Kak Na Apresiasi Cokbang, Bukti Aceh Mampu Kelola Industri Kakao Hulu hingga Hilir

Editor: Syarkawi author photo

 


SABANG – Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir, mengapresiasi kehadiran gerai Cokbang di Kota Sabang. 

Menurutnya, usaha cokelat lokal tersebut menjadi bukti nyata bahwa Aceh mampu mengembangkan industri kakao secara mandiri, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Hal itu disampaikan perempuan yang akrab disapa Kak Na usai mengunjungi dan berdialog dengan pengelola Cokbang di Gampong Aneuk Laot, Kecamatan Sukakarya, Senin (11/5/2026) sore.

“Cokbang keren. Selain menjadi alternatif jajanan dan oleh-oleh khas Sabang, Cokbang yang merupakan unit usaha unggulan Koperasi Produsen Kakao Jaya Mandiri ini menjadi bukti nyata bahwa Aceh mampu menjalankan siklus produksi dari hulu hingga hilir,” kata Kak Na.

Ia menjelaskan, koperasi tersebut mengelola seluruh proses produksi secara mandiri, mulai dari budidaya kakao, panen, hingga pengolahan menjadi berbagai produk cokelat berkualitas.

“Tidak hanya memproduksi cokelat batangan, minuman cokelat, dan cokelat bubuk, kulit kakaonya juga dimanfaatkan menjadi minuman herbal yang diseduh seperti teh. Minuman ini memiliki kandungan antioksidan tinggi dan bermanfaat untuk menghambat penuaan dini,” ujarnya.

Kak Na juga mengajak wisatawan yang berkunjung ke Sabang untuk mampir ke gerai Cokbang sebagai salah satu destinasi oleh-oleh khas daerah.

“Ingat, belum ke Sabang kalau belum ke Cokbang. Kami mengajak wisatawan lokal maupun mancanegara datang dan membeli oleh-oleh cokelat khas Sabang di gerai Cokbang yang berada di Gampong Aneuk Laot,” katanya.

Sementara itu, Kepala Produksi Cokbang, Melan Deta Diansyah, mengatakan cita rasa khas produk Cokbang berasal dari biji kakao Sabang yang dibudidayakan oleh petani lokal binaan koperasi.

“Karakteristik biji kakao Sabang memiliki kadar lemak rendah, sekitar 1,6 persen. Hal ini membuat produk cokelat Cokbang lebih tahan lama dan memiliki cita rasa khas dibandingkan produk sejenis dari daerah lain,” ujar Melan.

Ia mengakui kapasitas produksi Cokbang masih terbatas karena keterbatasan bahan baku. Meski demikian, produk tersebut kini mulai dikenal luas dan diminati wisatawan.

“Wisatawan asal Malaysia sangat menggemari produk Cokbang. Beberapa kali mereka memborong produk kami saat berkunjung ke Sabang. Selain itu, masyarakat lokal juga sangat menyukai Cokbang,” katanya.

Menurut Melan, saat ini Cokbang telah memiliki 17 produk turunan berbahan kakao, termasuk minuman herbal dari kulit cokelat. 

Pihaknya juga berkomitmen terus membina petani kakao Sabang agar mampu menghasilkan bahan baku berkualitas tinggi.

Usai mengunjungi gerai Cokbang, Kak Na bersama rombongan melanjutkan kunjungan ke kebun salak milik Taha di Gampong Balohan, Kecamatan Sukajaya.

Bersama istrinya, Khanifah, Taha mengelola kebun salak seluas 300 meter persegi yang telah berusia sekitar 20 tahun dan masih produktif hingga kini.

Dalam kesempatan tersebut, Taha juga memperagakan proses penyerbukan bunga salak secara manual dengan memindahkan serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina.

“Petani salak dituntut rajin berkeliling untuk proses penyerbukan. Berarti para petani salak ini orang-orang rajin,” canda Kak Na.

Ia pun turut mempromosikan kebun salak tersebut kepada wisatawan yang datang ke Sabang.

“Kepada para wisatawan, silakan datang ke kebun salak Bang Taha. Salaknya manis dan harganya murah, hanya Rp25 ribu per kilogram,” ujar Kak Na.[]

Share:
Komentar

Berita Terkini