Banda Aceh — Pemerintah Provinsi Aceh menegaskan pentingnya peran sekolah sebagai ruang strategis dalam pemulihan trauma anak pascabencana.
Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Aceh Muzakir Manaf melalui sambutan tertulis yang dibacakan Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Sosial Aceh, Chaidir, S.E., M.M., pada kegiatan Training for Trainers (TFT) Nasional Pemulihan Psikososial Pascabencana bagi guru Sekolah Islam Terpadu (SIT) se-Aceh di Hotel Diana, Senin (16/2/2026).
Dalam sambutannya, Gubernur Aceh menekankan bahwa Aceh memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai bencana alam, mulai dari gempa bumi dan tsunami hingga banjir serta bencana hidrometeorologi lainnya.
Berbagai peristiwa tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur dan kerugian material, tetapi juga menyisakan dampak psikologis yang mendalam, terutama bagi anak-anak usia sekolah.
“Bencana tidak hanya meruntuhkan bangunan, tetapi juga mengguncang rasa aman dan kepercayaan diri anak-anak. Trauma yang tidak tertangani dengan baik dapat memengaruhi proses belajar, perkembangan emosional, bahkan masa depan mereka,” ujar Chaidir saat membacakan sambutan Gubernur Aceh.
Menurutnya, sekolah memiliki posisi yang sangat vital dalam proses pemulihan pascabencana. Saat anak-anak kembali ke lingkungan sekolah, mereka tidak hanya melanjutkan aktivitas belajar, tetapi juga mulai membangun kembali rutinitas, rasa aman, dan harapan yang sempat terguncang.
Dalam konteks ini, guru berperan penting tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pendamping emosional dan sumber ketenangan bagi peserta didik.
Pelaksanaan TFT pemulihan psikososial tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat kapasitas guru dalam mengenali tanda-tanda trauma, memberikan pertolongan pertama psikologis, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan suportif.
Dengan bekal pelatihan ini, para guru diharapkan mampu menjadi agen pemulihan di sekolah masing-masing.
Pemerintah Aceh juga menyampaikan apresiasi kepada Jaringan Sekolah Islam Terpadu Wilayah Aceh atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Dunia pendidikan dinilai memiliki tanggung jawab tidak hanya pada peningkatan mutu akademik, tetapi juga pada penguatan kesehatan mental dan ketahanan psikologis warga sekolah.
Ketua Umum JSIT Wilayah Aceh, Fahrul Rizal, M.Pd., Gr., dalam kesempatan itu menyatakan komitmennya untuk terus mendorong sekolah-sekolah Islam terpadu menjadi lembaga pendidikan yang tangguh bencana.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Umum Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia, Ahmad Fikri, M.Pd., NLP., yang memberikan dukungan terhadap penguatan kapasitas guru di daerah rawan bencana.
Selain peningkatan kapasitas tenaga pendidik, Pemerintah Aceh juga mendorong setiap satuan pendidikan membangun budaya sekolah tangguh bencana.
Upaya tersebut meliputi edukasi mitigasi bencana sejak dini, pelaksanaan simulasi kebencanaan secara berkala, serta penguatan karakter peserta didik agar memiliki ketangguhan dan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.
Kegiatan TFT Nasional ini secara resmi dibuka dan diharapkan mampu memberikan dampak nyata dalam memperkuat sistem pendidikan Aceh yang adaptif dan resilien.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, Aceh optimistis dapat membangun generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara mental dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (**)
