![]() |
| Tim Falakiyah Kanwil Kementerian Agama Aceh menyampaikan hasil perhitungan posisi hilal awal Ramadhan 1447 H di Gedung Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang, Lhoknga, Aceh Besar, Selasa (17/2/2026). |
Banda Aceh — Penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Aceh dipastikan tidak dapat dilakukan melalui pengamatan hilal pada Selasa, 17 Februari 2026.
Kepastian tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, Drs. H. Azhari, M.Si., berdasarkan hasil perhitungan astronomi Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh.
Azhari menjelaskan, ijtima’ atau konjungsi bulan sebagai penanda awal Ramadhan terjadi pada Selasa (17/2/2026) pukul 19.01.07 WIB. Namun, pada saat matahari terbenam, posisi bulan masih berada di bawah ufuk, sehingga tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal.
“Berdasarkan data hisab, pada 29 Sya’ban 1447 Hijriah posisi hilal di Markaz Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang berada pada ketinggian minus 0,97 derajat dengan elongasi geosentrik 0,93 derajat. Dengan kondisi ini, hilal belum mungkin terlihat,” ujar Azhari.
Ia menegaskan, rukyatul hilal tetap menjadi metode penting dalam penentuan awal bulan Hijriah. Namun, apabila secara perhitungan astronomi posisi bulan masih berada di bawah horizon, maka pengamatan tidak akan menghasilkan visibilitas hilal.
Atas dasar tersebut, Kanwil Kemenag Aceh tidak melaksanakan rukyat hilal sebagaimana biasanya. Kegiatan di Markaz Observatorium difokuskan pada edukasi astronomi Islam serta penyampaian informasi resmi kepada masyarakat terkait posisi hilal dan estimasi awal Ramadhan.
Ketua Tim Falakiyah Kanwil Kemenag Aceh, Dr. Alfirdaus Putra, S.HI., M.H., menjelaskan bahwa secara teknis bulan telah terbenam lebih dahulu dibanding matahari.
Pada 29 Sya’ban 1447 H, matahari terbenam pada pukul 18.52 WIB dengan azimut 258 derajat, sedangkan bulan terbenam pada pukul 18.48 WIB dengan azimut 257 derajat dari utara searah jarum jam.
“Dengan posisi tersebut, secara ilmiah hilal mustahil dapat dirukyat karena objek sudah berada di bawah ufuk,” jelasnya.
Berdasarkan hasil perhitungan hisab tersebut, awal Ramadhan 1447 Hijriah di Aceh diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Azhari pun mengajak umat Islam di Aceh untuk menyambut bulan suci dengan kesiapan lahir dan batin.
“Kami mengucapkan selamat menyambut Ramadhan 1447 Hijriah. Mari kita persiapkan diri, baik secara fisik maupun mental, untuk menjalankan ibadah puasa dan amalan lainnya dengan sebaik-baiknya,” tutupnya.
Dengan penjelasan ini, masyarakat diharapkan memahami bahwa penentuan awal Ramadhan tidak hanya bertumpu pada pengamatan visual, tetapi juga didukung oleh perhitungan astronomi yang akurat, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan. (**)
