BEM FH Unaya Gelar Aceh Film Festival di Aceh Besar, Angkat Edukasi Budaya dan Pelestarian Rumbia

Editor: Syarkawi author photo

 

BEM Fakultas Hukum Universitas Abulyatama (Unaya) bersama Aceh Documentary menggelar Aceh Film Festival di Gampong Ateuk Angguk dan Cot Masam, Aceh Besar, sebagai ruang edukasi budaya melalui pemutaran film dokumenter dan diskusi bersama masyarakat. Salah satu isu yang diangkat ialah pentingnya menjaga kelestarian pohon rumbia sebagai bagian dari identitas budaya Aceh.

ACEH BESAR — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Abulyatama (Unaya) bersama Aceh Documentary menggelar Aceh Film Festival di Gampong Ateuk Angguk dan Cot Masam, Kabupaten Aceh Besar. 

Kegiatan ini menjadi ruang edukasi berbasis budaya melalui pemutaran film dokumenter dan diskusi bersama masyarakat.

Festival tersebut tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sosial bagi warga. Melalui film-film dokumenter karya anak daerah Aceh Besar, berbagai isu diangkat, mulai dari kehidupan masyarakat, lingkungan, hingga pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Kegiatan ini mendapat dukungan komunitas kreatif Aceh Documentary. Kolaborasi antara mahasiswa, pegiat film, dan masyarakat tersebut menjadi wujud nyata sinergi dalam menjaga dan memperkuat identitas budaya Aceh.

Ketua panitia kegiatan menyebutkan bahwa Aceh Film Festival hadir sebagai ruang edukasi publik yang memanfaatkan media visual untuk meningkatkan kesadaran sosial masyarakat.

“Film bukan hanya hiburan, tetapi juga media pendidikan. Melalui dokumenter, masyarakat dapat melihat realitas sosial dan lingkungan yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Antusiasme warga terlihat tinggi sejak awal kegiatan. Masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, hadir dan mengikuti rangkaian acara dengan penuh perhatian.

Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi terbuka antara warga, mahasiswa, dan pegiat film. 

Berbagai isu sosial dan perubahan lingkungan di wilayah setempat menjadi bahan pembahasan yang berlangsung hangat dan interaktif.

Salah satu film yang mendapat perhatian besar adalah dokumenter tentang pohon rumbia. Film tersebut mengangkat pentingnya rumbia sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Aceh, baik sebagai bahan bangunan tradisional, sumber pangan, maupun bagian dari warisan budaya lokal.

Namun demikian, film itu juga menyoroti ancaman terhadap keberadaan rumbia akibat alih fungsi lahan untuk pembangunan dan kebutuhan ekonomi lainnya. 

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya salah satu identitas ekologis dan budaya masyarakat Aceh.

Dalam diskusi, warga menekankan pentingnya upaya pelestarian rumbia secara berkelanjutan. Mereka berharap adanya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan tanaman tersebut sebagai bagian dari warisan budaya.

Melalui kegiatan ini, BEM FH Unaya menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran tidak hanya di ruang akademik, tetapi juga dalam mendorong kesadaran sosial di tengah masyarakat. 

Aceh Film Festival diharapkan dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak wilayah di Aceh sebagai media edukasi budaya dan lingkungan. (**)

Share:
Komentar

Berita Terkini