MALUKU UTARA – Dalam rangka memperingati Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 tahun 2026, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Maluku Utara menggelar aksi sosial donor darah di Aula Gamalama, Senin (20/4/2026).
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 WIT ini diikuti secara antusias oleh jajaran pegawai Kanwil Ditjenpas Maluku Utara serta Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Kota Ternate, mulai dari pejabat struktural, staf, CPNS hingga peserta magang.
Kepala Kanwil Ditjenpas Maluku Utara, Said Mahdar, turut hadir dan ambil bagian sebagai pendonor, didampingi Kabid Pelayanan dan Pembinaan Yunus Maraden serta Kabid Pembimbingan Kemasyarakatan Badarudin.
Kehadiran pimpinan menjadi teladan dalam menumbuhkan semangat kepedulian sosial di lingkungan pemasyarakatan.
Said Mahdar menyampaikan, kegiatan donor darah ini merupakan wujud nyata implementasi nilai kemanusiaan dalam Pemasyarakatan.
“Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi bentuk kontribusi nyata kami kepada masyarakat. Pemasyarakatan tidak hanya fokus pada pembinaan warga binaan, tetapi juga hadir dalam aksi sosial kemanusiaan,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari penerapan nilai-nilai core value PRIMA yang terus digaungkan di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, guna membangun budaya kerja yang profesional sekaligus peduli sosial.
Dalam pelaksanaannya, Kanwil Ditjenpas Maluku Utara bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Maluku Utara untuk memastikan proses donor darah berjalan sesuai standar medis.
Dari target 160 peserta, kegiatan ini berhasil mengumpulkan 36 kantong darah dari berbagai golongan. Hasil tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan stok darah di wilayah Maluku Utara.
Said Mahdar pun mengapresiasi partisipasi seluruh jajaran yang telah berkontribusi secara sukarela.
“Setetes darah yang kita sumbangkan sangat berarti bagi keselamatan orang lain. Semoga ini menjadi amal kebaikan bagi kita semua,” tutupnya.
Kegiatan donor darah ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi agenda rutin sebagai bagian dari budaya organisasi yang peduli terhadap kemanusiaan.[]
