![]() |
| BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda mengeluarkan peringatan siaga bencana hidrometeorologi di Aceh akibat potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang pada periode 11–20 April 2026. |
Banda Aceh — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda (SIM) mengeluarkan peringatan siaga bencana hidrometeorologi kepada Gubernur Aceh menyusul potensi cuaca buruk yang diperkirakan melanda hampir seluruh wilayah Aceh dalam beberapa hari ke depan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda, Nasrol Adil, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer saat ini menunjukkan adanya gangguan berupa pola siklonik yang memicu terbentuknya daerah belokan angin (shearline) dan konvergensi di wilayah Aceh.
“Kami menyampaikan peringatan siaga bencana hidrometeorologi berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang. Kondisi ini berpotensi menimbulkan bencana seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang,” ujar Nasrol, Jumat (10/4/2026).
Ia menambahkan, berdasarkan pantauan angin pada lapisan 3.000 kaki, fenomena shearline dan konvergensi tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan, sehingga meningkatkan peluang terjadinya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.
BMKG membagi potensi bencana hidrometeorologi ini ke dalam dua periode. Periode pertama berlangsung pada 11–15 April 2026 yang berpotensi terjadi di wilayah Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Banda Aceh, Bireuen, Langsa, Lhokseumawe, Pidie Jaya, Sabang, dan Simeulue.
Sementara itu, periode kedua pada 16–20 April 2026 mencakup wilayah Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Bener Meriah, Gayo Lues, Nagan Raya, Pidie, dan Subulussalam.
Selain itu, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini cuaca, di mana sebagian wilayah diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, terutama pada sore hingga dini hari.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, serta terus memantau perkembangan informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG guna meminimalkan risiko yang mungkin terjadi.[]
