ACEH – TNI Angkatan Darat melalui Program Jembatan Garuda membangun 11 jembatan perintis (jembatan gantung) di berbagai wilayah Provinsi Aceh guna membuka kembali akses transportasi masyarakat yang sebelumnya terisolasi akibat kerusakan infrastruktur pascabencana.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah daerah di Aceh dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., menegaskan bahwa pembangunan jembatan gantung tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana penghubung antarwilayah, tetapi juga menjadi langkah penting dalam mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat.
“Jembatan bukan sekadar infrastruktur fisik, tetapi simbol hadirnya negara untuk memastikan mobilitas masyarakat tetap berjalan dan perekonomian rakyat dapat pulih,” ujar Kasad.
Sebanyak 11 jembatan gantung tersebut dibangun di sejumlah daerah di Aceh, yakni di Kabupaten Pidie Jaya (Desa Ara dan Desa Blang Awe), Aceh Utara (Sungai Lhok Kuyun, Gampong Teungoh, dan Blang Teurekan), Aceh Tamiang (Sungai Tamiang), Aceh Timur (Sungai Pante Kera), Pidie (Desa Baro Yaman), Aceh Barat (Kajeung), Aceh Tenggara (Kali Alas), serta Aceh Tengah (Burni Bius).
Pembangunan jembatan ini diharapkan dapat mempermudah mobilitas masyarakat dalam mengakses berbagai fasilitas penting seperti sekolah, pasar, layanan kesehatan, serta pusat kegiatan ekonomi lainnya.
Kasad menegaskan bahwa TNI AD akan terus berperan aktif bersama pemerintah daerah dan masyarakat dalam membantu percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana serta memastikan akses transportasi masyarakat dapat kembali berjalan normal.[]
