![]() |
| Muhammad Nasril, ASN Kemenag asal Aceh berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya berkat dukungan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag - LPDP. |
Ciputat — Muhammad Nasril, aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama asal Aceh, berhasil meraih gelar doktor dalam bidang Pengkajian Islam di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Capaian itu diraih berkat dukungan program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP.
Dalam ujian terbuka promosi doktor yang digelar Rabu (13/5/2026), Nasril dinyatakan lulus dengan nilai 93,33 dan predikat sangat memuaskan setelah sukses mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji.
Keberhasilan tersebut menjadi perjalanan panjang seorang anak gampong dari Meunasah Mesjid, Kabupaten Pidie, yang meniti pendidikan hingga mencapai jenjang doktoral.
“Alhamdulillah, berkah Beasiswa Indonesia Bangkit LPDP telah mengantarkan saya meraih doktor,” ujar Nasril usai sidang promosi.
Nasril lahir dan besar di lingkungan keluarga pendidik. Ayah dan ibunya, Kamaruzzaman, S.Pd., dan Ani, S.Pd., menanamkan semangat belajar sejak dini.
Pesan sang ayah agar dirinya suatu hari meraih gelar doktor menjadi motivasi yang terus dipegang hingga kini.
Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri Meunasah Mesjid, kemudian melanjutkan ke MTs Darul ‘Ulum Banda Aceh dan MAS Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) Aceh Besar.
Setelah itu, Nasril melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar Mesir dan meraih gelar sarjana (Lc) pada 2009. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan magister di UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit, Nasril kembali melanjutkan pendidikan doktoralnya di Jakarta dan berhasil menyelesaikan studi tepat waktu dalam delapan semester.
Sidang promosi doktor tersebut dipimpin Prof. Dr. Zulkifli, M.A., dengan tim promotor Prof. Dr. Rusli dan Prof. Dr. Kamarusdiana. Sementara tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Mesraini, Prof. Dr. Afidah Wahyuni, dan Prof. Dr. A. Bakir Ihsan, serta Dr. Maswani, M.A. sebagai sekretaris sidang.
Dalam keterangannya, Prof. Zulkifli menyebut Nasril sebenarnya layak memperoleh predikat cumlaude.
Namun, berdasarkan aturan baru yang mewajibkan masa studi minimal tiga tahun atau enam semester, predikat tersebut tidak dapat diberikan.
Meski demikian, pencapaian Nasril tetap dinilai istimewa karena ia menempuh studi doktoral di tengah tugasnya sebagai ASN non-dosen yang sebelumnya tidak banyak berkecimpung dalam penelitian akademik.
“Perjalanan ini penuh perjuangan dan tantangan. Sebelumnya saya jarang melakukan penelitian karena bukan dosen, tetapi harus mampu menyelesaikan studi tepat waktu dan menyesuaikan dengan tradisi keilmuan di SPS,” ungkap Penghulu di Aceh Besar tersebut.
Dalam disertasinya, Nasril mengangkat tema “Hegemoni Ulama dalam Praktik Pernikahan Usia Anak di Aceh”.
Penelitian itu menggunakan pendekatan teori hegemoni Antonio Gramsci untuk mengkaji hubungan antara otoritas ulama, legitimasi agama, budaya lokal, dan struktur sosial dalam praktik pernikahan usia anak di Aceh.
Menurut Nasril, fenomena tersebut tidak bisa dipandang dari satu sisi semata karena dipengaruhi berbagai faktor sosial, budaya, dan keagamaan.
“Fenomena pernikahan usia anak di Aceh tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Ia merupakan hasil interaksi antara agama, budaya lokal, dan struktur sosial masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menilai upaya pencegahan pernikahan usia anak tidak cukup dilakukan melalui pendekatan hukum, tetapi perlu melibatkan pendekatan budaya dan keagamaan melalui kolaborasi pemerintah dan ulama.
Selama proses penelitian, Nasril menghadapi berbagai tantangan di lapangan, mulai dari menunggu lama untuk bertemu narasumber hingga melakukan wawancara larut malam.
“Ada yang harus menunggu berjam-jam, ada juga yang memberikan waktu hampir pukul 01.00 malam. Banyak dinamika, tetapi hari ini semua terasa indah untuk dikenang,” katanya.
Selain sebagai ASN Kementerian Agama Aceh, Nasril juga aktif di sejumlah organisasi sosial-keagamaan.
Ia tercatat sebagai pengurus Badan Wakaf Indonesia periode 2025–2028, Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah Aceh, serta Ketua Humas Dayah Insan Qurani.
Kisah Muhammad Nasril menjadi gambaran bagaimana program Beasiswa Indonesia Bangkit membuka peluang pendidikan bagi generasi muda daerah untuk meraih pendidikan tinggi dan berkontribusi bagi masyarakat.[]
