambah penghasilan.
Selain itu, kita juga perlu mendukung kebijakan pemerintah yang mendorong pengurangan penggunaan plastik dan pengelolaan sampah yang lebih baik. Kerjasama antara generasi Z dengan pemerintah sangatlah penting dalam upaya menjaga lingkungan. Generasi Z, tumbuh dengan pemahaman teknologi yang mendalam membawa banyak inovasi yang dapat membawa solusi baru Di sisi lain, pemerintah memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan yang luas. Dengan menggabungkan kekuatan dan sudut pandang yang berbeda ini, keduanya dapat saling melengkapi dan menciptakan perubahan yang besar bagi lingkungan.
Kemudian, Gen Z dapat menjadi agen perubahan untuk bumi berkelanjutan, dengan cara mengajak teman-teman dan keluarga untuk hidup lebih ramah lingkungan. Mereka dapat berbagi informasi di media sosial mengenai lingkungan dan menciptakan program-program yang bermanfaat dalam upaya pelestarian lingkungan.
Dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih ramah lingkungan, Gen Z tidak hanya melindungi lingkungan sekitar tetapi juga meningkatkan kualitas hidup mereka. Lingkugan yang bersih, sehat, dan ramah lingkungan akan memberikan banyak manfaat bagi dunia, seperti menciptakan udara yang segar dan asri, air yang bersih, dan sumber daya alam yang melimpah. Selain itu, gaya hidup yang sederhana dapat mengurangi pikiran yang berlebih yang dapat memicu stress.[]