KSAD Bantah Anggaran Sumur Bor Rp150 Juta Disebut Boros

Editor: Syarkawi author photo

 


JAKARTA — Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak merespons kritik publik terkait anggaran pembangunan sumur bor senilai Rp150 juta di wilayah terdampak bencana. 

Anggaran tersebut sebelumnya menuai sorotan warganet yang menilai biaya pembangunan terlalu mahal dan diduga tidak efisien.

Polemik mencuat setelah sejumlah pengguna media sosial membandingkan biaya sumur bor yang dibangun TNI AD dengan sumur milik warga di beberapa daerah yang disebut hanya menelan biaya puluhan juta rupiah. Perbandingan itu memicu tudingan pemborosan hingga dugaan mark up anggaran.

“Sumur bor di desa kami tidak sampai Rp50 juta,” tulis salah satu warganet. Kritik serupa ramai beredar dan disertai tuntutan agar pemerintah membuka secara rinci komponen biaya proyek tersebut.

Menanggapi hal itu, Maruli meminta masyarakat tidak menilai proyek kemanusiaan hanya dari perbandingan angka tanpa memahami kondisi lapangan. Menurut dia, setiap lokasi memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, mulai dari akses wilayah, kondisi geografis, hingga kebutuhan teknis.

“Jangan semua merasa terus mengoreksi. Kritik itu bagus agar kami juga evaluasi, tapi jangan memberi kesan seolah-olah kami ini banyak salah,” ujar Maruli di Jakarta.

Ia menjelaskan, dalam proyek kemanusiaan, TNI AD tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memastikan kualitas, keamanan, dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Faktor logistik, pengamanan, serta pengerahan personel di wilayah bencana turut menjadi bagian dari perhitungan anggaran.

Dalam kesempatan yang sama, Maruli juga menanggapi julukan “Jenderal Baut” yang ramai beredar di media sosial. Julukan itu muncul setelah ia mengungkap dugaan sabotase pada jembatan darurat Bailey di Teupin Mane, Kabupaten Bireuen, Aceh, yang baut-bautnya disebut dicabut oleh pihak tidak bertanggung jawab.

“Saya dibilang Jenderal Baut. Padahal saya yang merencanakan, memindahkan satuan, mengangkut material, hingga jembatan itu bisa dipasang dan digunakan masyarakat,” kata Maruli.

Ia menegaskan keterlibatannya hingga aspek teknis merupakan bentuk tanggung jawab agar fasilitas yang dibangun benar-benar aman. Menanggapi komentar sinis warganet, Maruli mengaku memilih tetap fokus menjalankan tugas.

“Yang otaknya sebaut, ya orang itu. Biarin saja,” ujarnya.

Maruli menegaskan seluruh langkah yang dilakukan TNI AD, baik pembangunan sumur bor maupun jembatan darurat, bertujuan membantu masyarakat, khususnya di wilayah terdampak bencana. Ia berharap publik dapat menilai kerja-kerja kemanusiaan tersebut secara lebih utuh dan objektif.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini