Apriono “Bang Opi”, Figur Politisi Merakyat dengan Kepemimpinan Bersahaja di Aceh Besar

Editor: Syarkawi author photo

 

Apriono, ST atau Bang Opi, anggota DPRK Aceh Besar yang dikenal bersahaja dan aktif memperjuangkan program berbasis kebutuhan masyarakat.

Aceh Besar – Sosok politisi yang lahir dari akar rumput kerap memiliki daya tarik tersendiri di mata publik. Mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan langsung dinamika kehidupan masyarakat. 

Hal ini tercermin dalam diri Apriono, ST, atau yang akrab disapa Bang Opi, anggota DPRK Aceh Besar yang dikenal dengan karakter kepemimpinan sederhana dan merakyat.

Menurut akademisi Universitas Iskandar Muda, M. Nur, Bang Opi bukan sekadar politisi biasa. Ia dinilai sebagai figur yang tumbuh melalui proses panjang, bukan dari jalur instan kekuasaan. 

Perjalanan hidupnya diwarnai pengalaman di berbagai sektor, mulai dari dunia kerja, organisasi, hingga akhirnya terjun ke dunia politik.

Karakter kepemimpinan Bang Opi dinilai unik karena memadukan pengalaman praktis, wawasan intelektual, serta kedekatan sosial dengan masyarakat. 

Kombinasi tersebut membuatnya mampu memahami kebutuhan riil warga sekaligus merumuskan solusi yang tepat sasaran.

Perjalanan politiknya dimulai sejak 2009 bersama Partai Aceh. Selama lebih dari satu dekade, ia membangun pengalaman politik yang kuat. 

Pada 2024, ia mengambil langkah penting dengan bergabung ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) beberapa hari sebelum penetapan Daftar Calon Tetap (DCT). 

Dalam perspektif komunikasi politik, keputusan ini mencerminkan keberanian sekaligus kemampuan adaptasi terhadap dinamika politik yang berkembang.

Dari sisi pendidikan, Bang Opi merupakan lulusan Teknik Mesin Universitas Iskandar Muda. Latar belakang ini membentuk pola pikir yang sistematis, terukur, dan solutif. 

Ia kemudian melanjutkan studi Magister Hukum Keluarga Islam di STIS NU Aceh, sebagai upaya memperkuat kapasitas intelektual di bidang hukum dan sosial.

Rekam jejak profesionalnya juga beragam. Ia pernah bekerja di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias sebagai staf aset, kemudian berkarier di Bank BRI. 

Selanjutnya, ia menjabat sebagai Direktur Utama PT Samana Citra Persada selama lebih dari satu dekade. 

Pengalaman lintas sektor ini menunjukkan kemampuannya dalam mengelola organisasi serta memahami kompleksitas sistem kerja.

Sebagai wakil rakyat, kontribusi Bang Opi terlihat melalui berbagai program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. 

Pada 2024, ia mendorong pembangunan 21 unit MCK di wilayah Deunong, Darul Imarah, dan Darul Kamal sebagai solusi atas persoalan sanitasi.

Pada 2025, ia kembali menunjukkan komitmennya dengan mendorong pembangunan irigasi, distribusi pupuk bagi petani, serta pembangunan talud. 

Program-program tersebut menegaskan keberpihakannya pada sektor pertanian dan infrastruktur lingkungan—dua sektor penting bagi kehidupan masyarakat.

Memasuki 2026, fokusnya tetap konsisten dengan mengupayakan bantuan pupuk, pembangunan jalan, serta penguatan berbagai kegiatan masyarakat. 

Pendekatan yang digunakan mencerminkan model pembangunan bottom-up, yakni kebijakan yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.

Di luar aktivitas politik, Bang Opi juga aktif dalam berbagai organisasi seperti PMI, Mapala UNIDA, dan HMI. 

Pengalaman ini membentuk karakter kepemimpinan yang responsif, komunikatif, serta memiliki jaringan sosial yang luas.

Kesederhanaan menjadi ciri khas utama Bang Opi. Ia dikenal mudah diakses, dekat dengan masyarakat, dan lebih mengedepankan kerja nyata dibandingkan retorika. 

Dalam konteks politik lokal, karakter ini menjadi modal sosial penting dalam membangun kepercayaan publik.

Dalam dinamika internal partai, Bang Opi juga disebut sebagai salah satu kandidat kuat untuk memimpin DPC PKB Aceh Besar. 

Dengan rekam jejak yang dimiliki, ia dinilai memiliki kapasitas teknokratis, pengalaman organisasi, serta legitimasi sosial untuk membawa partai semakin dekat dengan masyarakat.

Pada akhirnya, Apriono, ST mencerminkan model kepemimpinan yang tumbuh dari bawah, ditempa oleh pengalaman, dan dijalankan dengan kesadaran intelektual. 

Ia hadir bukan hanya sebagai wakil rakyat, tetapi juga sebagai bagian dari rakyat itu sendiri—mewujudkan politik yang lebih membumi, sederhana, dan bermakna. ()

Share:
Komentar

Berita Terkini